28 September 2007

Who's your hero?


Selesai baca novel Cintapuccino, Aku jadi termenung lama, cukup lama untuk kembali mencerna setiap scene kehidupanku, setiap kepingan cerita dalam kisahku dengan Mr. obsession,...

Satu pertanyaanku, which one is better, to fight or to surrender?

Atau, I will put it differently, yang mana yang lebih baik, menjadi pahlawan yang berjuang sampai titik darah penghabisan atau jadi pahlawan yang rela berkorban? The point is they are both heroes, but what kind of hero?

Dalam cerita Cintapuccino, Raka menyerah begitu saja setelah tahu bahwa Nimo ternyata juga uda ‘ngefans’ ama Rahmi-nya sejak dulu, en Rahmi pun juga terobsesi akan Nimo selama sepuluh tahun.

Raka menyerah. Dia ngerasa uda kalah duluan, kalah sebelum perang, menurutku. Tapi, bisa juga disebut rela berkorban. Dia rela Rahmi memilih dan mendapatkan yang terbaik dalam hidupnya.

On the other hand, Nimo yang ngga tau malu itu mengejar-ngejar Rahmi terus, berjuang sampai titik darah penghabisan, walaupun Rahmi udah bakalan bertunangan. Nimo bisa juga dibilang pahlawan yang berjuang terus, pantang menyerah.

Menurutmu, mana yang lebih bisa dibilang ‘cowok’ – lelaki sejati?

Apakah Raka bisa dibilang ‘cowok’ karena dia rela berkorban untuk Rahminya? Apakah kamu malah berpikir Raka adalah laki-laki yang ngga punya nyali karena dia udah kalah sebelum perang? (sambil gregetan teriak,… “laki-laki goblok!”) Apakah kamu berpikir kalo Raka seharusnya berjuang mendapatkan Rahminya kembali, lagian si Rahmi kan emang udah milih Raka dari Nimo-nya?

Or, kamu malah berpikir Nimo-lah laki-laki sejati itu? Apakah kamu berpikir kalau Nimo tuh hebat banget karena dia tidak peduli apapun pokoknya dia mau berjuang untuk mendapatkan yang dia inginkan? Apa kamu malah bepikir kalau Nimo laki-laki kurang ajar karena dia telah mengganggu rumah tangga orang lain apalagi mengingat status Rahmi saat itu yang sudah hampir bertunangan? (sambil misuh-misuh,... cowok brengsek!)

Either way, it is your choice. But for me, neither of those pricks are worth it.

Now I am wondering, is my boyfriend the real hero for me?

20 September 2007

Reach Your Dream

Don't just wish upon a star


Seorang pemuda berusia dua puluh tahunan bermimpi suatu hari nanti ia menjadi seorang jutawan. Ia sepenuh sadar bahwa impian adalah sesuatu yang mampu membangkitkan motivasi dan memberikan arah bagi kehidupan setiap insan. Impian ini kemudian disampaikannya kepada sang kekasih. Beberapa waktu kemudian mereka menikah.

Sayangnya tidak lama kemudian terjadi krisis ekonomi yang parah. Masa depresi besar tiba! Pasangan ini kemudian mengalami berbagai peristiwa menyedihkan dalam kehidupan mereka. Mulai dari kehilangan pekerjaan dan mobil, rumah yang digadaikan hingga tabungan yang kian menipis dari hari ke hari.

Sang pemuda ini mengalami frustrasi luar biasa. Ia kerap duduk termenung seorang diri. Ia bahkan menyarankan agar istrinya meninggalkan dia. Ia merasa tidak mampu lagi menjadi suami yang baik. Ia merasa telah gagal dalam hidupnya.

Siapa menduga sang istri justru tidak kehilangan harapannya sedikit pun? Sang istri yang penuh kasih sayang ini selalu dekat dan menguatkannya. Dengan tidak bosan-bosannya ia meyakinkan sang suami bahwa impian untuk menjadi jutawan itu belum mati dan mereka pasti bisa mencapainya bersama-sama suatu hari kelak.”Suamiku, kita harus tetap melakukan sesuatu agar impian kita itu tetap hidup” katanya berulang kali kepada sang suami. “Tetap hidup?” jawab sang suami “Impian kita telah mati! Kita telah gagal!

