23 April 2007

Lupa

Bukan hanya kalangan opa dan oma saja yang bisa dan pernah lupa. Kita yang masih muda, bahkan yang masih umur belasan atau duapuluhan bisa saja terserang ‘penyakit’ lupa.

Dulu waktu Nie masih SD pun sudah sering lupa, dan maminya Nie tidak terima kalo Nie bilang “Lupa, Mi.“ Apalagi kalo untuk hal-hal yang berhubungan dengan ulangan atau barang yang hilang. “Lupa, Mi, ditaruh dimana“ atau “Lupa rumusnya“ adalah jawaban yang paling sering Nie ucapkan, padahal Nie tau mami ngga suka. Hm, mungkin karena gampang ya bilang lupa?

Ternyata, banyak sekali cerita seru, memalukan ataupun menggelikan seputar penyakit ‘lupa’ini.

Temen Nie, berinitial FK, emang dikenal sebagai Tukang Lupa mulai dari masa kuliahnya. FK bercerita pas dulu dia kuliah sering banget dia bolos kuliah, bukan karena dia malas, tapi karena dia lupa. Yang paling berkesan adalah pas semua teman-teman satu jurusan lagi bersiap-siap untuk menuju ke kelas selanjutnya, FK malah lenggang kangkung pulang ke rumah dan TIDUR. Sorenya, teman-temannya menemukan FK di kamar kos dan ketika ditanya, FK bilang “lupa!“

Setelah bekerja, penyakit lupanya juga belum pulih. Hampir setiap kali pulang dari kantor atau akan berangkat ke kantor, FK akan ketinggalan atau kelupaan sesuatu: piring makan, sandal, buku, handphone atau dompet. Beberapa minggu lalu, FK kelupaan membawa materi siaran radio dan dia baru sadar ketika dia sudah berada di station radio tersebut, saat sedang counting down untuk ON AIR.

Geleng-geleng kepala, kan? Ternyata ada orang yang bisa lupa sebanyak itu.

Kalo Maminya Nie suka ngomel karena Nie pakai alasan lupa, ternyata, mami juga punya kebiasaan lupa. Tapi yang ini agak unik, mami suka lupa omongan dia. Jadi gini, misalnya mami sekarang lagi cerita tentang kerjaan. Lalu tiba-tiba ada yang panggil atau misalnya pas di resto, tiba-tiba pelayannya datang membawa makanan. Ketika akan menyambung omongan, Mami akan blank, lupa dengan apa yang diomongkan sebelumnya.

Hal ini tidak hanya terjadi sekali ataupun dua kali, tapi sering banget. Jadi kita sebagai lawan bicaranya harus benar-benar menyimak, kalau tidak, bisa get lost sendiri atau lebih parahnya lagi, Nie sebagai anak, sering diaccused tidak memperhatikan :(

Nah, kalo Mami, yang makin lama usianya makin uzur, boleh-boleh saja lupa. Kalo Nie yang sering lupa, nah, ini bahaayaaa…

Suatu pagi Nie dengan semangat 45 bangun pagi dan aerobic salsa di kamar. Wah, berkeringat banget deh! But, woops, uda jam 8 lewat! Harus buru-buru nih! So, Nie decided untuk take a mandi, walaupun Nie hanya punya waktu 15-20 menit. So, Nie mandilah! Keramas dan gosok-gosok badan, as usual. Setelah keramas pakai shampoo, Nie memutuskan untuk pakai conditioner, biar rambut halus, lembut dan wangi. Apalagi conditioner baru ini ada anti UV-nya (gitu sih promosinya!)

Singkat cerita, Nie sudah ada di kantor, dengan rambut masih agak-agak basah. Pas Nie lagi mau iket rambut, diikat ekor kuda, Nie merasa kok rambut Nie agak-agak lengket. Nie pikir, ah, mungkin ini karena baru selesai mandi dan tadi kan, pake conditioner. Jadi mungkin ini efek kelembutan conditioner baru itu. Namun, Nie tiba-tiba jadii feeling nggak enak. Long story short, beberapa kali Nie pegangin rambut, to check, Nie merasa ada yang janggal. Jangan-jangan,…Hm,..

