Skip to main content

Jakarta 07: Cowo Lutu

Baru pulang dari Jakarta, euy!

Sudah lebih dari setengah tahun saya tidak berkunjung ke ibukota. Hm, dan lebih tepatnya lagi, sudah lebih 6 tahun saya tidak having fun di Jakarta. Terakhir kali ke Jakarta tuh bulan Agustus 2006, job hunting! Jadi I spent less than one week berkunjung ke company demi company. Sebelumnya lagi tuh bulan Juni – Juli 2005, yang ini untuk kerjaan. Jadi isinya nemenin tamu-tamu yang notabene orang bule ke company demi company, lagi. So, there was no window shopping, no ngecengin cowo-cowo lutu, no ketemuan ama temen-temen untuk nge-lounge (new word for me), dan no wisata kuliner.

Kali ini fun, walaupun, again, less than one week di Jakarta (karena I spent 3 days in Bandung). Tapi kali ini lumayan puas. So, the main purpose of going to Jakarta this time was to watch Java Jazz Festival. Wow, it was the best!!! Untuk liputannya, maybe next time ya, karena bisa 3 halaman A4 untuk cerita Java Jazz festival. This time, Nie lebih pengen untuk underline what happened in Jakarta.

Cowok-cowok lutu.

Hehehe,.. ini always a good topic to talk about. Sebenarnya ke Jakarta ini bukan untuk hunting cowo, trust me! Karena my dearest Bang Tepy juga datang ke Jakarta, menemani saya nonton Java Jazz Festival (I know, honey, our relatioship is not cheap). Tapi Nie mau cerita suatu kisah yang sekarang pun masih bikin Nie 3S (senyum-senyum sendiri).

So, here goes the story. Nie kan nonton Marcus Miller di Java Jazz, pas itu barengan ama Ulma, Wasi (adeknya Ulma) dan temennya Wasi (maap dek, kakak lupa namamu sapa). Trus sebelum performance dimulai, Nia melayangkan pandang, mencari Bang Tepy yang, for sure, ada di antara jubelan penonton. Tiba-tiba, ada cowo yang cukup tinggi, berpenampilan lucu dan maniiiiss sekali! “ul, ul, ada cowo lutu, Ul!” Dan Nie pun mulai mendeskripsikan dimana dan gimana cowo lutu yang Nie maksud.

“Biasa aja, Nie.” Doh, Ulma seleranya berubah sekarang. Itu cowo kan lutu, begitu batinku. Tapi mungkin selera Nie emang unik. Yang pasti, senyum cowo ini manis sekali. So, sambil menunggu Marcus Miller tampir, Nie ngelirik-ngelirik ke belakang, dimana cowo lutu ini berdiri. Lalu, otak saya mulai bereaksi, “Ul, kayaknya itu Ello, deh!” “Ello tuh sapa?” Doh, Ulma! Maklum, maklum, Nie, si Ulma kan ga pulang Indo 2 taon. Ulma kayaknya lebih tau Ali B atau Marco Borsato deh! (heheheh, maap Ulm!). Sambil menjelaskan ke Ulma sapa tuh Ello, Nie sesekali melirik ke belakang, untuk memastikan apa itu bener-bener Ello. Ternyata, Nie melihat gelang kertas warna biru di lengan cowo lutu itu, bertuliskan ‘Artist’. Nah,.. kan,.. dia artist! Jadi, gak salah lagi dia tuh si Ello, tea’!

Jadinya, sepanjang nonton Marcus Miller, Nie sempat-sempatkan melirik ke belakang. Hehehhe,.. mumpung Bang Tepy lagi ga ada. Wekekek,.. tapi ga papa, kan, liat aja? Trus trus,.. (masih dengan semangatnya cerita), nonton Marcus Miller kan berjubel-jubel. Jadinya kita didorong ke belakang dan ke depan. Thus, in the end of the concert, Ello bener-bener berdiri di belakang Nie. Huee,.. cowo lutu!

"Eh, Bang Tepy mana ya?" (giggling)

Next post: Jakarta 07: Mall

Comments

Ulmster said…
posting perdana tripnya nia: cowo lutu.. ck ck ck..
mbok "Ketemu Ulma Lagi" kek :p hehehe
bu, kmrn ga jd potong rambut yak.. huhuh maab..

Popular posts from this blog

FENOMENA ACEH 07

Daster Batik Pagi itu Nie datang ke kantor disambut oleh kumpulan ibu-ibu yang tidak jelas dari mana dan mau apa. “Assalamualaikum” sapa Nie. “Waalaikumsalam” jawab kumpulan ibu-ibu itu serempak. Nie menyunggingkan senyum, berusaha menampilkan senyum yang termanis untuk mereka. Semakin aku masuk ke dalam kantorku, semakin banyak ibu-ibu yang duduk lesehan di depan kantorku. Nie bergegas masuk ke ruangan admin, ada Hetty dan Wardah di sana. “Dah, kenapa ada ibu-ibu itu di situ?” Nie bertanya ke Wardah asal muasal ibu-ibu itu. “Oh, Pak Welly menugaskan karyawan kita yang di lapangan untuk mencari ibu-ibu yang membutuhkan sumbangan baju daster. Ibu-ibu korban tsunami. Ya itulah, bu, ibu-ibu yang akan diberikan sumbangan baju daster.” Nie mencermati kumpulan ibu-ibu itu. Ada yang masih muda belia, ada yang sudah tua, entah apa rambutnya sudah putih semua karena uban, atau disemir hitam mengkilap. Aku tak tahu, karena semua ibu-ibu menutupi auratnya, dari kepala sampai ujung kaki. Jadi k...

What would you do if you could live another life

What would you do if you could live another life just for one day? This line is quoted from "Last Chance Harvey" . I have watched this film twice and still feel so touched everytime I watch it. Kate Walker, the main character in this film, uttered this question to Harvey Shine. In this story, both of them lived a life that is not very happy-chappy. Kate lived in a pathetic, boring life; Harvey in a screwed one. When Kate asked this question, both of them seem to ponder: what if I could live a different life, just for one day, just to try out. This question makes me ponder, too: what would I do if I was given a chance to live any kind of life I want, just for one day? Where would I be? What would I do? Who would I be? Lately I have been thinking about the life I am living right now. Everything is so well-planned. I graduated from high school, went abroad to study, came back home to work, went abroad again to do my master, working in a reasonably good organisation, and going ho...

Probable Answer

Phien, I came across this article, forwarded by a good friend of mine (thx Nat!) . It might be the answer for our BIG question yesterday. I hope it will answer some of your puzzle, at least it has answered some of my concerns today :) - thank God --- Did I Marry The Right Person? Cerita di bawah ini sangat bagus, bagi yang masih single maupun yang sudah menikah. Bagi mereka yang masih single bisa mengambil pelajaran dari cerita ini, dan bagi yang sudah menikah cerita ini bisa jadi guideline untuk meningkatkan ikatan pernikahan yang udah dijalani. 'Apakah saya menikah dengan orang yang tepat?' Dalam sebuah seminar rumah tangga, seseorang audience tiba-tiba melontarkan pertanyaan yang sangat lumrah, ' Bagaimana saya tahu kalo saya menikah dengan orang yang tepat? ' Saya melihat ada seorang lelaki bertubuh besar duduk di sebelahnya jadi saya menjawab 'Ya.. tergantung. Apakah pria disebelah anda itu suami anda?' Dengan sangat serius dia balik bertanya 'Bagaiman...