Skip to main content

Uh,.. romantis

Sudah hampir 8 tahun pacaran. Hal-hal yang dulunya romantis, sekarang sudah tidak begitu dianggap romantis. Hal-hal yang dulunya membuat deg-degan, sekarang sudah biasa-biasa saja.

Lha wong, sudah 8 tahun pacaran! Masak udah 8 tahun, telpon-telponan masih romantis??! Hehehe,… ngga kaleee! :P


Tapi tadi malam ada hal lutju, yang quite romantic, yang Oma alami. Jadi, lately Oma sering dengerin radio berfrekuensi 92.5 FM. Banyak lagu-lagu melo-belo yang enak-enak, kadang ada lagu-lagu tahun 90-an yang membangkitkan memory, lagu-lagu easy listening untuk meredam panasnya siang. Pokoknya, adem aja deh kalo dengerin radio ini!

Hari ini, mobil Bang Tepy kembali dari bengkel (setelah beberapa minggu ‘menginap’ di bengkel karena harus ganti pintu akibat kena ‘luka’ tabrakan). Nampaknya, radionya juga berganti setting-an.


Pas tadi malam, Oma bengong di mobil, nunggu Bang Tepy beli mie goreng, Oma cari-cari radio station yang lagunya enak-enak. Tiba-tiba, pas Oma mencet tombol nomor 4, tiba-tiba muncul frekuensi 92.5 FM.

Waahh,… ternyata Bang Tepy memperhatikan kalo Oma suka frekuensi ini, sehingga ia menyimpan frekuensi ini. Soo,.. Oma sekarang ngga perlu cari-cari frekuensi ini lagi. Tinggal klik angkat 4, dan voila! Muncullah 92.5 FM

How romantic!!! Ternyata si Abang Tepy masih perhatian padaku
Omaaaa,.....Apa cobaaa,…. hehehheheh

Comments

Popular posts from this blog

FENOMENA ACEH 07

Daster Batik Pagi itu Nie datang ke kantor disambut oleh kumpulan ibu-ibu yang tidak jelas dari mana dan mau apa. “Assalamualaikum” sapa Nie. “Waalaikumsalam” jawab kumpulan ibu-ibu itu serempak. Nie menyunggingkan senyum, berusaha menampilkan senyum yang termanis untuk mereka. Semakin aku masuk ke dalam kantorku, semakin banyak ibu-ibu yang duduk lesehan di depan kantorku. Nie bergegas masuk ke ruangan admin, ada Hetty dan Wardah di sana. “Dah, kenapa ada ibu-ibu itu di situ?” Nie bertanya ke Wardah asal muasal ibu-ibu itu. “Oh, Pak Welly menugaskan karyawan kita yang di lapangan untuk mencari ibu-ibu yang membutuhkan sumbangan baju daster. Ibu-ibu korban tsunami. Ya itulah, bu, ibu-ibu yang akan diberikan sumbangan baju daster.” Nie mencermati kumpulan ibu-ibu itu. Ada yang masih muda belia, ada yang sudah tua, entah apa rambutnya sudah putih semua karena uban, atau disemir hitam mengkilap. Aku tak tahu, karena semua ibu-ibu menutupi auratnya, dari kepala sampai ujung kaki. Jadi k...

What would you do if you could live another life

What would you do if you could live another life just for one day? This line is quoted from "Last Chance Harvey" . I have watched this film twice and still feel so touched everytime I watch it. Kate Walker, the main character in this film, uttered this question to Harvey Shine. In this story, both of them lived a life that is not very happy-chappy. Kate lived in a pathetic, boring life; Harvey in a screwed one. When Kate asked this question, both of them seem to ponder: what if I could live a different life, just for one day, just to try out. This question makes me ponder, too: what would I do if I was given a chance to live any kind of life I want, just for one day? Where would I be? What would I do? Who would I be? Lately I have been thinking about the life I am living right now. Everything is so well-planned. I graduated from high school, went abroad to study, came back home to work, went abroad again to do my master, working in a reasonably good organisation, and going ho...

God's Plan for My Slippers

Look at my cute slippers! Lucu banget, kan!  Slippers ini diberikan sebagai oleh-oleh, dari seorang sahabat yang pada saat itu baru pindah ke New Zealand . Kalau saya tidak salah, 4 atau 5 tahun lalu slippers ini diberikan. Saya adalah orang yang practical . Boro-boro pakai slippers di rumah, sandal jepit biasa pun tidak! Di dalam rumah, kami biasa nyeker alias tidak pernah pakai sandal. Jadi si slippers domba Selandia Baru yang baru ini resmi menjadi penunggu lemari baju. Setelah Axl lahir dan beranjak sedikit dewasa, slippers ini ditemukan tanpa sengaja. Axl suka sekali dan kerap memainkan slippers ini. Namun lagi-lagi, setelah beberapa minggu, si domba kembali menjadi penunggu lemari. Anak balita itu sangat gampang bosan! Sampai 1 bulan yang lalu. Di salah satu tempat ngantor saya yang baru, saya harus bekerja di ruangan yang super dingin! Tiba-tiba, saya teringat akan slippers domba ini! Ternyata benar, slippers ini bisa menghangatkan kaki saya dengan sempurna. D...