So, Nie decided untuk pulang dan membilas rambut ini kembali. Dan ternyata benar, saudara-saudara, Nie belum bilas rambut Nie setelah pakai conditioner tadi .Gosh,.. Nie, lupa!!

Doh, malu banget, nggak sih? Waktu itu Nie berniat nggak kasih tahu siapa-siapa, tapi akhirnya ketahuan juga, karena Nie balik ke kantor dengan rambut basah (lagi). Malunaaa!!

Dari kejadian-kejadian yang happened di seputar kehidupan Nie, ada juga kejadian ‘lupa’ yang Nie baca di majalah Femina. I nominated this story as the worst ‘Lupa’ story ever. Here it goes…

Ibu Naning (sebut saja gitu) ini curhat, bahwa dia hobi banget lupa. Ada tiga cerita lupanya dia, namun cerita ketiganya ini yang Nie anggap paling parah. Jadi Bu Naning nih pas muda, dia kuliah di Surabaya. One day, dia mau nganterin temennya dia, cowok, yang sakit flu parah, ke dokter yang jaraknya lumayan. Dalam perjalanan, Bu Naning ni nyadar kalo kehabisan bensin. So, mereka stop di salah satu gas station. Pas mereka stop, temen cowoknya ini turun dari boncengan, dan Bu Naning lagi pasang aksi untuk isi bensin. Eh, ternyata bensin yang dicari Bu Naning lagi nggak ada. So, Bu Naning langsung berinisiatif untuk cari bensin di gas station selanjutnya.

Bu Naning mengemudikan motornya, mencari gas station. Sepanjang perjalanan, Bu Naning ngajakin ngobrol temen cowoknya, curhat mulai masalah kuliah, temen-temen, sampai masalah cinta. But, Bu Naning mulai ngerasa aneh, kenapa temennya nih dari tadi kok diem mulu, kok ngga jawab apa-apa. Pas Bu Naning noleh ke belakang, ternyata,.. walaah,… temennya ketinggalan di pom bensin yang tadi. Langsung deh, Bu Naning balik ke pom bensin itu dan ternyata temennya itu uda pulang balik ke tempat kosnya, JALAN KAKI.

Alhasil, Bu Naning disiwak (dimusuhin) ama temennya ini selama beberapa hari, terjadi aksi diam, gitu.

*ngakak*

Nah, so what is your story? Ada nggak sih kejadian lupa yang bikin kalian sendiri ngakak, atau bikin orang lain ngakak? Mau diceritakan, ya monggo, atau mau diingat-ingat lalu diketawakan sendiri dalam hati, ya silahkan.

But, whatever your story is, lupa akan selalu terjadi. Namun, bisa kok kita hindari. Kayak Nie yang suka lupa dimana naruh barang, Nie sekarang benar-benar berusaha untuk selalu mengembalikan barang pada tempatnya, even a very simple thing kayak pulpen, yang sebenernya nggak dosa kalau ditaruh di sembarang tempat. Atau accessories. Nie pecinta accessories, dan kadang kalau udah pulang malam, dan capek banget, Nie suka malas taruh anting-anting atau gelang ke kotaknya. Tapi sekarang, Nie HARUS taruh semuanya kembali ke tempatnya.

10 April 2007

Institut Tukang Pukul Indonesia

Hari Kamis lalu, Nie sudah bertekad untuk membeli Koran Tempo. Bang Bi-E uda berkali-kali mempromosikan koran ini, tapi Nie masih belum aja beli. Di sini susah sih, cari koran itu! Kompas aja, yang begitu membumi suka telat sehari. Yang paling tepat waktu ya Serambi. So, finally, hari Kamis kemarin, Nie beli Koran Tempo pas nunggu pesawat di Bandara Polonia, Medan.

Kekerasan di IPDN, Korban Diduga Tewas Dianiaya. Begitu tulis Headline di Koran Tempo hari Kamis itu.

