27 March 2007

Jakarta 07 - Final Post: Macet

Jakarta emang tidak bisa terpisahkan dari fenomena MACET. Doh, kayaknya kalo datang ke Jakarta dan ngga ketemu macet, kayaknya ngga afdol.

Doeloe buanget, waktu Jakarta masih ngga serame sekarang, Nie liburan ke Jakarta sama orang tua. Trus, malam-malam, pas lapaaar banget, diajakin deh ama Oom makan. “Ayo, keluar makan! Deket kok!” Dengan antusiasnya Nie dan keluarga langsung melompat ke dalam mobil.

5 menit, 10 menit, kok ngga nyampe-nyampe...
Ternyata, deket yang dibilang ama si Oom itu, ternyata 30 menit.

Itu pun doeloe sekaleee. Kalo sekarang, hm,.. kayaknya deket tuh bisa aja 1 jam.

Kenapa hayo Jakarta bisa macet?
Banyak banget alasannya, mulai dari karena orang-orang kaya di Jakarta semakin banyak, dan mereka mulai bingung bagaimana cara menghabiskan uang mereka. Thus, mereka semakin kurang kerjaan dengan mengkoleksi mobil-mobil. Ada temennya adiknya kakaknya tantenya tetangga Nie (heheh,.. bingung ya?) yang punya mobil 13.

TIGA BELAS! Yap, anda tidak salah membacanya. 13 as 3 ditambah 10. Udah kayak showroom mobil aja deh! Trus mobilnya buat apa? Ngga tau! Paling kalo yang punya lagi nganggur pas weekend, mereka akan maen bomb-bomb car atau balap mobil.

Alasan kedua ya tukang angkot itu. Sorry for blaming them all the time. Mereka kayaknya ngga pernah bener-bener belajar mengoperasikan sebuah kendaraan roda empat. Peraturan lalu lintas does not even exist for them. They are kind of living in a wild life.

Alasan ketiga, sepeda motor. I am sorry for blaming the motorbike riders, because they have the same right, haven’t they? Tapi kadang mereka seenaknya sendiri. Mentang-mentang mereka kecil, imut dan gesit, mereka nyelonong ke kanan dan ke kiri seenak perutnya sendiri. Nah, kok gitu seh?

So, gimana donk untuk bikin Jakarta, ibukota Indonesia, untuk bebas macet? Kalo saran dari Nie, ya kita mulai dari diri kita sendiri. Kalo biasanya, pas ada di traffic light, pas lampu kuning, kita malah tancap gas, cobalah untuk mengingat kembali pelajaran kita di Sekolah Dasar. Lampu kuning artinya hati-hati, jadi harus lebih perlahan-lahan. Trus, kalo uda tau ngga bole putar balik, atau ngga bole parkir, ya diturutin lah. Jangan malah nengok kanan, nengok kiri, trus,...... tancap gas!! Finally, budayakan budaya antri. Kayaknya negara-negara di Eropa dan Amerika tuh bisa maju ya karena mereka sadar pentingnya ngantri.

Ah, kalo saja Jakarta bisa lebih tertib.
Kalo saja orang-orang di Jakarta, bahkan di seluruh Indonesia, bisa lebih menghargai orang lain dan menghargai en, of course, mentaati peraturan yang berlaku.
Kalo saja...

Ah, namanya juga Jakarta. Kota yang menjual impian, semua impian, mulai impian cowok lucu, impian mall-mall gede dan mobil mewah lambah kekayaan, dan laen-laennya.

Namanya aja Jakarta.

22 March 2007

Mall

“You are wrong if you think we are building small mall”

or something similar. Nie lupa apa statement yang pasti, but, di papan iklan di depan sebuah gedung pencakar langit, ada tulisan kayak gitu. So, the owner of that mall to-be stated kalo mereka ga akan bikin mall yang ecek-ecek, instead, akan ada giant mall baru di Jakarta, which probably could be a new cause of flood in Jakarta.


Kok mereka ga mikir ya. Bikin mall baru tuh berarti meniadakan sebuah lahan, yang maybe in the past adalah taman, atau pohon-pohonan atau taman liar. Bikin mall baru tuh berarti mengusir bapak-bapak, ibu-ibu, dan adik-adik yang mungkin dulu tinggal (secara liar) di situ, atau di sekitar daerah itu.

I could talk for ages about this topic. Tapi, seriously, kenapa orang-orang kaya di Jakarta gak mikir untuk bikin ‘Kensington Garden’ atau ‘Vondel Park’ di Jakarta. Dimana orang-orang bisa jalan-jalan di situ, kalo pagi bisa lari-lari di situ (to decrease the number of obesity in Indonesia). Thus, polusi udara bisa ditekan, globa warming bisa dihindari, dan kemungkinan banjir juga berkurang. Another possibility, kenapa businessmen di Jakarta ga bikin rumah susun, atau budget apartment untuk homeless people. Kenapa harus mall gitu lho?

