Skip to main content

A letter just for you

Dear my friend,

I thought that you were my friend – apparently I was wrong.

It is really annoying when someone ignored you and pretended that you don’t exist. I would only do that when that particular person is super annoying that I can no longer stand and talk to.

And you treat me exactly like this.

I thought we were friends, because friends wouldn’t do this. Friends would talk things and try to find the way out, but apparently I was wrong.

Does friendship exist? Because it seems that I started to lose some so-called friends lately.

Ah well, friend. I thought you were my real friend, but apparently I was such a fool. These 8 years definitely mean nothing to you, rite?

I guess the only thing that still exists now is a friend with benefit: when someone, whom you call a ‘friend’ is no longer beneficial for you, when that ‘friend’ is no longer your partner in crime, no longer share the same principles or belief, no longer ‘the friend that you used to know’, then you kick him or her out.

Okay, friend, so long.

From now on I have to accept the reality that you actually are not my friend anymore.

Farewell.

Nia

Comments

a.k.a. Nez said…
adjuuuh, kenapa toh buk kok depressed banget postingnya... sabar2. kapan ke Amsterdam lagi? nDe Jaren yuk, sama Elvin juga, lama tak bersua dirimu ;)
Oma Nia said…
AYOOOOOOOOO!!! ini bukan depressed, ini melo. hihihi XD mengexplore sisi sisi gelapku, nes. ayo, agustus kamu ga kmn2?
eddytj said…
semoga ini bukan surat untukku.

Popular posts from this blog

FENOMENA ACEH 07

Daster Batik Pagi itu Nie datang ke kantor disambut oleh kumpulan ibu-ibu yang tidak jelas dari mana dan mau apa. “Assalamualaikum” sapa Nie. “Waalaikumsalam” jawab kumpulan ibu-ibu itu serempak. Nie menyunggingkan senyum, berusaha menampilkan senyum yang termanis untuk mereka. Semakin aku masuk ke dalam kantorku, semakin banyak ibu-ibu yang duduk lesehan di depan kantorku. Nie bergegas masuk ke ruangan admin, ada Hetty dan Wardah di sana. “Dah, kenapa ada ibu-ibu itu di situ?” Nie bertanya ke Wardah asal muasal ibu-ibu itu. “Oh, Pak Welly menugaskan karyawan kita yang di lapangan untuk mencari ibu-ibu yang membutuhkan sumbangan baju daster. Ibu-ibu korban tsunami. Ya itulah, bu, ibu-ibu yang akan diberikan sumbangan baju daster.” Nie mencermati kumpulan ibu-ibu itu. Ada yang masih muda belia, ada yang sudah tua, entah apa rambutnya sudah putih semua karena uban, atau disemir hitam mengkilap. Aku tak tahu, karena semua ibu-ibu menutupi auratnya, dari kepala sampai ujung kaki. Jadi k...

What would you do if you could live another life

What would you do if you could live another life just for one day? This line is quoted from "Last Chance Harvey" . I have watched this film twice and still feel so touched everytime I watch it. Kate Walker, the main character in this film, uttered this question to Harvey Shine. In this story, both of them lived a life that is not very happy-chappy. Kate lived in a pathetic, boring life; Harvey in a screwed one. When Kate asked this question, both of them seem to ponder: what if I could live a different life, just for one day, just to try out. This question makes me ponder, too: what would I do if I was given a chance to live any kind of life I want, just for one day? Where would I be? What would I do? Who would I be? Lately I have been thinking about the life I am living right now. Everything is so well-planned. I graduated from high school, went abroad to study, came back home to work, went abroad again to do my master, working in a reasonably good organisation, and going ho...

God's Plan for My Slippers

Look at my cute slippers! Lucu banget, kan!  Slippers ini diberikan sebagai oleh-oleh, dari seorang sahabat yang pada saat itu baru pindah ke New Zealand . Kalau saya tidak salah, 4 atau 5 tahun lalu slippers ini diberikan. Saya adalah orang yang practical . Boro-boro pakai slippers di rumah, sandal jepit biasa pun tidak! Di dalam rumah, kami biasa nyeker alias tidak pernah pakai sandal. Jadi si slippers domba Selandia Baru yang baru ini resmi menjadi penunggu lemari baju. Setelah Axl lahir dan beranjak sedikit dewasa, slippers ini ditemukan tanpa sengaja. Axl suka sekali dan kerap memainkan slippers ini. Namun lagi-lagi, setelah beberapa minggu, si domba kembali menjadi penunggu lemari. Anak balita itu sangat gampang bosan! Sampai 1 bulan yang lalu. Di salah satu tempat ngantor saya yang baru, saya harus bekerja di ruangan yang super dingin! Tiba-tiba, saya teringat akan slippers domba ini! Ternyata benar, slippers ini bisa menghangatkan kaki saya dengan sempurna. D...