15 August 2013

Transition: Meet the Parents



In life, change is inevitable.

Kadang perubahan itu adalah sesuatu yang baik, tapi kadang kita berubah menjadi lebih negatif. Namun baik buruknya sebuah perubahan, itu sangat tergantung standard apa yang digunakan.

Perantauan saya ke negeri kincir angin membawa banyak sekali perubahan. Dalam hal kedisiplinan, pola pikir, makanan, gaya hidup, dan masih banyak lagi. Kadang perubahan ini bisa dinilai oleh 'orang timur' seperti Indonesia, sebagai suatu hal yang buruk.

Contohnya beberapa tahun lalu, setelah beberapa tahun tidak pulang kampung, saya pulang ke Indonesia. Hari Minggu, saya ikut ke gereja bersama kedua orang tua saya.

Selama di Belanda, saya ke sebuah gereja presbyterian yang open pada semua jenis kalangan dari latar belakang apapun. Sangat santai. Bahkan di musim panas, pendetanya pun akan berkhotbah dengan menggunakan polo shirt, celana pendek, dan sandal jepit. Worship leadernya bertato dan rambutnya gondrong!

So, kira-kira bisa bayangin kan, waktu saya di Indonesia lagi, diajak ke gereja di hari minggu pagi yang panas, saya pakai baju apa? Kalau Anda menebak saya pakai kaos tanpa lengan, celana pendek dan sandal jepit, yak, tebakan Anda benar!!

Of course mama saya freaked out, kaget anaknya berpakaian sangat minim dan sangat tidak sopan untuk ke gereja. Fyi, di Surabaya, gereja keluarga saya adalah gereja yang cenderung lebih formal.

Perubahan yang lain adalah kebebasan. Selama di Belanda, saya tinggal di sebuah apartemen dengan teman-teman dari Indonesia. Kalau saya mau pulang malam, atau bahkan tidak pulang pun, tidak akan ada yang nanyain. Paling-paling housemate saya kalo lagi iseng akan tanya, itupun kalau dia lagi di rumah.

Bayangkan kalau harus tinggal kembali bersama orang tua. Ada kejadian lucu lagi di tahun yang sama ketika saya pakai baju super santai ke gereja. Waktu itu saya masih pacaran sama Stefy, tapi sudah umur 21 gitu deh. Saya pergi ke mall, dan jam 10 malam, ada telpon masuk ke HP:

Mama: Kamu dimana?
Nia: Di mall.
Mama: Lho, kok belum pulang? Sama siapa?
Nia: *shock*
Mama: Sama siapa kamu? Dan jam berapa rencana pulang? Ini sudah malam lho!!
Nia: *shock sampai ngga bisa ngomomg*

Untung mama saya gaul, saya akhirnya bilang sama mama saya, kalau saya ini bukan anak SMA lagi. Mama sudah 'rela' dan percaya melepaskan saya di luar negeri selama 4 tahun. Masak pergi ke mall di Surabaya dan jam 10 malam belum pulang sudah ditanyain?

Menurut saya, the biggest shock buat kita yang pulang balik ke negeri sendiri setelah merantau adalah kehadiran orang tua dalam kehidupan kita.

Memang ada enaknya, ada yang masakin, ada yang bayarin (ngga perlu makan doner kebab tiap hari kalau lagi ngga punya duit!), ada yang care sama kita. Tapi ada juga sisi yang kurang enak. Kita mungkin akan merasa lebih dikontrol, kita merasa tidak bebas, dan adanya aturan-aturan rumah yang harus kita taati lagi.

Satu hal yang saya pelajari dari hal ini. Bukan hanya kita yang tidak biasa dengan kehadiran orang tua. Orang tua pun pasti merasa tidak biasa anaknya muncul lagi.

Kadang orang tua kita lupa bahwa kita sudah beberapa tahun pergi dari rumah. Ketika kita kembali, mereka memperlakukan kita dengan tetap memakai standard yang sama. Saya pergi ke Belanda waktu lulus SMA, empat tahun kemudian, saya kembali ke rumah, dan orang tua saya memperlakukan saya dengan cara yang sama seperti waktu saya masih SMA.

Jadi be kind to your parents ya.
Kalau emang udah ngga tahan tinggal di rumah bareng orang tua lagi, buruan nikah dan tinggal di rumah sendiri! HAHA. Eh tapi saya nikah beneran karena cinta kok, bukan karena pengen keluar dari rumah :)

Bagaimana dengan teman-teman perantauan yang sekarang kembali ke Indonesia? Any similarities?

12 August 2013

Transition: Stock Sinar Matahari

Setelah lebih dari 8 tahun hidup merantau di negeri orang, pulang ke rumah, ke negeri dimana saya dilahirkan, bukanlah hal yang mudah.

