22 May 2007

Titik Nol

Pulang Kampung adalah the most significant thing I have done so far. Keputusan untuk PulKam bukanlah suatu keputusan yang gampang, karena Nie harus mengalahkan (atau lebih tepatnya mengalah pada) semua idealisme yang selama ini Nie cangking (bawa) ke Aceh.

Nie pengen membuat kehidupan masyarakat menjadi lebih baik. Nie pengen menyentuh kehidupan mereka dan membawa perubahan. Nie pengen tidak ada lagi masyarakat yang menderita akibat dampak tsunami.

Tapi ternyata idealisme itu malah menjadi beban dan penghalang buat Nie. Nie, yang awalnya berpikir bahwa masyarakat di Aceh itu sangat membutuhkan, sangat perlu di bantu, sangat kasihan karena efek tsunami, ternyata mendapati bahwa masyarakat Aceh tuh sangat kaya raya. Hanya moral dan spiritual mereka yang perlu dibantu.

Nie sedih. Nie kecewa. Nie patah hati.

Most of us pasti pernah patah hati, mostly karena pacar atau pasangan hidup kita. Let’s talk about patah hati karena pacar. Kadang kita begitu sayangnya ama pacar kita, kita bener-bener yakin dia itu baek, nggak aneh-aneh, dan sesuai dengan apa yang kita pikirkan. Then, pop! Ternyata dia adalah makhluk yang sangat-sangat berbeda dengan semua bayangan kita. Dia jahat. Dia penipu. Dia selingkuh.

Then, patah hati, of course.

Yap, itulah yang Nie rasakan. Nie benar-benar patah hati. Bahkan sekarang, untuk kembali lagi ke Aceh, Nie belum mau. Nie merasa dikhianati.

Most of you mungkin masih ingat post Nie yang tentang Aceh. Yah, itulah beberapa hal yang membuat Nie akhirnya mundur. Kemunduran Nie ini bukan karena Nie merasa tidak mampu atau tidak mau berhadapan dengan mereka, tapi Nie merasa, orang-orang Aceh yang katanya membutuhkan bantuan, yang katanya miskin, ternyata memiliki lebih dari cukup. Dan Nie kemudian berpikir, bahwa masih banyak masyarakat yang sama sekali belum mengecap bantuan atau, yang banyak orang bilang dengan hidup enak.

Yes, here I am, pulang lagi ke Surabaya. Memulai lagi dari nol.

Dan memang benar teman-teman, Nie sekarang lagi merangkak untuk menyentuh kehidupan masyarakat di kota kelahiran Nie sendiri, Surabaya. Starting from my own family, then Nie sekarang rutin mengunjungi penjara-penjara di Jawa Timur. Kemarin ini, Nie uda ke Malang dan Madiun. Trus, Nie juga kasih les inggris untuk anak-anak pemulung yang bersekolah di salah satu SD di daerah Surabaya Barat. Kemarin, Nie bertelpon dengan Pak Johny, staf Wahana Visi, dan dia menceritakan pelayanannya ke gang dolly. Yap, as you may have guessed, Nie akan coba ke sana juga.

Busy? Yes.
Nie merangkak dari bawah, mencoba untuk mencapai satu titik yang lebih atas, untuk menyuntikkan idealisme Nie tentang kemanusiaan, sambil terus berbuat sesuatu yang manusiawi, dengan tidak melupakan bahwa Nie adalah manusia yang juga butuh aktivitas manusia, seperti istirahat dan bersosialisasi.

Indeed, di titik nol ini Nie banyak diubah, digembleng, di-training oleh Tuhan, seperti layaknya emas. Semakin dilebur, semakin kinclong!

21 May 2007

Ngerokok = 43 juta anak mati!