Nie emang tidak tahu banyak tentang IPDN, kecuali kepanjangannya Institut Pemerintahan Dalam Negeri, itupun setelah nyontek di Koran Tempo. Cliff Muntu, mahasiswa tingkat 2, tewas. Dugaan polisi, penyebabnya adalah penganiayaan yang dilakukan oleh senior-seniornya.


Pamong Praja itu pelayan public. Kenapa harus dilatih secara militeristik?” kata Pak Muladi, Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional. Emang bener banget! Lulusan IPDN ini nanti akan mengabdi kepada Negara, menjadi pegawai negeri, pelayan masyarakat, kalau nasibnya beruntung akan jadi camat, atau mungkin one day akan jadi menteri atau anggota DPR. Ah, who knows?

Tapi mimpi untuk jadi ‘orang’ itu pupus sudah dari harapan kedua orang tua Cliff Muntu, korban penganiayaan yang kesekian kalinya di IPDN. Cliff bukan korban tragedi IPDN yang pertama kalinya, ada sederet nama yang tertera di Koran Tempo, dan juga Metro TV News hari ini (Sabtu, 7 April 2007). Tahun 2000, seorang pria bernama Erie dianiaya oleh senior-seniornya, lalu semenjak tahun 2003 sampai tahun 2005, IPDN telah memulangkan beberapa (mantan) siswanya ke rumah Tuhan Yang Maha Esa. Ya, IPDN seakan membutuhkan tumbal untuk kelangsungan program pendidikan pamong praja itu.

Nie jadi bingung, kenapa calon pegawai pemerintahan malah diajarkan kedisiplinan (katanya) yang seharusnya untuk porsi pelajar militer, TNI, Marinir, atau apapun yang berbau kemiliteran? Awalnya Nie pikir kekerasan ini terjadi pas acara peng-gojlok-an (atau OSPEK) yang dilakukan oleh para senior kepada para junior, tapi ternyata tidak. Kekerasan ini terjadi sepanjang tahun. Kekerasan ini malah dimasukkan dalam kurikulum kedisiplinan. Edan! Kenapa coba?

Yang lebih menyedihkan, kok bisa IPDN itu masih saja bertahan sampai saat ini. Sudah ada beberapa kali ucapan “dibubarkan saja!” tapi tidak pernah terlaksana. Padahal kurikulum dan sistem pendidikan di sana sudah tidak jelas: pendidikan pamong praja atau tukang pukul? Tadi di Metro TV News, dibilang kalau rektor, dosen-dosen, dan para petinggi IPDN tidak bisa mengatasi masalah kekerasan ini; mereka tidak berkutik. Nah, kok bisa yang dosen, guru, rektor malah tidak bisa berkuti. Kok malah jadi mereka yang disetir oleh mahasiswa? Atau mereka disetir oleh uang mahasiswa, sogokan orang tua mahasiswa?


Akhirnya Nie jadi mengerti, kenapa orang-orang ‘atas’ yang ada di pemerintahan kita ini sangat senang bermain kekerasan: pakai tukang pukul atau sewa bodyguard. Ternyata sejak di bangku sekolah, mereka sudah belajar bahwa kekerasan dapat menyelesaikan masalah. Ditambah lagi suatu kehormatan untuk menjadi ‘senior’: semakin senior seseorang, semakin besar kekuasaannya dan semakin tidak bisa dilawan dia.


So, inilah Indonesia, penuh dengan orang-orang yang dengan bangganya duduk di puncak kepemerintahan, yang dengan semena-mena menginjak-injak orang-orang yang di ‘bawah’, hanya karena dia merasa lebih ‘atas’ dibanding mereka yang di ‘bawah’. Dan kosakata menginjak-injak yang saya gunakan diatas tanpa tanda petik, jadi benar-benar menginjak-injak, alias main fisik, main pukul, main hantam, apa saja yang berbau kekerasan.

