18 October 2007

Blame others but me!

Kadang kala, kita punya sejuta excuse untuk apa yang terjadi dalam kehidupan kita.
Kita ambil contoh Nie yang tiba-tiba punya sejuta jerawat di wajah (sorry for exaggerating). Entah bagaimana dan kenapa bentol-bentol kecil bernama jerawat itu tiba-tiba bermunculan. Yang pasti, selama beberapa minggu, muka-muka Nie dipenuhi jerawat, yang hilang dan timbul secara bergantian. Aneh.

Mulai dari cara pengobatan yang paling canggih bernama pembersih muka, obat jerawat, dan anti bacterial spray, sampai ke pengobatan dari dalam beranama detoxification, obat dan vitamin khusus untuk wajah dan kulit, semuanya Nie lakukan. Nie yang sempat berganti-ganti pembersih muka akhirnya kembali ke pembersih muka ‘traditional’, yaitu baby oil.

Sayang sungguh sayang, semua itu sia-sia. Jerawat tetap muncul. Walaupun akhirnya mereka muncul dalam wujud yang sedikit lebih sopan, lebih kecil dan tidak berwarna merah muda mencolok. Tapi they did still exist!

Akhirnya Nie memutuskan untuk ke dokter kulit (please get your camera, mark on your agenda or anything, to memorize this moment). Yap, Nie ke dokter kulit, minggu lalu, hari Kamis tanggal 11 Oktober 2007. Kalian mungkin tau banget kalo Nie malas and anti untuk hal-hal yang berbau-bau kecantikan, perawatan wajah dan tubuh (kecuali spa yang sudah bikin Nie kecanduan), apalagi yang namanya DOKTER – Dokter Kulit. First, Nie anti sama manusia yang memakai jubah putih hanya supaya dia terlihat lebih keren dan bisa dipanggil ‘dokter’. Second, Nie anti sama perawatan kulit dan kecantikan yang terlihat dan terdengar sia-sia, mahal, dan PAINFUL!

Singkat cerita, karena jerawat, Nie akhirnya menyerah. Nie ke dokter kulit. Mr C, the doctor, langsung bilang bahwa banyak lemak-lemak yang tidak bisa keluar di wajah, akhirnya mereka tertimbun menjadi jerawat yang mirip komedo (or vice versa, I don’t care!). Muka Nie dipencet-pencet, ditusuk-tusuk! Auw,.... beauty is painful indeed.

Nie pulang membawa berbagai macam cream dan obat cuci muka. Tanggal 12 Oktober, besoknya, Nie libur selama 5 hari. Aneh bin ajaib, jerawat-jerawat itu berhenti muncul! Selama liburan, seberapapun malasnya Nie merawat wajah, jerawat-jerawat itu tidak muncul!

Apakah itu karena obat-obatan Mr. C yang sangat ampuh? Atau karena yang lain?

Nie jadi berpikir, akhir-akhir ini banyak sekali hal yang terjadi di kantor yang bikin Nie cuma bisa mengelus dada, mengelus dada lagi, lagi dan lagi. Untung belum sampek nangis. Nie jadi berpikir lagi, apa mungkin gara-gara Nie libur, Nie jadi tidak berjerawat?

So, is working equals jerawat? Is jerawat equals stress?

Dengan iseng dan asal, Nie berkesimpulan kalo Nie ngga kerja, Nie ngga stress dan Nie ngga akan jerawatan. So, gimana caranya supaya Nie ga jerawatan lagi? Ya, gampang! Ngga usah kerja! Hehehe,...

Kayaknya gampang sekali menyalahkan yang ‘lain’ but us. Kayaknya lebih melegakan kalo tau bahwa penyebab sebuah kesalahan atau kelalaian adalah BUKAN kita. Life seems more beautiful.

