Skip to main content

Sedikit Bocoran About My Wedding

Semenjak merasa 'tertipu' dengan engagement Oma en Opa Tepy (eh iya, kayaknya lucu deh kalo Bang Tepy diganti Opa Tepy) yang tiba-tiba dan surprising, pasti kalian sudah mulai cari-cari clue, cari-cari tahu kira-kira kapan THE Wedding.

Mulai dari Andhika yang selalu curiga kalo ada foto kami berdua yang terlihat 'decent'. Pasti ditanya "hayo,.. foto pre-wedding ya???!!"

Atau kalo misalnya Oma nanya-nanya info tentang fotografer atau salon yang bagus, selalu pertanyaan balasan akan muncul "Hayooo,... mo married ya???"

Hehehheeh,... we love giving out surprises!

Nah, karena Oma lagi berbaik hati, ada sedikit bocoran tentang Our BIG and SPECIAL Day.

1. Kami memilih nikahan Outdoor
2. Lokasi di Indonesia tercinta. Kemungkinan besar di Bali (atau mau di Papua, ya? Pake adat Papua, biar irit! Hihihihihi) - jadi ayo mulai nabung dari sekarang :P


3. Oma sudah naksir 2 design baju pengantin. Hihihihi :P
4. Oma kurang suka baju pengantin putih-tih. Jadi, ini ada 2 pilihan: putih krem (warna mocca yang mudaaaa banget, mendekati kuning gading) atau putih silver (jadi kayak ada gradasi birunya gitu).
5. Sudah ada 2 candidate buat wedding photographernya. Tergantung budget.
6. Prisca sudah bersedia menjadi fotografer pre-wedding di Belanda. Buat yg di Indo, sudah ada 1 candidate.
7. Kami sudah menentukan tanggalnya. Siap-siap,.... kemungkinan besar, kami pengen married tanggal 29 Maret. Tahunnya? Hehehhehhe,... belum tau! Lulus kuliah dulu kaleeee.....

So far, ini dulu ya bocorannya. Wekekkeke,... ya, I will keep you posted deh,.. :P

Comments

Anonymous said…
Nah, gitu dong. Kalo tau jauh2 hari kan, aku bisa prepare bikin jas. Hehhe.. Ivan Gunawan oke kayakna.. Aku pokokna harus pakek jas yg MEMBAHANA, dan siap 'nimpring' dah. Hahaha......
pOe said…
seriusan? ckckck...kita perlu ngubrul nih ni kayaknya...

Popular posts from this blog

FENOMENA ACEH 07

Daster Batik Pagi itu Nie datang ke kantor disambut oleh kumpulan ibu-ibu yang tidak jelas dari mana dan mau apa. “Assalamualaikum” sapa Nie. “Waalaikumsalam” jawab kumpulan ibu-ibu itu serempak. Nie menyunggingkan senyum, berusaha menampilkan senyum yang termanis untuk mereka. Semakin aku masuk ke dalam kantorku, semakin banyak ibu-ibu yang duduk lesehan di depan kantorku. Nie bergegas masuk ke ruangan admin, ada Hetty dan Wardah di sana. “Dah, kenapa ada ibu-ibu itu di situ?” Nie bertanya ke Wardah asal muasal ibu-ibu itu. “Oh, Pak Welly menugaskan karyawan kita yang di lapangan untuk mencari ibu-ibu yang membutuhkan sumbangan baju daster. Ibu-ibu korban tsunami. Ya itulah, bu, ibu-ibu yang akan diberikan sumbangan baju daster.” Nie mencermati kumpulan ibu-ibu itu. Ada yang masih muda belia, ada yang sudah tua, entah apa rambutnya sudah putih semua karena uban, atau disemir hitam mengkilap. Aku tak tahu, karena semua ibu-ibu menutupi auratnya, dari kepala sampai ujung kaki. Jadi k...

What would you do if you could live another life

What would you do if you could live another life just for one day? This line is quoted from "Last Chance Harvey" . I have watched this film twice and still feel so touched everytime I watch it. Kate Walker, the main character in this film, uttered this question to Harvey Shine. In this story, both of them lived a life that is not very happy-chappy. Kate lived in a pathetic, boring life; Harvey in a screwed one. When Kate asked this question, both of them seem to ponder: what if I could live a different life, just for one day, just to try out. This question makes me ponder, too: what would I do if I was given a chance to live any kind of life I want, just for one day? Where would I be? What would I do? Who would I be? Lately I have been thinking about the life I am living right now. Everything is so well-planned. I graduated from high school, went abroad to study, came back home to work, went abroad again to do my master, working in a reasonably good organisation, and going ho...

God's Plan for My Slippers

Look at my cute slippers! Lucu banget, kan!  Slippers ini diberikan sebagai oleh-oleh, dari seorang sahabat yang pada saat itu baru pindah ke New Zealand . Kalau saya tidak salah, 4 atau 5 tahun lalu slippers ini diberikan. Saya adalah orang yang practical . Boro-boro pakai slippers di rumah, sandal jepit biasa pun tidak! Di dalam rumah, kami biasa nyeker alias tidak pernah pakai sandal. Jadi si slippers domba Selandia Baru yang baru ini resmi menjadi penunggu lemari baju. Setelah Axl lahir dan beranjak sedikit dewasa, slippers ini ditemukan tanpa sengaja. Axl suka sekali dan kerap memainkan slippers ini. Namun lagi-lagi, setelah beberapa minggu, si domba kembali menjadi penunggu lemari. Anak balita itu sangat gampang bosan! Sampai 1 bulan yang lalu. Di salah satu tempat ngantor saya yang baru, saya harus bekerja di ruangan yang super dingin! Tiba-tiba, saya teringat akan slippers domba ini! Ternyata benar, slippers ini bisa menghangatkan kaki saya dengan sempurna. D...