Sang istri tetap tidak mau percaya bahwa impian itu telah mati. Ia bahkan sama sekali tidak bersedia untuk mengubur impian tersebut! Untuk tetap menjaga kehidupan impian tersebut ia mengajak sang suami untuk merancang apa yang akan mereka lakukan jika suatu saat nanti mereka menjadi jutawan. Keduanya lalu mulai melakukan hal ini setiap kali selesai makan malam.

Waktu terus berlalu dan mereka masih saja melakukan kegiatan yang sama hingga suatu hari sang suami mendapatkan sebuah ide brilian: menciptakan permainan uang. Yakni barang-barang apa saja yang akan dibeli jika seseorang memiliki uang misalnya tanah, rumah, gedung, dsb. Gagasan ini terus mereka matangkan.


Mereka menambahkan papan permainan, dadu, kartu, rumah-rumah kecil, hotel-hotel kecil, dsb. Bisakah Anda menebak permainan apakah ini? Ya, tepat! Permainan itu bernama MONOPOLI. Ya, begitulah cerita bagaimana Charles Darrow dan istrinya, Esther menciptakan permainan tersebut. Permainan ini kemudian dijual kepada seorang pengusaha dengan harga satu juta dolar dan impian jadi jutawan pun terwujud!

Cerita ini sungguh menggugah hati saya. Betapa tidak, dalam hidup ini tidak banyak orang yang bisa dengan teguh memegang impian mereka. Terkadang impian itu menjadi layu sebelum berkembang. Kasihan sekali! Banyak orang yang tahu bahwa impian kerap menjadi awal perjuangan untuk menwujudkan hari esok yang lebih baik namun sayangnya banyak juga yang belum berani bermimpi. Padahal bermimpi itu gratis. Bermimpi itu hak setiap manusia. Lagipula, bermimpi bukanlah tindakan criminal. Ada juga kelompok orang yang berani bermimpi namun enggan berkorban untuk mewujudkan impiannya tersebut. Dalam berbagai seminar atau training saya sering mengatakan : Jika Anda tidak bersedia berkorban maka lupakan saja impian Anda. Semakin besar impian Anda maka semakin besar pula pengorbanan yang harus Anda lakukan.

Sumber : paulus winarto/maximum (Jawaban.COM)

15 September 2007

The Untold Story

Gue baru aja sembuh dari penyakit ketergantungan 'NIMO.'


Fewh, untung aja.

Dulu pas masih SMP, gw nge-fans banget ama drummer salah satu band lokal asal Jogjakarta. Nie beli kaset-kasetnya, trus kalo pas mereka konser ke Surabaya, kota kelahiran gw, pasti deh nonton dan duduk paling depan, of course buat ngecengin drummernya.

Waktu pun berlalu dan gw masih tetap suka ama cowok ini.
Dan gw tetaplah hanya fans sejati drummer ini.

Tibalah saat kuliah, dan gw kuliah di luar negeri.

Long story short,salah satu housemate gw pas gw kuliah adalah temen basket drummer band itu pas di Jogja dulu. Waaaah,… pucuk dicinta, ulam tiba!!!

Gw bisa kenalan ama drummer ini, sebut aja namanya Rio. Awalnya dikenalkan lewat situs pertemanan, Friendster. Trus, berlanjut di dunia chatting, e-mail dan SMS. Finally, pas gw back for good ke Indonesia, gw telpon-telponan ama Rio.

Seneng banget akhirnya bisa kenalan dan ngobrol-ngobrol ama tokohidola!! Nah, keliatannya ndak, dosa ya. Malah seharusnya ini adalah good news!! Dream Comes true.



Tapi actually, gw udah punya cowok.



Gw nggak sayang ama Rio, gw hanyalah fans sejatinya. Gw sayang banget ama cowok gw yang udah gw pacari selama 6 tahun lebih. Namun, lama kelamaan, hubungan telpon-telponan dan SMS-an gw ama Rio makin intens. Dan (parahnya) gw menikmatinya. But, the bad news is cowok gw nggak tau!

Akhirnya, gw mengaku semuanya ama cowok gw. Awalnya dia biasa-biasa aja, dan dia menganggap apa yang gw lakukan tidak fatal. But, setelahdia tahu, bahwa setelah pengakuan dosa itu gw masih contact ama Rio,cowok gw marah besar.

