30 December 2006

Met Taon Baru



Instead of making a New Year's resolution
Consider committing to a biblical solution
Your promises are easily broken
Empty words, though earnestly spoken
But God's Word transforms the soul
By His Holy Spirit making you whole
As you spend time alone with Him
He will change you from within

-- Mary Fairchild

22 December 2006

Happy Mother's day

Ibu, Anak, dan Cinta

Inilah waktu yang tepat
Seorang anak ingin mencari jati dirinya
Bantulah dengan penuh ikhlas

Cinta seorang anak kepada ibu
Adalah hati nurani
Demikian juga cinta seorang ibu kepada anak

Ibu ….
Biarlah anakmu mencari jati dirinya
Biarlah anakmu menempuh jalan hidup sendiri

Hanya doa ibu yang aku harapkan

Janganlah bersedih
Melihat anakmu pergi
Mencari jati diri, menempuh jalan hidup sendiri

Ibu ….
Anakmu bangga
Punya ibu sepertimu

[taken from www.sarikata.com]

19 December 2006

Burung itu...

percayalah kasih
cinta tak harus memiliki
walau kau dengannya
namun ku yakin hatimu untukku
percayalah kasih
cinta tak harus memiliki
walau kau coba lupakan aku
tapi ku kan slalu ada untukmu

(Ecoutez – Percayalah)

Aku tidak pernah mengerti kenapa aku bisa menyayangimmu sedemikan rupa. Saat itu, kali pertama aku menatap dua bola matamu. Aku seakan menatap sebuah jawaban dari segala pencarianku. Saat aku melihat tingkah ucapmu, seakan aku sudah yakin dimana aku akan berlabuh.

Pada saat itu, aku belum mengenal dirimu. Hanya cerita tentangmu yang sering kudengar. Ah, aku rasa itu sudah cukup untuk mengenalmu. Karena kamu begitu unik, menarik.
Saat aku tahu bahwa kamu telah memiliki seseorang dalam hidupmu, aku tidak takut. Karena keyakinanku begitu besar: engkaulah pelabuhan terakhirku. Mungkinkah anjing menikahi kucing? Atau burung menikahi kura-kura? Kita adalah burung-burung berwarna putih bersih. Mungkin burung merpati.

Hidupmu bebas. Begitu juga hidupku. Aku mendengar engkau adalah wanita perantau sejati. Saat ibumu menghembuskan nafasnya untuk terakhir kali, engaku seperti burung yang sudah siap lepas dari induknya. Engkap mengepakkan sayapmu untuk yang pertama kalinya, terbang seorang diri. Perantauanmu dimulai dari kota Semarang. Di sanalah engkau mengecap indahnya dunia, bebas dari ayah bunda. Di sanalah engaku berikrar mempersembahkan hidupmu untuk masyarakat. Ah, sungguh mulia.

Aku pun sepertimu. Aku suka terbang. Tapi indukku baik-baik saja, mereka lah yang sangat mendukung perjalananku ke dunia lain. Di ibukotalah aku memilih untuk memintal sangkarku yang pertama. Petikan gitar yang katanya hanya mampu membeli sekotak rokok atau secangkir kopi dan pisang goreng, ternyata mampu menghadirkan sebuah mobil Mitsubishi Galant tahun 1997. Tidak mewah, namun cukup untuk membawaku datang ke kota kelahiranmu.
Sekali lagi, aku tidak takut akan siapapun yang bersiap menyandingmu, karena aku yakin, engkaulah pelabuhanku.

Entah keyakinanku yang mati rasa atau aku memang manusia bodoh, tapi semua kalkulasiku meleset. Tidak sedikit usaha yang kulakukan untuk terbang bersamamu, untuk menyelami pikiranmu, dan untuk mendapatkan cintamu. Awalnya kulihat kamu mulai menyadari bahwa ada burung sejenis yang bersedia terbang bersamamu. Membawamu ke masa depan yang penuh dengan liku-liku kehidupan. Tapi bahagia. Kamu mulai sadar bahwa monyet, kura-kura, atau ular tidak pernah bisa terbang. Mereka akan diam dan nyaman saja di komunitasnya. Sedangkan kamu adalah petualang, kamu ingin terbang.

Tapi kura-kura, monyet, ular, buaya, anjing atau siapapun dia, telah menaburkan racun di hatimu. Atau dia mungkin lebih jahat dari itu? Dia sudah mematahkan sayapmu, menjual impianmu di pasar loak? Atau dia malah memotong paruhmu dan menjualnya ke museum? Kamu memilih untuk tinggal bersamanya. Kamu memilih untuk melahirkan anak-anaknya. Tidak! Tidak! Kamu lah pelabuhanku, wahai sang merpati! Sekali lagi tidak, kamu harus denganku.