Selain masalah jerawat, Nie sering banget menyalahkan jam weker yang tidak berbunyi kalo Nie telat bangun. Padahal jelas-jelas jam weker tuh sudah di snooze berulang-ulang sampek akhirnya, ketika ditanya “do you want to turn off your alarm?”, I pressed ‘yes’, by accident. Ya, by accident, karena Nie masih ngantuk banget karena semalem melalap habis serial Heroes seri 1. Hehehe, pengakuan dosa.

Sejujurnya, masih banyak kejadian dalam kehidupan kita yang sebenarnya sangat bodoh, karena kita either menyalahkan benda mati yang jelas-jelas tak bercela dan tak berdosa atau menyalahkan keadaan yang actually just evolves around us by nature – it just happens to be that way.

Pernah ngga denger temen atau rekan kerja yang ditegur karena tidak bisa meet the deadline? Ada satu temen Nie yang pernah menjawab, “iya, Bu. komputer saya kemasukan virus. Jadi tidak bisa kerja.” Halooo,.. apa ngga ada komputer laen? Apa ngga bisa pinjem laptop kantor?

Atau ada ngga teman kalian yang menyalahkan hujan, suatu kejadian alam yang diciptakan Tuhan, yang terjadi di hampir semua belahan bumi? “Sorry kemarin hujan, Pak. Jadi saya tidak bisa ikut mata kuliah yang Bapak berikan kemarin.” Weleh, weleh,...apa kendaraan umum sudah musnah? Kalo kita hanya punya alat transportasi sepeda motor, dan hujan lagi pas deras-derasnya, coba deh nebeng temen atau kalo terpaksa, naek lah angkot atau taxi (kalo pas tanggal muda). Yang penting, ada usaha!

Lebih parahnya lagi, kalo kita menyalahkan orang lain. Kenapa Nie sebut lebih parah? Karena hal ini bukan hanya meng-expose kebodohan kita yang tidak mau menyalahkan diri sendiri, tapi juga menyakiti orang lain dengan kebodohan kita itu. Contohnya nih, kita telat datang rapat. Trus kita bilang sama pemimpin rapat, “Wah, saya mohon maaf. Saya ngga tahu kalau meeting-nya jam 2 siang. Soalnya sekretaris saya menuliskan di agenda kalau saya punya meeting jam 2.30. Dia pun tadi tidak mengingatkan saya.” Nah,.. jadi deh sekretarisnya yang salah! Iya kalo emang bener sekretarisnya yang salah. Kalo ternyata dia yang lupa? Hm,... dosanya jadi dobel!

So, coba deh kita mulai lebih berlapang dada untuk mengakui kesalahan kita. Jangan salahkan pintu, jangan salahkan agenda, jangan salahkan keadaan pulsa Anda yang kurang dari 300 rupiah, jangan pula salahkan hujan, angin, petir atau panas, terlebih lagi, hindari menyalahkan orang lain.

Apabila Anda memang bersalah, cukup katakan, “Maaf, saya yang salah. Saya tidak akan melakukannya lagi.” And all your mistakes that you just did are wiped out instantly.

So, for sure, bukan pekerjaan Nie yang bikin jerawat. Maybe, I am just too stress to think of my plan on March 2008. Hehehhee

2 October 2007

Tentang Rumput Saya

Pernah melihat rumput tetangga yang lebih hijau? Pasti pernah, karena memang hal ini memang sangat manusiawi.

Menjadi seorang wanita, seorang wanita muda, bukanlah suatu hal yang mudah. Banyak sekali film, sinetron, cerpen, novel, chicklit, you name it, yang membahas tentang kehidupan remaja cewek atau wanita muda.. Mulai dari masalah putus cinta, kelebihan berat badan, broken home, sampai selingkuh. Selalu saja ada drama dalam kehidupan seorang wanita yang bisa dibuat ide sebuah film atau novel.

