30 December 2006

Met Taon Baru



Instead of making a New Year's resolution
Consider committing to a biblical solution
Your promises are easily broken
Empty words, though earnestly spoken
But God's Word transforms the soul
By His Holy Spirit making you whole
As you spend time alone with Him
He will change you from within

-- Mary Fairchild

22 December 2006

Happy Mother's day

Ibu, Anak, dan Cinta

Inilah waktu yang tepat
Seorang anak ingin mencari jati dirinya
Bantulah dengan penuh ikhlas

Cinta seorang anak kepada ibu
Adalah hati nurani
Demikian juga cinta seorang ibu kepada anak

Ibu ….
Biarlah anakmu mencari jati dirinya
Biarlah anakmu menempuh jalan hidup sendiri

Hanya doa ibu yang aku harapkan

Janganlah bersedih
Melihat anakmu pergi
Mencari jati diri, menempuh jalan hidup sendiri

Ibu ….
Anakmu bangga
Punya ibu sepertimu

[taken from www.sarikata.com]

19 December 2006

Burung itu...

percayalah kasih
cinta tak harus memiliki
walau kau dengannya
namun ku yakin hatimu untukku
percayalah kasih
cinta tak harus memiliki
walau kau coba lupakan aku
tapi ku kan slalu ada untukmu

(Ecoutez – Percayalah)

Aku tidak pernah mengerti kenapa aku bisa menyayangimmu sedemikan rupa. Saat itu, kali pertama aku menatap dua bola matamu. Aku seakan menatap sebuah jawaban dari segala pencarianku. Saat aku melihat tingkah ucapmu, seakan aku sudah yakin dimana aku akan berlabuh.

Pada saat itu, aku belum mengenal dirimu. Hanya cerita tentangmu yang sering kudengar. Ah, aku rasa itu sudah cukup untuk mengenalmu. Karena kamu begitu unik, menarik.
Saat aku tahu bahwa kamu telah memiliki seseorang dalam hidupmu, aku tidak takut. Karena keyakinanku begitu besar: engkaulah pelabuhan terakhirku. Mungkinkah anjing menikahi kucing? Atau burung menikahi kura-kura? Kita adalah burung-burung berwarna putih bersih. Mungkin burung merpati.

Hidupmu bebas. Begitu juga hidupku. Aku mendengar engkau adalah wanita perantau sejati. Saat ibumu menghembuskan nafasnya untuk terakhir kali, engaku seperti burung yang sudah siap lepas dari induknya. Engkap mengepakkan sayapmu untuk yang pertama kalinya, terbang seorang diri. Perantauanmu dimulai dari kota Semarang. Di sanalah engkau mengecap indahnya dunia, bebas dari ayah bunda. Di sanalah engaku berikrar mempersembahkan hidupmu untuk masyarakat. Ah, sungguh mulia.

Aku pun sepertimu. Aku suka terbang. Tapi indukku baik-baik saja, mereka lah yang sangat mendukung perjalananku ke dunia lain. Di ibukotalah aku memilih untuk memintal sangkarku yang pertama. Petikan gitar yang katanya hanya mampu membeli sekotak rokok atau secangkir kopi dan pisang goreng, ternyata mampu menghadirkan sebuah mobil Mitsubishi Galant tahun 1997. Tidak mewah, namun cukup untuk membawaku datang ke kota kelahiranmu.
Sekali lagi, aku tidak takut akan siapapun yang bersiap menyandingmu, karena aku yakin, engkaulah pelabuhanku.

Entah keyakinanku yang mati rasa atau aku memang manusia bodoh, tapi semua kalkulasiku meleset. Tidak sedikit usaha yang kulakukan untuk terbang bersamamu, untuk menyelami pikiranmu, dan untuk mendapatkan cintamu. Awalnya kulihat kamu mulai menyadari bahwa ada burung sejenis yang bersedia terbang bersamamu. Membawamu ke masa depan yang penuh dengan liku-liku kehidupan. Tapi bahagia. Kamu mulai sadar bahwa monyet, kura-kura, atau ular tidak pernah bisa terbang. Mereka akan diam dan nyaman saja di komunitasnya. Sedangkan kamu adalah petualang, kamu ingin terbang.

