16 June 2015

#nulisrandom Day 16: The First Year

Today is Axl's first birthday, which means we have completed one full year of being parents for him. I want to reflect on that and write this piece. Maybe it would be nice for you to read, but I think this is kind of my way of giving thanks for what has happened in one year.

When Axl was born last year, lots of friends and families passed on their greetings, congratulating me for this cute little baby. But one friend wrote on Facebook "good luck for the next 18 years." I giggled, but turned out, I really needed that luck, simply to pass the first few months.

The first few months were the hardest. Or let me be specific. The first month was the super hardest. We were clueless. Turned out technology and Google were not able to prep us to becoming parents. All the links about nursing and parenting, all the apps downloaded, and all the lullabies from YouTube couldn't always help us to soothe Axl when he was having colic or when he decided to cry for no reasons.

Giving Axl breastmilk exclusively was another story. I was so focused on giving breastmilk exclusively that I almost ignored the signs of dehydration. Luckily I threw away my pride, gave him formula milk for a couple of days and caught up with the breastmilk production (which was basically eating lots and lots of green veggies, drinking kurkuma, drinking almond milk and gulping lots of water). Giving breastmilk to Axl is the best decision I made, because praise Lord, he hasn't been ill yet. But my oh my, it is really hard of being a breastmilk mom. I have to pump at the public toilet everyday for the last 10 months. When I went abroad for a business trip, I had to look for a freezer at the hotel, making sure my breastmilk was stored safely and I would come back home carrying a big cooling bag with lots of breastmilk pockets.

And don't let me start on how we haven't slept well ever since Axl was born. Ok, I might be lying. I did sleep very well once: the first night sleeping at a hotel in Seoul, when I went for a business trip. But no, I have never slept in anymore. We always wake up at 6-7ish, weekend included. Thanks to our very active Axl.

However, never have we ever regretted of becoming parents for Axl. The good and happy things are far more precious and memorable than the challenging stuff. Axl is a bright baby (I believe all parents would say the same thing about their babies). My mom said he is quite an easy baby too, of which I should be really thankful for. He understands a lot of things now. He likes being in a car. He loves people. He loves public places. He likes animals, especially dogs and cats. He enjoys his meal, but he prefers snacking. His favorite snack is cheese, especially Bernardi Gold Cake. He cannot sleep without his Tigger doll. He has started to be a big fan of Mickey Mouse Clubhouse. He speaks (mumbles) in bahasa Indonesia and English, but he can understand Dutch songs (he loves 'klapjes in de handjes' and 'hoofd schouder knie en teen').

So before I get all teared up, let me end this piece by saying that we are really proud and happy to be your parents. Should TimeHop still exists when you are older and you find this piece, let this writing remind you of how we really really really really love you (like Carly Rae Japsen's song. You should Google it, or whatever search engine you are using now), even when you think that we don't, but really, we do.

And for our friends, colleagues and families, a BIG thank you for all the support and encouragement. Thank you for your gifts, tips and tricks on how to nurse, parent and soothe a baby, your prayer, the leave days given, or taking over my job when I was on maternity leave, and many more. A big thanks for being part of Axl's first year.

7 June 2015

#nulisrandom Day 6: Sebentar

Pernah ngga kita pergi ke sebuah toko dan mencari suatu barang lalu si sales akan mengatakan, "oh sebentar, Bu akan saya carikan." 30 menit berlalu dan sang sales tidak kunjung kembali?

Kemarin saya selesai ngegym, saya ke bagian customer service dan menanyakan jadwal kelas untuk bulan ini. Ternyata kertas jadwalnya habis. Petugas customer service berkata "oh sebentar bu saya fotokopikan."

Saya berpikir, oh fotokopi kan cepat ya. Lalu petugas itu masuk ke dalam kantor dan 2 menit kemudian, dia kembali "sebentar ya bu, sedang difotokopikan."

Dan 15 menit pun berlalu. Saya pun agak jengkel, lalu berkata "mas, saya tinggal pulang aja. Masih lama ya kayaknya?" Dan si petugas menjawab sambil tersenyum "iya bu, sepertinya masih lama."

Lho?!

Kalau tahu masih lama, kenapa bilang sebentar?

