22 June 2007

No matter what, I'M WITH U

Pagi ini, Gmail menyuguhi Nie dengan beberapa menu pilihan e-mail dari beberapa teman. Namun, yang paling atas, berjudul “Bacaan ringan: saya bersamamu sayang” dari salah seorang teman, Donnie.

Maybe it is good to start your day, or even end your day.
Karena maknanya dalemmm banget.


***

Seorang anak lahir setelah 11 tahun pernikahan. Mereka adalah pasangan yang saling mencintai dan anak itu adalah buah hati mereka. Saat anak tersebut berumur dua tahun, suatu pagi si ayah melihat sebotol obat yang terbuka. Dia terlambat untuk ke kantor maka dia meminta istrinya untuk menutupnya dan menyimpannya di lemari. Istrinya, karena kesibukannya di dapur sama sekali melupakan hal tersebut.

Anak itu melihat botol itu dan dengan riang memainkannya. Karena tertarik dengan warna obat tersebut lalu si anak memakannya semua. Obat tersebut adalah obat yang keras yang bahkan untuk orang dewasa pun hanya dalam dosis kecil saja. Sang istri segera membawa si anak ke rumah sakit. Tapi si anak tidak tertolong. sang istri sangat takut dan ngeri membayangkan bagaimana dia harus menghadapi suaminya.

Ketika si suami datang ke rumah sakit dan melihat anaknya yang telah meninggal, dia melihat kepada istrinya dan mengucapkan 3 kata.

PERTANYAAN :
1. Apa 3 kata itu ?
2. Apa makna cerita ini ?


JAWABAN :

Sang Suami hanya mengatakan "SAYA BERSAMAMU SAYANG" Reaksi sang suami yang sangat tidak disangka-sangka adalah sikap yang proaktif. Si anak sudah meninggal,tidak bisa dihidupkan kembali. Tidak ada gunanya mencari-cari kesalahan pada sang istri, lagipula seandainya dia menyempatkan untuk menutup dan menyimpan botol tersebut maka hal ini tidak akan terjadi.

Tidak ada yang perlu disalahkan. Si istri juga kehilangan anak semata wayangnya. Apa yang si istri perlu saat
ini adalah penghiburan dari sang suami dan itulah yang diberikan suaminya sekarang.

Jika semua orang dapat melihat hidup dengan cara pandang seperti ini maka akan terdapat jauh lebih sedikit permasalahan di dunia ini. "Perjalanan ribuan mil dimulai dengan satu langkah kecil" Buang rasa iri hati, cemburu, dendam, egois dan ketakutanmu. Kamu akan menemukan bahwa sesungguhnya banyak hal tidak sesulit yang kau
bayangkan.

MORAL CERITA

Kadang kita membuang waktu hanya untuk mencari kesalahan orang lain atau siapa yang salah dalam sebuah hubungan atau dalam pekerjaan atau dengan orang yang kita kenal.

Hal ini akan membuat kita kehilangan kehangatan dalam hubungan antar manusia.


***

Bagi Nie yang kemarin habis ‘perang’ ama Bang Tepy, agaknya sedikit ‘tersindir’ dengan renungan ini. Karena emang gampang banget buat kita menyalahkan orang lain. Kayaknya satu jari telunjuk ini lebih gampang menunjuk ke orang lain.

Contohnya kemarin, memang Bang Tepy nyebelin banget. Setelah 2 hari perang, yang Nie tau adalah Bang Tepy yang salah. Bang Tepy juga nyadar kalo dia yang bikin Nie be-te. Tapi, Nie terlalu marah dan terlalu sombong untuk memaafkan. Second, karena fokusnya adalah “Nie yang bener dan Bang Tepy yang salah”, Nie always pointed my finger to him.

Alhasil, in the end, Bang Tepy marah, karena Nie ternyata memperlakukan Bang Tepy dengan tidak layak: marah-marah, omongannya jahat banget, sampai mempermainkan dia.

Hm,.. ternyata Nie juga punya salah.

So, ada baiknya, kalo ada masalah, ada perang gede ma nyokap, bokap, pacar or temen, diem dulu. Tenang dulu! But, don’t run away from the problem (like what I used to do), tapi try to solve it another time, mungkin besoknya or malamnya (like what I am trying to do now).

