Skip to main content

Showing My True Color

Pernah hidup di dua benua yang berbeda, di tiga negara yang berbeda, lebih dari 5 kota yang berbeda membuat Oma menjadi orang yang memiliki mixed identity, campur bawur. Bukan identitas orang Indonesia tok! Bukan identitas orang Eropa tok! Tapi mixed!

Eiitss, tapi Oma menolak dibilang memiliki identitas bunglon, karena Oma berusaha untuk menjadi ‘who I really am’, ndak pretending, ndak munafik.

Di Indonesia, Oma selalu dibilang ‘orang bule’, karena kebiasaan, sifat dan pola pikir yang sudah tidak lagi cocok dengan orang Indonesia (menurut beberapa orang). Let’s say my parents. In the beginning, ketika Oma kembali tinggal di rumah, Oma merasa mereka overreacted: nanya pergi kemana, jam berapa, sama siapa; nanya pulang berapa, diantar siapa, kenapa pulang telat; dan nanyain hal-hal kecil-kecil yang ngga penting lainnya.

Coba bandingkan dengan kehidupan Oma di Belanda, yang sebodo amat mo pulang jam berapa, pergi sama siapa, naik apa. Mo ngga pulang, pulang pagi, pulang mabok pun ngga ada yang ngomelin! (Anyway, sudah ndak pernah lagi pulang mabok, cuma sekali dan terakhir kali terjadi di Exeter, UK. Not again! Pusing! Mana pulangnya harus jalan kaki deh waktu itu. Fool me!)

Trus, di Indo, khususnya di Surabaya, orang-orang terlalu pusing dengan apa yang orang lain pikirkan. Mereka juga pusing untuk menjadi part of ‘a group’. The bottom line is, beberapa orang Indonesia takut untuk menjadi beda.

Nah, beda kan? Ya, itulah yang membuat Oma kadang-kadang dijulukin ‘bule’, karena hal-hal dan pola pikir yang berbeda.

Di Belanda, Oma belum bisa dibilang bule Belanda, karena baru saja, teman Oma yang sudah cukup lama tinggal di sini, bilang bahwa pola pikir Oma berbeda.

Susah juga ya.
Hidup di berbagai negara yang berbeda, dengan culture and behavior yang varied, yang in the of the day, whether we want it or not, shape, or at least, affect, us. Membuat kita menjadi seperti sekarang.

Bukan salah bunda mengandung, tapi mungkin memang Oma yang merasa harus show her true color, ndak bisa menjadi bunglon di setiap culture atau tempat yang berbeda.

Oma ya Oma. Oma di Indonesia, sama Oma di Belanda, sama Oma kalo di Inggris adalah Oma yang sama. Teman-teman yang mengenal Oma di Indo, Belanda atau Inggris akan memiliki, more or less, the same description tentang Oma.

Kenapa sih Oma nulis posting ini?

Hm,… Oma lagi capek. Lagi baru aja bertengkar ama beberapa teman Oma. It made me thinking: apa Oma yang aneh? Apa memang Oma yang ndak lagi cocok berteman dengan my fellow Indonesians? Apa Oma yang sudah berubah terlalu jauh sehingga ngga bisa mengerti pola pikir orang Indonesia? Atau Oma yang terlalu cynical?

Oma ndak tau. Yang pasti, Oma adalah Oma. Dan rasanya, lebih penting memiliki identitas sebagai Anak Tuhan atau Orang Kristen, ketimbang memiliki identitas duniawi yang membuat bingung. Karena sebagai Anak Tuhan dan Orang Kristen, kita pasti memiliki nilai-nilai positif, melakukan dan memikirkan hal-hal yang membangun dan positif.

Now, the question is, do I have that identity?

Comments

Popular posts from this blog

FENOMENA ACEH 07

Daster Batik Pagi itu Nie datang ke kantor disambut oleh kumpulan ibu-ibu yang tidak jelas dari mana dan mau apa. “Assalamualaikum” sapa Nie. “Waalaikumsalam” jawab kumpulan ibu-ibu itu serempak. Nie menyunggingkan senyum, berusaha menampilkan senyum yang termanis untuk mereka. Semakin aku masuk ke dalam kantorku, semakin banyak ibu-ibu yang duduk lesehan di depan kantorku. Nie bergegas masuk ke ruangan admin, ada Hetty dan Wardah di sana. “Dah, kenapa ada ibu-ibu itu di situ?” Nie bertanya ke Wardah asal muasal ibu-ibu itu. “Oh, Pak Welly menugaskan karyawan kita yang di lapangan untuk mencari ibu-ibu yang membutuhkan sumbangan baju daster. Ibu-ibu korban tsunami. Ya itulah, bu, ibu-ibu yang akan diberikan sumbangan baju daster.” Nie mencermati kumpulan ibu-ibu itu. Ada yang masih muda belia, ada yang sudah tua, entah apa rambutnya sudah putih semua karena uban, atau disemir hitam mengkilap. Aku tak tahu, karena semua ibu-ibu menutupi auratnya, dari kepala sampai ujung kaki. Jadi k...

What would you do if you could live another life

What would you do if you could live another life just for one day? This line is quoted from "Last Chance Harvey" . I have watched this film twice and still feel so touched everytime I watch it. Kate Walker, the main character in this film, uttered this question to Harvey Shine. In this story, both of them lived a life that is not very happy-chappy. Kate lived in a pathetic, boring life; Harvey in a screwed one. When Kate asked this question, both of them seem to ponder: what if I could live a different life, just for one day, just to try out. This question makes me ponder, too: what would I do if I was given a chance to live any kind of life I want, just for one day? Where would I be? What would I do? Who would I be? Lately I have been thinking about the life I am living right now. Everything is so well-planned. I graduated from high school, went abroad to study, came back home to work, went abroad again to do my master, working in a reasonably good organisation, and going ho...

God's Plan for My Slippers

Look at my cute slippers! Lucu banget, kan!  Slippers ini diberikan sebagai oleh-oleh, dari seorang sahabat yang pada saat itu baru pindah ke New Zealand . Kalau saya tidak salah, 4 atau 5 tahun lalu slippers ini diberikan. Saya adalah orang yang practical . Boro-boro pakai slippers di rumah, sandal jepit biasa pun tidak! Di dalam rumah, kami biasa nyeker alias tidak pernah pakai sandal. Jadi si slippers domba Selandia Baru yang baru ini resmi menjadi penunggu lemari baju. Setelah Axl lahir dan beranjak sedikit dewasa, slippers ini ditemukan tanpa sengaja. Axl suka sekali dan kerap memainkan slippers ini. Namun lagi-lagi, setelah beberapa minggu, si domba kembali menjadi penunggu lemari. Anak balita itu sangat gampang bosan! Sampai 1 bulan yang lalu. Di salah satu tempat ngantor saya yang baru, saya harus bekerja di ruangan yang super dingin! Tiba-tiba, saya teringat akan slippers domba ini! Ternyata benar, slippers ini bisa menghangatkan kaki saya dengan sempurna. D...