Bukankah dengan mengijinkan dibangunnya mall-mall baru, gedung-gedung apartment yang baru, dan daerah perumahan elite, akan membuat jurang pemisah makin besar? Katanya Pak SBY mau menekanan kemiskinan di Indonesia, yang notabene makin lama, makin parah? Orang-orang P7MN ( Pergi Pagi Pulang Petang Penghasilan Pas-pasan Malah Nombok) – pinjem singkatan dari buku ‘IbegYourPrada’ – bakal end up tinggal di deket rel kereta api, lorong-lorong kumuh, atau daerah deket-deket jembatan. Trus orang-orang middle class, terutama kaum hawa, bakal selalu mendongak ke atas, selalu ngeliat toko-toko sekelas Biyan, Mango, X M L, Zara, walaupun kocek tidak mencukupi, dan lupa menunduk, melihat ke bawah, dimana ada anak-anak yang sudah seminggu cuma makan nasi dan garam, atau malah cuma bubur cair yang harus di-share bareng adik-adiknya.

While I am now crticizing those rich people yang bangun-bangun mall dan gedung-gedung tinggi di Jakarta, Nie diingatkan kalo bapaknya si Bang Tepy tuh juga malang melintang di dunia bangunan, alias developer. Hm, Oom, lain kali please consider to build a garden kali ye.

12 March 2007

Jakarta 07: Cowo Lutu

Baru pulang dari Jakarta, euy!

Sudah lebih dari setengah tahun saya tidak berkunjung ke ibukota. Hm, dan lebih tepatnya lagi, sudah lebih 6 tahun saya tidak having fun di Jakarta. Terakhir kali ke Jakarta tuh bulan Agustus 2006, job hunting! Jadi I spent less than one week berkunjung ke company demi company. Sebelumnya lagi tuh bulan Juni – Juli 2005, yang ini untuk kerjaan. Jadi isinya nemenin tamu-tamu yang notabene orang bule ke company demi company, lagi. So, there was no window shopping, no ngecengin cowo-cowo lutu, no ketemuan ama temen-temen untuk nge-lounge (new word for me), dan no wisata kuliner.

Kali ini fun, walaupun, again, less than one week di Jakarta (karena I spent 3 days in Bandung). Tapi kali ini lumayan puas. So, the main purpose of going to Jakarta this time was to watch Java Jazz Festival. Wow, it was the best!!! Untuk liputannya, maybe next time ya, karena bisa 3 halaman A4 untuk cerita Java Jazz festival. This time, Nie lebih pengen untuk underline what happened in Jakarta.

Cowok-cowok lutu.

Hehehe,.. ini always a good topic to talk about. Sebenarnya ke Jakarta ini bukan untuk hunting cowo, trust me! Karena my dearest Bang Tepy juga datang ke Jakarta, menemani saya nonton Java Jazz Festival (I know, honey, our relatioship is not cheap). Tapi Nie mau cerita suatu kisah yang sekarang pun masih bikin Nie 3S (senyum-senyum sendiri).

So, here goes the story. Nie kan nonton Marcus Miller di Java Jazz, pas itu barengan ama Ulma, Wasi (adeknya Ulma) dan temennya Wasi (maap dek, kakak lupa namamu sapa). Trus sebelum performance dimulai, Nia melayangkan pandang, mencari Bang Tepy yang, for sure, ada di antara jubelan penonton. Tiba-tiba, ada cowo yang cukup tinggi, berpenampilan lucu dan maniiiiss sekali! “ul, ul, ada cowo lutu, Ul!” Dan Nie pun mulai mendeskripsikan dimana dan gimana cowo lutu yang Nie maksud.

Biasa aja, Nie.” Doh, Ulma seleranya berubah sekarang. Itu cowo kan lutu, begitu batinku. Tapi mungkin selera Nie emang unik. Yang pasti, senyum cowo ini manis sekali. So, sambil menunggu Marcus Miller tampir, Nie ngelirik-ngelirik ke belakang, dimana cowo lutu ini berdiri. Lalu, otak saya mulai bereaksi, “Ul, kayaknya itu Ello, deh!” “Ello tuh sapa?” Doh, Ulma! Maklum, maklum, Nie, si Ulma kan ga pulang Indo 2 taon. Ulma kayaknya lebih tau Ali B atau Marco Borsato deh! (heheheh, maap Ulm!). Sambil menjelaskan ke Ulma sapa tuh Ello, Nie sesekali melirik ke belakang, untuk memastikan apa itu bener-bener Ello. Ternyata, Nie melihat gelang kertas warna biru di lengan cowo lutu itu, bertuliskan ‘Artist’. Nah,.. kan,.. dia artist! Jadi, gak salah lagi dia tuh si Ello, tea’!

Jadinya, sepanjang nonton Marcus Miller, Nie sempat-sempatkan melirik ke belakang. Hehehhe,.. mumpung Bang Tepy lagi ga ada. Wekekek,.. tapi ga papa, kan, liat aja? Trus trus,.. (masih dengan semangatnya cerita), nonton Marcus Miller kan berjubel-jubel. Jadinya kita didorong ke belakang dan ke depan. Thus, in the end of the concert, Ello bener-bener berdiri di belakang Nie. Huee,.. cowo lutu!

"Eh, Bang Tepy mana ya?" (giggling)

Next post: Jakarta 07: Mall