Benar, saya bicara bahasanya, saya mengerti budayanya, saya memiliki keluarga dan teman-teman di Indonesia, tetapi sedikit banyak saya mengalami tantangan untuk kembali menjadi seorang warga negara Indonesia. 

Beberapa postingan selanjutnya akan saya isi dengan cerita-cerita menarik, kadang lucu, kadang menyebalkan, tentang pengalaman saya kembali ke Surabaya, setelah hidup 8 tahun di Belanda.

Saya akan awali transition the series dengan cerita tentang kesukaan saya dengan matahari. At least, selama saya hidup di Belanda.

Belanda adalah negara dengan 4 musim, dengan jumlah musim panas paling sedikit dibanding musim-musim lainnya. Di musim panas pun, hujan, badai dan hujan es pun bisa terjadi. Suhu bisa panas banget sampai 38C dan bisa dingin sampai 15C.

So, kalo melihat matahari dan langit yang biru, semua orang Belanda, plus orang Indonesia yang kayak saya akan cepat-cepat ke pantai atau ke taman, atau at least keluar dari rumah untuk berjemur. 

Tempat favorit saya adalah balkon apartemen saya. Saya akan duduk  di sana, di bawah sinar matahari berjam-jam sambil membaca buku atau mendengarkan musik dan menikmati segelas ice cappuccino.

Saya pengen kulit saya terlihat sedikit coklat,  karena begitu musim panas berlalu, kulit saya akan jarang ketemu matahari. 

Begitu sampai di Surabaya, kota dimana stock sinar matahari melimpah ruah, harusnya saya merasa 'at home'. Tapi ternyata, saya malah lari ketakutan kalau ketemu matahari Surabaya!

Well, saya masih cinta matahari, tapi tidak untuk berjemur. Saya berusaha menghindari panasnya matahari Surabaya. Tapi saya tidak berlari-lari ke mobil begitu keluar dari pertokoan, saya juga tidak suka memakai produk pemutih, dan saya masih suka berjemur sesekali (walaupun sampai saat ini belum kesampaian untuk ke Bali lagi setelah 5 tahun absen).

Jadiii, sekarang tahu kan kenapa bule kalau ke Indonesia suka banget berjemur, bahkan di siang hari bolong?! Ya karena negara mereka kekurangan stock sinar matahari.

11 August 2013

Ramuan Penangkal Flu

Health is a choice. Learn how to choose it.

Hari ini saya akan sedikit sok menjadi ahli kesehatan. 

Kemarin saya ngobrol di Line dengan food blogger and photographer dari Surabaya, Jie, yang ternyata lagi ngga enak badan. Flu-ish alias deman-demam kayak mau flu gitu.

Saya kasih beberapa resep "ramuan-ramuan" andalan keluarga saya, yang sudah diuji keampuhannya. Dan ternyata, Jie belum pernah dengar tips ini sebelumnya.

Keluarga saya adalah keluarga yang tidak suka minum obat. Kalau sakit, obatnya tidur, minum air putih yang banyak, dan membuat ramuan penangkal flu ini. 

Buat kalian yang lagi flu atau merasa ngga enak badan, mungkin bisa dicoba resep ramuan-ramuan berikut ini:

1. Jahe coklat
Minuman ini sangat ampuh untuk yang lagi pilek, demam, atau masuk angin. Di Jawa Tengah, khususnya di Salatiga, wedang jahe coklat ini adalah minuman wajib di warung-warung pinggir jalan. Yang lebih menarik, minuman ini mirip dengan minuman dari Spanyol/Mexico, chocolate and red pepper. Fungsinya sama, untuk menyembuhkan flu dan demam. 

Resep:
Versi original: kupas dan keprek jahe muda, masak dengan air matang sampai airnya menyusut. Tambahkan gula jika perlu. Saring dan tambahkan coklat bubuk cacao (yang biasanya buat bikin kue). Aduk dan nikmati.

Versi instan tapi mantep: jahe wangi instan + geprekan jahe muda + coklat bubuk cacao

Versi super instan tapi kurang ampuh: jahe wangi instan + coklat bubuk instan (yang paling cocok Hot Cacao Delfi)

2. Lemon dan madu
Lemon adalah obat flu yg mujarab juga. Minuman ini cocok untuk penderita flu dan batuk, karena jahe kurang cocok untuk penderita batuk. Jahe cenderung bikin tenggorokan gatal. Ketika saya di Eropa, hampir semua obat flu andalan ketika sakit flu sabya tidak kunjung sembuh, mengandung lemon. Resepnya, perasan air lemon, air hangat dan madu. 