Sebanyak 43 juta anak Indonesia saat ini hidup serumah dengan perokok dan menghirup asap tembakau pasif atau asap tembakau lingkungan. Akibatnya, anak-anak tersebut terancam menderita penyakit mematikan, seperti pertumbuhan paru-paru yang lambat, mudah terkena bronkitis, infeksi saluran pernapasan, telinga dan asma, kata Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan I Nyoman Kandun, di Jakarta. Dia mengingatkan, kenyataan itu sangat mencemaskan untuk masa depan bangsa ini. Sebab, kesehatan yang buruk di usia dini akan menurunkan ketahanan tubuh saat dewasa.

So, still wanna smoke?

Source: Jawaban.com

1 May 2007

Kejujuran Seorang Koruptor

Akhirnya seorang koruptor mengakui aib yang dilakukannya, dan mungkin inilah awal dari kejujuran koruptor-koruptor yang lain. Hopefully,...

Pak Sugeng Nuhhariyanto, seorang Lurah Karang Pilang, Surabaya, kemarin akhirnya blak-blakan sehubungan dengan tuduhan korupsi dana program Bantuan Kenaikan Bahan Bakar Minyak (BKBBM). Jadi, tahun 2006 kemarin, pemerintah menyiasati kenaikan BBM ini dengan memberi bantuan, berupa uang sejumlah 300,000 untuk tiap KK (kepala keluarga).

Pas itu, Nie’ uda mikir, “ini mah ujung-ujungnya bakalan ada kasus korupsi.” Ternyata dugaan Nie ngga salah. Pak Lurah Sugeng ini adalah salah satu Lurah yang mengaku mengkorupsi uang BKBBM untuk rakyat. Applause for you, sir!

Mengapa Nie’ menganggap kasus ini spesial, lebih spesial dari kasus korupsi bulog-nya Widjanarko? Karena Pak Lurah satu ini ngaku kenapa dia korupsi. “Menurut Sugeng, uang tersebut digunakan untuk kepentingan hiburan semata. Bukan untuk kepentingan keluarga maupun membangun rumah atau membeli barang.” (dikutip dari Jawapos, Senin, 30 April 2007). Hebat! Pak, pak, uang yang sampeyan korupsi itu buat beli beras keluarga, untuk beli susu anak-anak, dan untuk membiayai pengobatan istri yang terus aja hamil.

Lebih hebatnya lagi, uang yang dipakai Pak Sugeng untuk hiburan, alias dikorupsi, berjumlah 98 JUTA. Alamak, buat hiburan apa itu ya? Kalo di Belanda, dibawa ke Holland Casino, mungkin bisa untuk supply dua hari, bahkan mungkin pulangnya bisa berlipat ganda, atau kalo ‘didonasikan’ ke Red Light District, malah bisa untuk bikin kartu abonemen atau discount card. Gila, di Indonesia, being a Lurah, uang 98 JUTA itu dibuat apa?? *Nie’ ngomel-ngomel sendiri* Apa istrinya pake Louis Vuiton? Apa anaknya pengen dibeliin I-Pod? Atau dia lagi terobsesi beli Smartphone yang ada fitur 3G?

Ini hanya Pak Lurah Sugeng, ordinary man yang mungkin nggak pernah tau apa itu mobil Lamborghini, 3G, or TV flat-screen. Gimana coba dengan ‘teman-teman’ Pak Lurah Sugeng yang punya kursi-kursi di DPR, or MPR, or Kabinet? Berapa ratus milyar atau triliun yang mereka korupsi?

Sadarkah mereka, bahwa satu tas Louis Vuiton yang mereka belikan untuk istri atau selingkuhan tercinta is equal to supply beras untuk penduduk satu kampung? Sadarkah mereka bahwa mobil baru keluaran Jepang yang mereka kendarai hari ini is more or less worth the cost for milk for babies in the rural areas in Indonesia?

Goblok kamu, Nie, jelas-jelas mereka belum sadar! Lha wong ini polisi Surabaya masih mencari teman-temannya Pak Lurah Sugeng, maling-maling ayam, yang ikut-ikutan korupsi!

Ayo, siapa yang mau menyusul Pak Lurah Sugeng, untuk bikin testimony ke publik bahwa mereka korupsi? Nie’ janji deh, pasti akan Nie’ tulis di blog ini.