Saya lebih senang apabila diberitahu info yang sejujurnya. Apabila memang saya harus menunggu 20 menit, maka saya tahu dan saya pun bisa memilih, mau menunggu atau tidak. Kalau cuma dibilang "sebentar", maka saya pun mengharapkan untuk tidak perlu berlama-lama menunggu.

Apakah kata 'sebentar' ini hanyalah sebuah kata ganti untuk 'tunggu saja ya'? Mungkin seperti ungkapan 'wait a second' dalam bahasa inggris, yang direct translationnya adalah 'tunggulah 1 detik'. Tapi tidak mungkin kan hanya 1 detik saja kita menunggu?

Bagaimana menurut Anda?

5 June 2015

#nulisrandom2015 Day 5: 1 Menit

Tadi pagi saya agak terlambat berangkat ke kantor. Biasa, Axl sudah bisa mulai manja. Jadi kadang dia bisa merengek-rengek di saat mamanya akan berangkat ke kantor.

Jadi begitu saya tancap gas, saya berkonsentrasi penuh untuk menyetir mobil, mengambil sela atau mencoba untuk tidak sampai ketinggalan lampu hijau. Sebel ngga sih kalau traffic lightnya berubah jadi warna merah pas saat kita akan melewatinya!

Di tengah jalan, ada mobil yang menyalip tiba-tiba. Sehingga saya berhenti. Dan ketika saya melanjutkan perjalanan, tak lama kemudian jalan saya distop oleh palang kereta api, pas saya hampir melewati jalan itu.

Sebel banget! Saya berpikir, saya ini pasti kehilangan waktu! Pasti saya akan terlambat. Itu pasti gara-gara mobil yang menyalip. Coba kalau saya tidak disalip, pasti tidak akan kena stop kereta api. Lalu saya melihat jam di smartphone: 8.12.

Tak lama kemudian, palang kereta api terbuka. Dan karena smartphone masih di tangan, saya lirik lagi jam di layarnya: pukul 8.13.

Hanya 1 menit?! Kenapa ya 1 menit bisa terasa begitu lama? Kenapa kehilangan 1 menit itu begitu penting, sampai-sampai saya mengkambing-hitamkan 1 menit ini menjadi penyebab saya terlambat?

Kadang kita disalip oleh mobil lain, atau jalan kita terhenti karena ada sepeda motor atau pejalan kaki yang menyebrang pelahan-lahan, atau ada becak di depan yang membuat laju mobil menjadi lambat. Dan kita bilang, kita kehilangan waktu karenanya.

Saya tersadarkan oleh 1 menit tadi. Sesungguhnya bukan waktu yang hilang. Tetapi ego kita yang hilang. Ego kita hilang karena sudah ada mobil lain yang mendahului kita. Kita sudah dikalahkan oleh mobil lain. Atau jalan kita sudah diambil tanpa permisi. Atau kita tidak rela jalan mobil kita dihambat oleh becak.

Apakah kita lebih memilih menyelamatkan ego daripada memikirkan keselamatan kita dan sesama?

Semoga lain kali ketika kita terlambat, kita diingatkan untuk tidak takut kehilangan ego. Saya jadi ingat sebuah iklan lalu lintas yang kurang lebih berkata demikian: utamakan keselamatan, ada keluarga yang menunggu Anda di rumah.

3 June 2015

#nulisrandom2015 Day 3: Cerita dari Jauh yang Begitu Dekat

Apakah Anda sering membuka surat kabar di pagi hari dan membaca di dalamnya berita seperti demikian: siswi dihamili oleh gurunya atau siswi SMA hamil menjelang ujian sekolah?

Apa reaksi Anda setelah membaca berita tersebut? Geram? Sedih? Atau apakah Anda malah mencibir sambil melewati berita tersebut, berpikir ini pasti sang wartawan yang kekurangan berita, karena kok berita ini lagi-ini lagi?

Tadi malam berita seperti itu saya baca dengan sedikit air mata dan helaan nafas yang dalam, karena kejadian itu benar-benar terjadi pada anak kenalan saya sendiri.

Ternyata masih ada manusia yang tidak memiliki otak dan tidak memiliki hati, yang merusak mimpi seorang remaja, demi kebahagiaan sesaat.

Dear a strong yet grieving mother I know, my heart goes out to you, your daughter and all other girls facing similar situation.

2 June 2015

#nulisrandom2015 Day 2: Enough is never enough.