Menjadi seorang wanita memang sangat tricky. Nie, sebagai ‘not a girl not yet a woman’ woman, mengalami kehidupan yang banyak sekali ‘ups and downs’- nya. Nie yang bertinggi badan 160an dan berat yang cukup proporsional, kadang merasa sangat minder dengan bentuk tubuh Nie, terutama mengingat obsesi Nie waktu masa muda, pengen jadi model. Berat badan Nie yang bisa dibilang okay, selalu saja terlihat lebih apabila Nie berdiri di depan cermin.

Ada orang lain, yang memiliki badan sekurus model dan tinggi semampai merasa kurang dengan dirinya. In fact, dia adalah salah seorang roommate Nie selama 1 minggu di Jakarta. Dia bilang, “I wish I had your body. It is sexier than mine.” What? My body? Sexy? You must be hallucinating, pikir Nie waktu itu. Stefy yang mendengar cerita Nie aja ketawa ngakak dan menghina Nie abis-abisan. (And maybe you are now!)

I don’t know whether she gave a sincere comment, but the point is kadang kita ngga puas dengan apa yang kita punya and, sadly, someone else could die to have what we have.

Nie always wish untuk menjadi someone yang lebih calmer, lebih behave. Nie orang yang cablak, yang suka teriak-teriak, yang kalo ketawa ngakak. Nie pengen bisa jadi orang yang lebih tenang, yang lebih bisa mengatur gerak-gerik, nggak pencilakan, kalo orang jawa bilang. But, no,.. Nie is still Nie. Nie equals rame. But, ada orang yang would die for having ‘talents’ like mine. Orang yang pengen banget bisa PD ngomong di depan umum, yang bisa hang out ama sapa aja.

Again, there are some people that would die to have what we have that we ain’t proud of. Yap, life seems so unfair for some of us.

But, life is actually very fair. It is just how we accept it.

Stefy once shot his best joke to one couple, “yes, life is fair. She (pointed the girl) has a lot of strengths and less weakness. And you (pointed the boy) has less strengths and lots of weaknesses.”

Hehehe *laughing* No, it doesn’t work that way. Tuhan ngga sejahat itu.

Semua itu tergantung bagaimana kita melihat kekurangan kita sebagai suatu kelebihan yang belum terpoles.

Misalnya beberapa dari kita memang memiliki kelebihan – kelebihan lemak – alias overweight. Jangan melihat itu sebagai suatu kekurangan, karena ketika kita melihatnya sebagai suatu kekurangan, kita akan give up and accept it, saying “yeah,… it is me!” Tapi, lihatlah itu sebagai unpolished diamond. Kita harus work out supaya badan kita terlihat lebih berbentuk, sedikit mengatur porsi makan dan voila,… kita memiliki badan yang berbeda!

Atau mungkin itu juga tergantung bagaimana kita memberikan penilaian terhadap diri kita. Berapa nilai yang kita berikan untuk diri kita?

Banyak dari kita yang memberikan nilai yang rendah terhadap diri kita sendiri. Banyak orang yang feeling inferior, feeling that himself is no one, is nothing! Nie pun dulu pernah berada di posisi ini. Nie pernah merasa kalo Nie ngga bisa apa-apa, tampang juga ngga cantik, not talented, and useless.

Masakan kita mau memberikan nilai rendah terhadap diri kita sendiri?? Kalo kita merendahkan diri kita, gimana kita bisa mengharapkan orang lain menghargai kita? Apa mereka bakalan ngasih nilai ‘tinggi’ buat kita? No, they wouldn’t!

Ayo, kita belajar untuk lebih menyayangi diri kita sendiri, karena di saat kita bisa menyayangi diri kita, apa adanya, kita akan lebih bisa menyayangi orang lain, sincerely.

For the girls, yap, Girl power! Kita harus bisa menjadi wanita-wanita yang berbeda, wanita yang lebih menyayangi dirinya sendiri, sehingga kita bisa lebih menyayangi orang-orang di sekitar kita dan bisa membuat perubahan di dunia ini.

That’s what we call the circle of compassion!

Yes, he can


He said he can be my hero :P