Hubungan kami terancam putus.


Rio, yang juga tahu tentang masalah gw dan cowok gw, bukannya mundur,malah makin gencar PDKT. Dan, Rio pun bilang kalo sebenarnya dia suka gw.

Bingung.


Gw tetap pada pemikiran gw bahwa gw tuh ngga cinta ama Rio, gw cinta ama cowok gw, tapi gw still nge-fans ama Rio and seneng banget ngobrol-ngobrol ama dia.

Dan, gw pun harus memilih. Gw meninggalkan Rio. Gw ganti nomor HP. Gw ngga balas lagi e-mail Rio, dan memilih untuk setia dan menyayangi cowok gw.


Fewh,.. suatu perjuangan yang sangat keras.

'Nimo'-ku, I'm sorry, goodbye.



Source: http://www.cintapuccino.com

11 September 2007

Enakan jatuh cinta 'pa marah-marah?


Suatu hari sang guru bertanya kepada murid-muridnya: "Mengapa ketika seseorang sedang dalam keadaan marah, ia akan berbicara dengan suara kuat atau berteriak?"

Seorang murid setelah berpikir cukup lama mengangkat tangan dan menjawab: "Karena saat seperti itu ia telah kehilangan kesabaran, karena itu ia lalu berteriak."

"Tapi..." sang guru balik bertanya, "lawan bicaranya justru berada di sampingnya. Mengapa harus berteriak? Apakah ia tak dapat berbicara secara halus?"

Hampir semua murid memberikan sejumlah alasan yang dikira benar Menurut pertimbangan mereka. Namun tak satupun jawaban yang memuaskan.

Sang guru lalu berkata: "Ketika dua orang sedang berada dalam situasi kemarahan, jarak antara ke dua hati mereka menjadi amat jauh walau secara fisik mereka begitu dekat. Karena itu, untuk mencapai jarak yang demikian, mereka harus berteriak. Namun anehnya, semakin keras mereka berteriak, semakin pula mereka menjadi marah dan dengan sendirinya jarak hati yang ada di antara keduanya pun menjadi lebih jauh lagi. Karena itu mereka terpaksa berteriak lebih keras lagi."

Sang guru masih melanjutkan: "Sebaliknya, apa yang terjadi ketika dua orang saling jatuh cinta? Mereka tak hanya tidak berteriak, namun ketika mereka berbicara suara yang keluar dari mulut mereka begitu halus dan kecil. Sehalus apapun, keduanya bisa mendengarkannya dengan begitu jelas. Mengapa demikian?"

Sang guru bertanya sambil memperhatikan para muridnya. Mereka nampak berpikir amat dalam namun tak satupun berani memberikan jawaban.

"Karena hati mereka begitu dekat, hati mereka tak berjarak. Pada akhirnya sepatah katapun tak perlu diucapkan. Sebuah pandangan mata saja amatlah cukup membuat mereka memahami apa yang ingin mereka sampaikan."

Sang guru masih melanjutkan: "Ketika kamu sedang dilanda kemarahan, janganlah hatimu menciptakan jarak. Lebih lagi hendaknya kamu tidak mengucapkan kata yang mendatangkan jarak di antara kamu. Mungkin di saat seperti itu, TAK mengucapkan kata-kata mungkin merupakan cara yang BIJAKSANA. Karena waktu akan membantumu."

5 September 2007

My little café

Sudah lama Nie ndak ‘mengopeni’ blog Sisi Lain. Bukan karena malas, tapi emang lagi tidak ada inspirasi. Otak Nie lagi numb. Mungkin ini karena sibuk yang berkepanjangan.

Hm, the same excuse again. But it’s true, Nie tuh jarang punya waktu seperti ini, bisa doing nothing, watching TV by myself and writing. Kadang, pulang kantor Nie langsung ngurusin kegiatain ini itu, atau malah jemput orang ini itu, atau having special moment dengan Stefy. Eh, penting lho itu! Hehehe,…

Nie baru aja nonton TV series yang baru, One Tree Hill. Berkat rekomendasi dari saudari Putri, Nie membeli One Tree Hill Season One. Ceritanya bagus dan, of course, yang maen ganteng. Hehehhe,.. I like Lucas Scott.