Perlu diakui kita ini sering tidak mudah puas. Baik dalam mencapai prestasi ataupun memiliki barang idaman.

Tidak cepat puas sebenarnya adalah hal yang baik. Jika kita mudah puas, maka kita dengan mudahnya berhenti berusaha dan dengan gampangnya berhenti.

Pada saat kuliah, ada 1 dosen yang sangat tough. Amanda Coady namanya. Dapat nilai 7 untuk mata kuliah dia, itu sudah syukur alhamdulilah. Tapi saya ngga rela cuma dapat 7 (thanks to my Asian blood!). Saya mencoba untuk dapat nilai 8 bahkan kalau bisa 9. Well, akhirnya mentok cuma dapat 8.5 di mata kuliah marketing communications.

Rasa tidak cepat puas ini saya bawa sampai sekarang. Apalagi my ex boss adalah seorang perfectionist. Kalau saya melakukan kesalahan dalam pekerjaan, bisa saya pikirkan siang malam.

Tapi tanpa sadar, rasa tidak cepat puas ini saya bawa dalam aspek kehidupan saya yang lain. Yaitu dalam penampilan dan barang-barang yang saya miliki.

Sudah punya 1 baju merek tertentu, eh ngerasa kenapa kok ngga 2? Window shopping di Instagram dan melihat ada 'new release! Limited stock', langsung stand by dan jadi pertama yang beli koleksi terbaru.

Alhasil gaji berapapun ngga akan sanggup mencukupi "kebutuhan". Gaji 5 juta, beli 1 baju bermerek dan 1 sepatu, akhir bulan cuma bisa makan indomie. Gaji 10 juta, harusnya ngga perlu ada acara makan indomie di akhir bulan. Eh, tapi jadi kepengen beli 2 baju, 2 sepatu dan gadget baru, dengan alasan sekarang lebih mampu. Tapi akhir bulan makan indomie lagi.

Jadi harus gimana? Lebih baik mudah atau tidak mudah berpuas diri?

Berambisi boleh. Selalu belajar dan berusaha untuk jadi lebih baik malah lebih boleh. Tapi di saat yang sama, kita harus bisa mencukupkan diri dengan apa yang kita punya. Jangan sampai menginginkan apa yang tidak kita punya itu membuat kita jadi bersikap negatif.

1 June 2015

#nulisrandom2015 Day 1: One Year of Being A Not-So-Full-Time Mom

Sudah hampir 1 tahun saya jadi seorang mama. Jujur saya ingin menepuk pundak saya sendiri dan bilang "you've done a pretty good job."

Apakah saya sudah melakukan semua yang seharusnya seorang mama lakukan? Well, I don't think so. Saya masih melakukan banyak sekali kesalahan dan kadang saya merasa saya ini bukan mama yang baik.

Perasaan ini sering timbul di pagi hari, ketika saya harus mencium Axl dan say goodbye untuk berangkat ke kantor. Tidak jarang Axl jadi manja dan menangis, tidak mau lepas dari pelukan saya. Dan di situlah kadang saya merasa sedih :p

Di saat ini, saya merasa harusnya saya di rumah saja, jadi full time mom buat Axl, bukan malahan mengejar karir.

Perasaan bersalah inilah yang membuat saya tidak lagi bisa have fun seperti ke salon, mani-pedi, nonton atau yoga dengan bebas. Kalaupun saya bisa melakukan hobi saya, itupun pasti di waktu dimana Axl lagi tidur atau sedang "dipinjam" oma-omanya.

Tapi perasaan bersalah ini sering kali tergantikan dengan perasaan bangga dan haru, terutama ketika Axl tiba-tiba merangkak dan memeluk mamanya. Atau ketika saya bilang "Axl, ayo mama minta kusje!" Dan dia akan memonyongkan bibirnya atau memberikan pipinya untuk dicium. Atau ketika Axl merengek minta hanya digendong mamanya.

Melihat Axl bisa berkata "pis" (please) atau membuka tangannya kalau meminta sesuatu. Atau menyaksikan dia dengan lahapnya menyantap makanan buatan saya.

Ya, di saat-saat inilah saya ingin menepuk pundak saya sendiri dan berkata, "Nia, you've done a pretty good job."

Dua minggu lagi Axl akan berumur 1 tahun. Semoga Axl juga merasa Mamanya ini sudah menjadi mama yang lumayan lah!