Sepekan, dua pekan, dan entah berapa pekan aku menantimu. Aku menantimu bermain-main di sangkarku. Aku menanti kita bercuit-cuit bersama, menggoyangkan sayap-sayap kita, bermain terbang-terbang mengelilingi sangkar, atau hanya sekedar memakani biji-bijian di rumput. Seperti waktu itu. Aku kangen.

Pelahan-lahan, aku mulai menyadari kebodohanku. Pelahan, aku mengepakkan sayapku, kembali ke sangkar lamaku. Mencari wanita lain, yang memiliki mata yang sama, yang memiliki tingkah ucap yang sama, sambil terus berharap, suatu saat Tuhan menyadari bahwa Ia telah membuat kesalahan yang besar.

Dan aku pun bernyanyi,..

15 December 2006

Menjelang Natalan

Kapanlagi.com
Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Adang Firman mengatakan, Polda Metro Jaya akan mengerahkan dua pertiga personilnya atau sekitar 18 ribu untuk mengamankan hari raya Natal 2006 dan tahun baru 2007.

"Dengan pengamanan itu kita berharap tidak akan ada bom yang meledak pada malam Natal atau tahun baru," kata Adang Firman di Jakarta, Jumat.

(source: http://www.kapanlagi.com/h/0000148527.html)

Menjelang Natalan 2006

Katanya rukun beragama.
Katanya ada toleransi umat beragama.
Kok gini?

Kenapa sih musti ada bom?
Kenapa sih polisi harus berbaris rapi, melihat kanan-kiri, dan bersiap menembak perusuh?

Bukannya lebih enak kalau duduk di rumah, nonton acara televisi yang komersil
atau ngopi di warung dekat rumah sambil menghisap dalam-dalam putung rokok terakhir (soalnya sudah berjanji untuk berhenti merokok pas tahun 2007)
atau datang ke rumah pacar?

Katanya mau rukun
Katanya mau membangun Indonesia yang lebih baik
Katanya cinta damai.
Mana?
Kok jadi gini?

14 December 2006

Ingin..

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Aku ndak pernah bisa mengerti makna asli puisi dari Pak Sapardi Djoko Damono. Aku ingat tujuh atau delapan tahun silam, saat pertama kali aku membaca puisi ini di dalam sebuah LKS (Lembar Kerja Siswa) Bahasa Indonesia. Aku terdiam.

Terdiam lama sekali.

Dalam heningku, aku masih tidak mengerti.

Beberapa bulan kemudian, aku harus mempertaruhkan ketidaktahuanku di depan kelas. Aku harus berpuisi, ya, kupilih puisi 'Aku Ingin'.

Sampai saat ini, setiap kali aku membacanya, selalu kutemukan pesan-pesan tak terduga. Entah itu yang bersifat romantis atau misterius.

Sepertinya aku masih harus belajar kata-kata apakah yang tidak sempat diucapkan kayu kepada abu, dan isyarat yang tak tersampaikan awan kepada hujan. Supaya aku lebih mahir dalam mencinta dan dicinta.

6 December 2006

Aahh,..

Jika anda sedang bergulat melawan ketidakpuasan, tanyakan pada saya apa arti kepuasan.

Tanyakan pada saya mengapa saya memilih menjadi pelayan dengan gaji duajuta sekian daripada menjadi bos bergaji enambelasjuta sekian.

karena hidup saya lebih dari pada memuaskan kepuasan

Tanyakan pada saya mengapa kantor ber-AC dan tampilan full make-up tidak lebih menarik dari kunjungan ke tenda-tenda pengungsi.

karena hidup saya lebih dari kepuasan memuaskan.

Tanyakan pada saya bagaimana cara tetap tersenyum dan bersyukur di akhir bulan, saat saldo rekening hanyalah seribulimaratustujuhpuluhlima rupiah

karena hidup saya telah dipuaskan

JKT051206

20 + 2

Adakah yang bisa kubanggakan dari umur yang duapuluhdua tahun ini?

Adakah kendaraan roda empat yang membawaku ke nirwana, tercipta dari cucuran keringat?

Adakah kalungan emas atau permata yang seakan membuatku mirip sapi yang diperah oleh kehampaan duniawi?

Adakah ukuran celana bagian belangkangku menjadi lebih tebal karena tiap jengkal otot kupekerjakan dengan sempurna?

Adakah aku harus kelelahan menaiki tiap tingkap istanaku, berjalan menuju puncaknya?

Apabila itulah tolak ukur kebanggaanku, nampaknya aku harus direlokasikan dari bumi.

Karena masih terlalu dangkal genangan cucuran keringatku dan belum banyak hasil perahan susuku. Otot pantatku pun terlalu lemah untuk menyangga beban lebih dan tungkaiku masih bergetar untuk menaiki banyak tingkap.

Adakah yang bisa kubanggakan dari umur yang duapuluhdua tahun ini?

Lalu samar kulihat namaku dalam buku besar sorgawi.

JKT051206