Di episode pertama, ditunjukin kalo nyokapnya Lucas Scott punya café, called Karen’s café. Dan, inilah café impian Nie.

Dari dulu, Nie selalu membayangkan memiliki sebuah café yang cozy, seperti rumah sendiri. Terus di dinding-dindingnya ada rak-rak buku yang menjorok ke dalam, berisi buku-buku, mulai dari romance, fiction, children books dan buku pelajaran. Lalu di meja-meja, ada majalah-majalah dan newspaper.

Kopi, pastilah menu utama di café ini. Cappucino, mochachino, espresso, latte, semuanya ada di sini. Lalu ada minuman lain, seperti herbal tea, homemade juice, smoothies and yoghurt. Untuk makanan beratnya, ada sandwich. Kalau bikin café-nya di luar negeri, harus ada homemade soup and French bread. Trus, ada cake, mulai dari cheese cake, carrot cake, brownies, muffin, donut, and pastries. Untuk snack, ada croquette, French fries, burger, crisps, nachos, atau kalo di belanda ada kaassouffle, bitterballen, and frikandel. Untuk menu sehat, jelas ada salad buah, veggies salad, potato salad, fresh fruit, muesli, havermout with toppings. Most of all, semua makanan sebisa mungkin memakai bahan organic dan tidak menggunakan pengawet atau vetsin!!

Dekorasi café kebanyakan terbuat dari bahan kayu. Warna-warna yang dipakai coklat and other soothing colors. Pokoknya dekorasinya harus bikin orang betah berlama-lama berada di sana.

Tempat duduknya ada macam-macam. Ada yang sofa empuk yang cozy dengan coffee table di depannya. Ada juga sepasang meja-meja dan kursi-kursi tinggi. Lalu ada kursi kayu dengan meja kayu sebagai pasangannya. Ada yang dikhususkan untuk 1 orang, ada yang untuk 4 orang. Ada juga satu bagian di pojok, dimana tidak tersedia kursi, namun hanya karpet, meja kayu pendek, dan banyak bantal. Letaknya di sebelah jendela. Inilah lokasi strategis buat belajar, informal meeting atau just chatting.

Asal tempat ini nggak dibuat mojok aja! Hehehe,..

Dapurnya juga terletak sangat dekat dengan meja-meja pengunjung, jadi pengunjung bisa mencium aroma kue dan masakan yang sedang dimasak di dapur. Persis seperti kalau kita sedang ada di rumah.

Di meja kasir, akan tersedia kue-kue kering yang dibungkus dengan wrapping imut nan menarik. Bisa untuk hadiah, atau dimakan sendiri. Of course, kue-kue ini homemade.

About the books, segala macam buku ada di sana. Mulai dari yang lama, sampai yang baru. Namun, akan lebih banyak buku-buku yang bagus untuk refreshing penjunjung, seperti buku-buku cerita, novel, komik, psikologi, leadership, devotional reading, dan bacaan ringan lainnya. Buku-buku ini bisa dipinjam, namun tidak boleh terlalu lama, apalagi kalau buku itu masih terbilang baru atau banyak penggemarnya.

Cafe Nie juga ramah lingkungan. Nie akan menggunakan wrapping, napkins, dan accessories yang terbuat dari bahan-bahan daur ulang. Cafe ini juga tidak menggunakan AC, namun Nie menjamin kenyamanan cafe ini. Cafe ini dibuat sedemikian rupa sehingga banyak angin yang masuk dari segala arah. Namun, masih tersedia fan/kipas angin, kok!

Nah, soal musik. Nie pasti akan memainkan lagu-lagu jazz, easy listening, and light classic, dan pasti juga banyak musik-musik gospel. Apabila pengunjung mulai bosan dengan musik-musik tertentu, atau ingin mendengarkan musik yang lain, pengunjung bisa langsung menghampiri meja kasir dan mengganti lagu melalui laptop.

Yang terakhir,, Nie pengen bisa setiap hari dan setiap saat stand by di café. Jadi kalau ada pengunjung yang ngajakin ngobrol, Nie selalu ada. Nie pengen sesekali menyajikan dan memasak masakan itu sendiri. Nie pengen dengerin komentar, or maybe complain, dari pengunjung.

Most of all, this café is free-smoking and free-alcohol.

Hm, kapan ya bisa bikin café?