Ya, inilah Indonesia. Dan bahaya selanjutnya adalah perlindungan dari negara kepada para cecunguk yang melakukan perbuatan hina dina itu. Since senior-senior IPDN bisa berlaku semena-mena, bisa melakukan praktik ‘kedisiplinan’ kepada juniornya, tanpa takut disentuh hukum, tanpa takut dapat skorsing dari institur, mereka akan tumbuh menjadi seorang pamong praja yang tidak hanya mengagungkan posisi atas, menggunakan dan menghalalkan kekerasan, tapi yang juga sadar dan paham bahwa negara melindungi kenistaan yang dilakukannya. Ya, inilah negara kita, Indonesia Raya.

Sad, sad, sad. Shame on us!

9 April 2007

FENOMENA ACEH 07

Daster Batik

Pagi itu Nie datang ke kantor disambut oleh kumpulan ibu-ibu yang tidak jelas dari mana dan mau apa.

“Assalamualaikum” sapa Nie.

“Waalaikumsalam” jawab kumpulan ibu-ibu itu serempak.

Nie menyunggingkan senyum, berusaha menampilkan senyum yang termanis untuk mereka. Semakin aku masuk ke dalam kantorku, semakin banyak ibu-ibu yang duduk lesehan di depan kantorku.

Nie bergegas masuk ke ruangan admin, ada Hetty dan Wardah di sana. “Dah, kenapa ada ibu-ibu itu di situ?” Nie bertanya ke Wardah asal muasal ibu-ibu itu. “Oh, Pak Welly menugaskan karyawan kita yang di lapangan untuk mencari ibu-ibu yang membutuhkan sumbangan baju daster. Ibu-ibu korban tsunami. Ya itulah, bu, ibu-ibu yang akan diberikan sumbangan baju daster.”

Nie mencermati kumpulan ibu-ibu itu. Ada yang masih muda belia, ada yang sudah tua, entah apa rambutnya sudah putih semua karena uban, atau disemir hitam mengkilap. Aku tak tahu, karena semua ibu-ibu menutupi auratnya, dari kepala sampai ujung kaki. Jadi kepala mereka ditutup manis dengan jilbab. Ada ibu-ibu yang membawa anak, ada yang datang ditunggui suaminya. Ada berbagai macam ibu-ibu di kantor.

Namun, ada satu kesamaan dari ibu-ibu itu, hampir semua ibu-ibu itu memakai perhiasan emas, baik kalung, gelang, atau cincin. Ada beberapa ibu-ibu yang memakai lebih dari satu jenis perhiasan, kalung atau gelang bertumpuk-tumpuk layaknya dukun, atau cincin di setiap jarinya, seperti tukang ramal.

Nie termenung, bertanya dalam hati, apa benar mereka butuh bantuan daster? Bukankah harga perhiasan-perhiasan emas itu jauh lebih mahal daripada selembar daster?

***

Itulah sepenggal kejadian yang menggugah nurani Nie, dan masih ada serentetan kejadian yang kadang membuat Nie marah atau sampai menangis.

Sudah lebih dari setengah tahun Nie tinggal dan bekerja di salah satu kota di provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Salah satu alasan Nie ingin mengabdikan diri di kota yang beberapa tahun silam dihancur-leburkan oleh tsunami adalah ingin memberikan bantuan pada masyarakat Aceh. Mungkin bukan bantuan berupa uang, karena seperti kata Rasul Petrus dan Yahya, emas dan perak aku tak punya. Jadi yang bisa Nie berikan adalah tenaga atau kepintaran.

Namun, beberapa hari setelah Nie menginjakkan kaki di bumi Aceh ini, ada rasa penyesalan yang begitu mendalam. Mengapa Nie bisa nyampe ke sini?

***

Kereta Kencana

Minggu-minggu awal petualanganku di bumi Aceh ini diwarnai dengan kunjungan ke TLC (temporary living centres) atau biasa dikenal dengan sebutan barak. Ada yang bilang ini barak pengungsian. But, yeah, you’re right!

Oke, penampilan luar bisa saja kita sebut tempat ini sebagai barak, namun, kalau ditilik dari definisi barak, Nie rasa disebut RSS (Rumah Sangat Sederhana) saja masih belum cocok.