3. Garlic and black pepper
Bawang putih dan merica hitam adalah antibiotik alami. Temen mama saya, orang India, kalau flu dia akan makan merica hitam. Yup, biji merica hitam akan dikunyah-kunyah.Saya alirannya masih lebih normal. Kalau flu, selain jahe coklat atau lemon madu, saya akan membuat sop ayam atau makanan berkuah lainnya dengan menambahkan bawang putih dan merica hitam yang banyak! 

Bahan-bahan di atas ini juga punya manfaat lain, seperti jahe yang juga baik untuk mengurangi sakit perut, madu untuk panas dalam dan sakit tenggorokan, lemon untuk menghilangkan sakit maag, dan coklat untuk dimakan ketika sedang galau atau sedih :)

Buat yang lagi flu, monggo langsung dicoba. Semoga berguna. 

Buat yang lagi flu dan suka tantangan, coba resep obat flu alami, resep dari teman saya orang Polandia: susu, madu, jahe, dan bawang putih. Sampai saat ini saya masih belum berani nyobain. Ngga bisa bayangin minum susu rasa bawang putih. 

10 August 2013

Breakfast in Bed a la Hollywood

Thanks banget buat respon kalian semua atas tulisan saya kemarin. Ngga nyangka, masih ada pembaca setia dari blog-blog saya sebelumnya! Dan ternyata benar Ega lho, menulis itu nagih. Tadi pagi saya sudah langsung mikir, kira-kira malam ini nulis apa yaaa.

Speaking of tadi pagi, tadi pagi saya mendapat kejutan istimewa! Begitu saya melek mata, ada yang masuk bawa secangkir kopi, roti mantau, corned beef dan omelet. Seperti adegan film hollywood gitu. Well, kalau di adegan-adegan film Hollywood, biasanya ceweknya yang masuk ke kamar membawakan breakfast in bed. Hehe, kali ini suami saya. Harap maklum.

Selama 13 tahun bersama, ini kali pertama saya diperlakukan seperti ini! Bahkan di hari valentine, atau hari anniversary jadian di bulan Maret kemarin, tidak ada hal romantis apapun yang dilakukan Stefy.

Di tengah usaha saya untuk bangun dari dunia mimpi, pelan-pelan saya berpikir, hari apakah ini? Dalam rangka apa saya dijamu breakfast in bed. Hari ini tanggal 10 Agustus. Hari Sabtu. Tidak ada yang spesial.

Sesaat sebelum saya menyuapkan mantau polos yang masih panas ke dalam mulut saya, saya memandang Stefy dan bertanya "wah, dalam rangka apa ini?" Saya tidak bisa menyembunyikan rasa penasaran.

"Ngga ada kok. Yuk dimakan!" Cuma begitu jawabnya.

Saya kunyah-kunyah mantau putih, lalu dengan garpu, saya masukkan corned beef ke dalam mulut. Masih bingung.

Secangkir kopi yang mengepul-ngepul saya raih dari meja di sebelah ranjang kami. Saya minum beberapa teguk, berusaha untuk make sense of everything.

"Beneran nih ngga ada apa-apa?" Saya bertanya dengan nada bercanda, padahal sebenarnya saya masih sangat penasaran.

Pikiran saya melayang pada adegan-adegan film Hollywood yang menyajikan cerita-cerita yang alurnya antara lain seperti ini: seorang pria akan melakukan hal yang manis dan romantis pada pasangannya karena: 1. dia telah melakukan kesalahan besar sebelumnya, dan setelah melakukan hal yang manis, dia berencana untuk mengaku dosa dan meminta maaf; atau karena 2. dia ingin meminta sesuatu pada sang pasangan, misalnya ada adegan dimana sang aktor ingin mengatakan bahwa mama sang aktor akan berkunjung dan menginap, padahal sang aktor tahu istrinya tidak suka dengan si mama mertua.

Selama beberapa menit, saya mencoba menganalisa, kira-kira kesalahan apa yang telah Stefy lakukan, atau apa yang ingin Stefy minta.

Lima menit. Sepuluh menit. Satu jam. Lima jam. Dan sekarang sudah hampir 15 jam yang lalu. Tidak ada yang aneh. Tidak ada perminta maafan. Tidak ada pengakuan dosa. Tidak ada permohonan. Semuanya normal.

Ternyata tadi pagi hanyalah sebuah breakfast in bed yang tulus. Titik. Tidak ada motif apapun.

Dengan ini, saya ingin mengajukan request kepada Bapak Stefy, kalau bisa breakfast in bed ini dijadikan sebuah kegiatan rutin dalam rumah tangga kita. Dengan pembagian tugas yang sama seperti tadi pagi. Terima kasih.