Buat Bang Tepy, who apparently would never read this Blog if I don’t tell him to, I am very sorry. Thanks for the conflict resolution.

14 June 2007

Are you or Are you NOT?

Waktu doeloe Nie masih menjadi penghuni Die-Ka, pernah kami membahas topik 'integritas'. Apa sih Integritas itu? In my opinion, Intregitas is not only being yourself, tapi juga being true to yourself. Nah, tadi pagi, pas buka GMail, eh, ada e-Leadership yang lagi membahas masalah 'Integritas'.

Integritas dimengerti sebagai "completeness, wholeness, unified, dan entirety", semuanya merujuk pada keutuhan. Keutuhan yang dimaksud adalah keutuhan dari seluruh aspek kehidupan, terutama antara perkataan dan perbuatan.

Sahabat Nie, Yakobus mendefinisikan integritas sebagai "sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun". Iman dan perbuatan adalah satu. Bahkan dari perbuatannya, orang lain dapat melihat imannya.

Integritas tidaklah sama dengan citra diri (image). "Image" adalah persepsi orang mengenai diri kita, sedangkan integritas adalah siapa diri kita sesungguhnya. Bila kita memusatkan seluruh daya upaya, pikiran, dan waktu untuk memperlihatkan sebuah "image" palsu kepada orang lain, kita berisiko kehilangan integritas.

Konsistensi antara perkataan dan perbuatan, sama seperti istilah TI yang disebut WYSIWYG (what you see is what you get). Jika orang lain mendapati inkonsistensi dalam perkataan dan perbuatan kita, mereka melihat kita sebagai orang yang munafik.

Trus, selaen itu, orang yang berintegritas tidak memiliki sesuatu yang ditutup-tutupi atau disembunyikan. Di kantor dia baek, di luar dia juga baek. Di rumah ibadah dia alim, di kantor dia juga alim.

So, Am I holding to my integrity? Hm,...


These next questions akan membantu kamu dalam mengukurintegritas kamu. Janganlah terlalu cepat menjawab setiap pertanyaan yang ada. Jika pengembangan karakter merupakan bidang kebutuhan yang serius dalam kehidupan kamu, mungkin kecenderungan kamu adalah membaca pertanyaan-pertanyaan itu sambil lalu, memberikan jawaban-jawaban yang menggambarkan bagaimana yang kamu angankan mengenai siapa kamu sesungguhnya. Luangkan waktu untuk merenungkan masing-masing pertanyaan itu dan mempertimbangkannya dengan jujur sebelum menjawab. Lalu upayakanlah bidang-bidang di mana kamu paling susah.

1. Seberapa baikkah saya memperlakukan sesama, andaikata saya tidak mendapatkan apa-apa?
2. Apakah saya transparan terhadap sesama?
3. Apakah saya mengganti peran sesuai dengan lawan bicara saya?
4. Apakah saya ketika di bawah sorotan dan ketika sendirian adalah orang yang sama?
5. Apakah saya segera mengakui kesalahan saya tanpa ditekan?
6. Apakah saya mendahulukan sesama daripada agenda pribadi saya?
7. Apakah saya mempunyai stkamur yang tetap untuk keputusan-keputusan moral, atau apakah keadaan yang menentukan pilihan-pilihan saya?
8. Apakah saya mengambil keputusan-keputusan sulit, sekamuinya pun itu mengandung pengorbanan pribadi?
9. Ketika ada sesuatu yang ingin saya bicarakan tentang sesama saya, apakah saya bicara langsung kepada yang bersangkutan, atau membicarakan tentang yang bersangkutan?
10. Apakah saya pertanggungjawabkan setidaknya kepada satu orang apa yang saya pikirkan, katakan, dan perbuat?


Sumber diambil dan diedit seperlunya dari:
Judul buku: Relationship 101
Judul bab : Pertumbuhan Hubungan
Penulis : John C. Maxwell
Penerjemah: Drs. Arvin Saputra
Penerbit : Interaksara, Batam Centre 2004
Halaman : 87 -- 88

Nah, semoga sekarang makin belajar untuk jadi orang yang berintegritas! Ndak bermuka dua. Ndak punya dua sisi, walaupun tetep harus baca Blog Sisi Lain :P