Hari itu, Nie bersama seorang kolega berjalan menyusuri sebuah lokasi barak di sebuah kecamatan di Aceh Barat. Nie melihat dari jauh barak-barak itu. Ah ya, Tuhan, bagaimana mereka bisa tinggal di tempat seperti itu. Atap rumbia, dinding-dinding triplek, air sungai yang mengalir yang berfungsi untuk apa saja dan siapa saja, dan siang itu, panas sangat terik. Hatiku teriris-iris.

Semakin dekat, Nie menjadi bingung. Di depan barak-barak itu ada sejumlah kereta (sepeda motor) yang diparkir dengan rapinya. Ada satu-dua kereta yang plat nomornya masih berwarna putih merah. Nie tercengang, milik merekakah itu?

Kolega Nie seakan bisa membaca pikiran Nie, “Jangan salah, Nie, mereka boleh tinggal di barak, namun kereta, mereka wajib punya. Lihat rumah di pojok itu. Ya, bapak itu punya anak tiga, dan masing-masing anaknya punya satu kereta, ditambah kereta miliknya. Jadi keluarga itu punya empat kereta!” Bibirku terkatup. Nie benar-benar tidak bisa bicara. Mata Nie menyapu keadaan di barak itu. Ya, ternyata benar. Hampir di depan setiap rumah ada satu atau dua kereta, bahkan ada yang lebih.

Darimana mereka mendapat uang untuk beli semua itu?” Aku seperti orang linglung. Kolegaku tersenyum sinis, “ya bantuan NGO lah! Uang yang mereka dapat, ya mereka buat beli kereta, atau emas, atau handphone. Atau bantuan dari NGO seperti mesin jahit, perahu, atau becak mesin, mereka jual, dan ya uangnya buat memenuhi kebutuhan gengsi mereka.

Aku terdiam.

Dan hari ini, Nie sudah kenyang melihat kenyataan hidup di bumi Aceh ini. For your information, orang-orang Aceh ini tidak miskin. Mungkin ada secuil orang-orang yang masih butuh bantuan, tapi kenapa bukan saudara-saudara mereka saja yang membantu? Kenapa masih butuh NGO atau LSM atau kucuran dana dari pemerintah Jakarta?

Anak-anak tetangga sebelah rumahku di sini, yang umurnya paling sepuluh, sebelas, atau duabelas tahun, punya handphone yang jauuh lebih keren daripada punyaku. Ringtone handphone mereka sudah lagu-lagunya Radja, Peterpan atau Ungu, sedangkan punya Nie masih polyphonic ringtone yang nggak jelas lagu apa itu. Mereka pun udah tahu MMS, bluetooth dan segala tetek bengek handphone, sedang Nie, ya cuma SMS saja lah!

***

Di Pi Di

Malam tadi, Nie pengen banget makan martabak manis. Bang Peter sempat merekomendasikan satu pedagang martabak Bangka yang enak banget. Alhasil, Nie merajuk Kak Rida untuk menemani Nie beli martabak Bangka di tempat itu.

Jadilah tadi beli martabak Bangka plus isi minyak (bensin) plus mengunjungi teman baik kami, Kak Yon, yang lagi sakit (cepet sembuh ya, kak!).

Dalam perjalanan pulang, Nie melamunkan betapa enaknya martabak Bangka ini. Hm,... sudah beberapa hari ini Nie diet, ya maklum lah, namanya cewek, perawan ting-ting, dan masih muda, ya harus jaga badan. Tapi hari ini, Nie pengen banget makan martabak ini. Manis-manis, ditambah dengan rasa asinnya keju, dan hari ini Kak Rida minta dikasih jagung. Hm, yummy! So, forget about diet!

Tiba-tiba, Nie melihat mobil City yang plat nomornya masih putih merah. Dalam hati, yeah, right, another gengsi victim! Emang kok, orang Aceh ini kaya-kaya. Mobil-mobil keren sudah mulai berdatangan. Minggu lalu, Nie melihat sebuah mobil sedan, warna merah maroon, dengan logo berbentuk lingkaran, ada warna putih dan birunya, dan bertuliskan BMW. Gila! Gitu katanya korban tsunami.

