Skip to main content

News: Anak Douwes Dekker

Got this news from my yahoo group. I feel sorry for him. I mean, seriously, if your dad was a national hero, wouldn't you get at least a proper treatment?

Ah, it is only my humble opinion.

Maybe my nation has some other issues to tackle, like corruption, pornography, Century case, or Julia Perez being a governmental staff?

Anak Douwes Dekker Terlunta-lunta
Metro Siang / Sosbud / Jumat, 2 April 2010


Bangsa yang besar adalah bangsa yang tahu bagaimana menghargai jasa para pahlawannya. Namun, tampaknya pepatah itu tidak berlaku di Indonesia. Para pejuang, janda hingga anak mereka justru terpinggirkan. Salah satunya adalah putra dari Douwes Dekker.

Lelaki 65 tahun yang terbaring lemah di ICU Rumah Sakit Cipto Mangun Kusumo, Jakarta Pusat, ini bernama Koesworo Setiabudi. Dia anak terakhir Douwes Dekker atau yang lebih dikenal dengan nama Dokter Setiabudi. Pria tua ini terbaring lemah setelah menjalani operasi kanker usus yang telah lama dideritanya. Kini kondisinya terus stabil. Rencananya, ia akan dipindahkan ke ruang perawatan.

Yang menyedihkan, Koesworo terpaksa mengajukan surat keterangan miskin karena keterbatasan biaya. Lelaki yang fasih berbahasa Jawa dan Sunda ini mengaku, meski sang ayah adalah salah satu dari tiga serangkai, namun tak pernah sekalipun pemerintah mengapresiasi jasa sang ayah. Hanya seonggok surat dan piagam yang menyatakan bahwa nama sang ayah termasuk dalam daftar perintis kemerdekaan serta Bintang Mahaputra.

Sejak tahun 1950 atau sejak meninggalnya sang ayah, tidak ada tunjangan ataupun bentuk penghargaan lain sebagai ganti perjuangan sang ayah memajukan dunia pendidikan di Indonesia.

Semua perawatan telah diterima oleh Koesworo. Namun, ia tidak tahu bagaimana cara membayar tagihan rumah sakit. Koesworo mengaku tidak pernah menerima royalti atas buku-buku ayahnya yang diterbitkan kembali.

Ini adalah potret kecil sebuah bangsa yang hanya menghargai nilai, bukan warisannya. Jika para pahlawan ini tahu di masa depan, anak cucu mereka akan ditelantarkan pemerintah apakah mereka akan tetap berjuang demi Tanah Air ini.(DOR).

Source: Metro TV News

Comments

Popular posts from this blog

FENOMENA ACEH 07

Daster Batik Pagi itu Nie datang ke kantor disambut oleh kumpulan ibu-ibu yang tidak jelas dari mana dan mau apa. “Assalamualaikum” sapa Nie. “Waalaikumsalam” jawab kumpulan ibu-ibu itu serempak. Nie menyunggingkan senyum, berusaha menampilkan senyum yang termanis untuk mereka. Semakin aku masuk ke dalam kantorku, semakin banyak ibu-ibu yang duduk lesehan di depan kantorku. Nie bergegas masuk ke ruangan admin, ada Hetty dan Wardah di sana. “Dah, kenapa ada ibu-ibu itu di situ?” Nie bertanya ke Wardah asal muasal ibu-ibu itu. “Oh, Pak Welly menugaskan karyawan kita yang di lapangan untuk mencari ibu-ibu yang membutuhkan sumbangan baju daster. Ibu-ibu korban tsunami. Ya itulah, bu, ibu-ibu yang akan diberikan sumbangan baju daster.” Nie mencermati kumpulan ibu-ibu itu. Ada yang masih muda belia, ada yang sudah tua, entah apa rambutnya sudah putih semua karena uban, atau disemir hitam mengkilap. Aku tak tahu, karena semua ibu-ibu menutupi auratnya, dari kepala sampai ujung kaki. Jadi k...

What would you do if you could live another life

What would you do if you could live another life just for one day? This line is quoted from "Last Chance Harvey" . I have watched this film twice and still feel so touched everytime I watch it. Kate Walker, the main character in this film, uttered this question to Harvey Shine. In this story, both of them lived a life that is not very happy-chappy. Kate lived in a pathetic, boring life; Harvey in a screwed one. When Kate asked this question, both of them seem to ponder: what if I could live a different life, just for one day, just to try out. This question makes me ponder, too: what would I do if I was given a chance to live any kind of life I want, just for one day? Where would I be? What would I do? Who would I be? Lately I have been thinking about the life I am living right now. Everything is so well-planned. I graduated from high school, went abroad to study, came back home to work, went abroad again to do my master, working in a reasonably good organisation, and going ho...

Probable Answer

Phien, I came across this article, forwarded by a good friend of mine (thx Nat!) . It might be the answer for our BIG question yesterday. I hope it will answer some of your puzzle, at least it has answered some of my concerns today :) - thank God --- Did I Marry The Right Person? Cerita di bawah ini sangat bagus, bagi yang masih single maupun yang sudah menikah. Bagi mereka yang masih single bisa mengambil pelajaran dari cerita ini, dan bagi yang sudah menikah cerita ini bisa jadi guideline untuk meningkatkan ikatan pernikahan yang udah dijalani. 'Apakah saya menikah dengan orang yang tepat?' Dalam sebuah seminar rumah tangga, seseorang audience tiba-tiba melontarkan pertanyaan yang sangat lumrah, ' Bagaimana saya tahu kalo saya menikah dengan orang yang tepat? ' Saya melihat ada seorang lelaki bertubuh besar duduk di sebelahnya jadi saya menjawab 'Ya.. tergantung. Apakah pria disebelah anda itu suami anda?' Dengan sangat serius dia balik bertanya 'Bagaiman...