9 August 2013

Apakah mimpimu masuk akal?

Sudah lama saya ‘mati suri’ dalam dunia menulis. Bagi penggemar setia blog saya, dulu mulai SMA, kuliah, dan waktu masih kerja di Indonesia, pasti rajin memaja blog Free Prayer atau Cerita Si Oma. Mulai dari curhatan anak SMA tentang cinta, persahabatan, sampai merambah dunia politik, ekonomi dan masalah-masalah sosial dan agama.

Dulu saya rajin menulis. Setiap kejadian, setiap perasaan, pasti ingin dituangkan dalam sebuah tulisan. Suami saya dulu juga sering dapat kiriman-kiriman puisi dari saya. Beberapa saat lalu dia tiba-tiba nyeletuk “kamu kok sudah ngga pernah nulis puisi lagi?”

Hari ini, di hari terakhir liburan Lebaran di Indonesia, saya berhasil duduk (baca: ndlosor) di belakang laptop dan menulis. Bukan menulis report buat kantor, buat kejar deadline translate paper, tapi hanya menulis, seperti dulu lagi.

Salah satu motivasi terbesar saya untuk menulis lagi adalah Bung Ega dan Nulis Buku, yang tidak bosan-bosannya menanyakan kapan buku saya diselesaikan. Well, first thing first :) Ega lagi mengajak teman-teman untuk menulis random setiap hari, sampai akhir Agustus 2013. Dengan harapan kebiasaan menulis ini menjadi sebuah kebiasaan yang sama seperti kita terbiasa minum kopi di pagi hari atau membaca surat kabar sambil menikmati makan pagi. I hope so, too.

Hari ini saya ingin menulis tentang mimpi. Semua orang pasti punya mimpi. Baik itu mimpi yang tidak masuk di akal, seperti mimpi makan malam bersama George Clooney. Ataupun mimpi yang bisa direalisasikan, memiliki usaha sebuah restoran jepang atau membantu anak-anak yang putus sekolah.

Pernahkah kita sadar bahwa sebuah mimpi itu kadang harus mengalami proses review dan revisi? Terkadang kita begitu fokus untuk mengejar mimpi besar kita, tanpa kita sadar bahwa ada berbagai halangan untuk mewujudkan mimpi itu. Kita anggap halangan-halangan itu sebagai sebuah rintangan yang tidak berarti, yang bisa kita lewati dengan mudah untuk menggapai mimpi itu. Kita menghiraukan orang-orang di sekitar kita yang berusaha mengatakan bahwa mimpi kita mungkin tidak sepenuhnya ‘masuk akal’.

Siapa sih yang berhak menghakimi apakah mimpi kita masuk akal atau tidak? Saya berpikir, bermimpi untuk makan malam berdua dengan seorang George Clooney, jelas tidak masuk akal! Tapi menjadi CEO sebuah perusahaan multinational, apakah hal ini lebih masuk akal? Atau juga tidak masuk akal?

Ada seorang teman saya, yang pernah bertemu langsung dan melayani George Clooney di restaurant tempat dia bekerja. Sekalipun dia tidak pernah bermimpi untuk bertemu George Clooney, but there he was! Beberapa CEO perusahaan terkenal seperti Tony Fernandes atau the late Steve Jobs, mereka pun tidak pernah membayangkan akan menjadi pemimpin giant companies yang sukses seperti AirAsia atau Apple.

Jadi kapan mimpi kita bisa dibilang ‘masuk akal’ dan kapan mimpi kita menjadi ‘tidak masuk akal’?

Saya tidak punya jawaban untuk itu. Yang saya tahu adalah mimpi itu bukan harga mati. Kita harus menerima bahwa ada impian kita yang tidak bisa menjadi kenyataan. Halangan demi halangan, teman-teman dan saudara yang member peringatan, bisa jadi adalah cara kita diberitahu untuk mereview mimpi kita dan mengkaji ulang.

Mama saya pernah bilang, kalau Tuhan berkenan, Dia pasti akan membuka semua pintu. Jika tidak, semua pintu akan tertutup. Or there is also a saying ‘when God closes a door, he opens a window’. Jika 1 mimpi kita sepertinya menjadi ‘tidak masuk akal’, jangan kuatir, ada mimpi lain yang menunggu.

Dan satu hal yang paling penting, di tengah usaha dan jerih payah kita untuk mewujudkan sebuah mimpi, jangan sampai kita melewatkan kesempatan-kesempatan emas yang ada di sekitar kita, hanya karena kita merasa bahwa hal-hal itu bukanlah bagian dari mimpi kita.


Keep on dreaming, but do that with the right mind.