Mobil City itu bergerak mendahului kereta kami. Dan,..Goodness me! Anjrit! Edan! Dan semua umpatan tiba-tiba keluar dari mulut Nie. Kak Rida agak kaget mendengar jeritan Nie. “Kak, lihat, di mobil itu ada DVD player. Jadi mereka bisa melihat DVD di dalam mobil!!” Nie berteriak-teriak sambil menunjuk mobil City silver yang Nie maksud. What the heck?!

Kak Rida tertawa sinis. Nie masih terus ngomel, teruus, sampai kami tiba di depan rumah, Nie masih ngoceh terus.

***

Nie tidak mau didatangi oleh intel presiden atau, at least, bodyguard Gubernur Irwandi karena tulisan Nie yang ini. Nie tidak bilang kalo orang Aceh sudah TIDAK BUTUH bantuan dari orang-orang lain, TIDAK BUTUH bantuan dari NGO-NGO luar negeri. Tidak.

Yang Nie mau bilang adalah orang-orang Aceh itu tidak semenderita yang kita pikirkan atau bayangkan. Tinggalnya boleh di barak (or kerennya TLC), tapi, kereta banyak, handphone berlimpah, dan punya PARABOLA. Nah, apa mereka masih butuh dibantu? Tidak, kan.

Tau nggak, ada lho orang-orang yang secara SADAR memilih untuk tinggal di barak. Kenapa? Karena kalau tinggal di barak, mereka dapat bantuan dari NGO atau pemerintah, seperti gratis pake listrik, gratis air, dan dulu dapet gratis jadup (jatah hidup: minyak, beras, etc.). So, mereka mikir, daripada tinggal di rumah yang layak tapi harus bayar listrik sendiri, air sendiri, ya tinggal di barak aja. Gila ya!

Tapi memang ada orang-orang yang bernasib malang, yang memang harus dan untuk sementara waktu, ditakdirkan tinggal di barak. Mereka yang rumahnya kebanjiran kalo hujan turun, yang ngga bisa tidur kalau panas atau hujan karena atap rumbianya cuma tinggal separoh. Mereka yang harus mandi, cuci pakaian, buang hajat, dan minum menggunakan air aliran sungai yang sama, karena bantuan supply air dari NGO sudah selesai.

Masih ada. So, sekarang tinggal kitanya yang harus jeli, jangan terkecoh dengan rumah, muka melas, atau kata-kata manis orang-orang ini. Karena kebanyakan dari mereka, in fact, tidak miskin. Mungkin hati mereka yang miskin, miskin pengakuan, miskin rasa puas, miskin rasa bangga, miskin hati nurani, dan miskin kejujuran.

3 April 2007

Sesak Nafas

Sudah beberapa hari ini saya suka ngga bisa nafas dengan normal. Hari ini kayaknya lebih parah. Ukuran paru-paru saya kayaknya mengecil, benar-benar mengecill,... ciyut!

Trus, saya coba tarik nafas lagi. Ih, dada saya malah sakit.

Saya jadi ngos-ngosan, kayak abang becak yang habis mengayuh becaknya dari pondok indah ke kebun jeruk (emang ada becak di Jakarta?), atau dari jalan kapasan ke dharmahusada. Or kayak orang lari-lari keliling monas seharian.

Duh, kok makin ngos-ngosan.

Saya ambil air minum.

Slurup,... dingin.
Tapi dada saya masih sakit. Nafas saya masih satu-satu.
Saya minum lagi.
Glek, glek, glek,...
Uhuk,..uhuk,.. saya malah batuk.
Masih ngos-ngosan.

"Nie, ayo berangkat. pesawat ke Medan uda mo berangkat tuh!"

Ah, I'm out of breath.
Tuhan, kenapa aku harus ke Medan?

p.s. pray for me, please