Tapi kura-kura, monyet, ular, buaya, anjing atau siapapun dia, telah menaburkan racun di hatimu. Atau dia mungkin lebih jahat dari itu? Dia sudah mematahkan sayapmu, menjual impianmu di pasar loak? Atau dia malah memotong paruhmu dan menjualnya ke museum? Kamu memilih untuk tinggal bersamanya. Kamu memilih untuk melahirkan anak-anaknya. Tidak! Tidak! Kamu lah pelabuhanku, wahai sang merpati! Sekali lagi tidak, kamu harus denganku.

Sepekan, dua pekan, dan entah berapa pekan aku menantimu. Aku menantimu bermain-main di sangkarku. Aku menanti kita bercuit-cuit bersama, menggoyangkan sayap-sayap kita, bermain terbang-terbang mengelilingi sangkar, atau hanya sekedar memakani biji-bijian di rumput. Seperti waktu itu. Aku kangen.

Pelahan-lahan, aku mulai menyadari kebodohanku. Pelahan, aku mengepakkan sayapku, kembali ke sangkar lamaku. Mencari wanita lain, yang memiliki mata yang sama, yang memiliki tingkah ucap yang sama, sambil terus berharap, suatu saat Tuhan menyadari bahwa Ia telah membuat kesalahan yang besar.

Dan aku pun bernyanyi,..

15 December 2006

Menjelang Natalan

Kapanlagi.com
Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Adang Firman mengatakan, Polda Metro Jaya akan mengerahkan dua pertiga personilnya atau sekitar 18 ribu untuk mengamankan hari raya Natal 2006 dan tahun baru 2007.

"Dengan pengamanan itu kita berharap tidak akan ada bom yang meledak pada malam Natal atau tahun baru," kata Adang Firman di Jakarta, Jumat.

(source: http://www.kapanlagi.com/h/0000148527.html)

Menjelang Natalan 2006

Katanya rukun beragama.
Katanya ada toleransi umat beragama.
Kok gini?

Kenapa sih musti ada bom?
Kenapa sih polisi harus berbaris rapi, melihat kanan-kiri, dan bersiap menembak perusuh?

Bukannya lebih enak kalau duduk di rumah, nonton acara televisi yang komersil
atau ngopi di warung dekat rumah sambil menghisap dalam-dalam putung rokok terakhir (soalnya sudah berjanji untuk berhenti merokok pas tahun 2007)
atau datang ke rumah pacar?

Katanya mau rukun
Katanya mau membangun Indonesia yang lebih baik
Katanya cinta damai.
Mana?
Kok jadi gini?

14 December 2006

Ingin..

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Aku ndak pernah bisa mengerti makna asli puisi dari Pak Sapardi Djoko Damono. Aku ingat tujuh atau delapan tahun silam, saat pertama kali aku membaca puisi ini di dalam sebuah LKS (Lembar Kerja Siswa) Bahasa Indonesia. Aku terdiam.

Terdiam lama sekali.

Dalam heningku, aku masih tidak mengerti.

Beberapa bulan kemudian, aku harus mempertaruhkan ketidaktahuanku di depan kelas. Aku harus berpuisi, ya, kupilih puisi 'Aku Ingin'.

Sampai saat ini, setiap kali aku membacanya, selalu kutemukan pesan-pesan tak terduga. Entah itu yang bersifat romantis atau misterius.

Sepertinya aku masih harus belajar kata-kata apakah yang tidak sempat diucapkan kayu kepada abu, dan isyarat yang tak tersampaikan awan kepada hujan. Supaya aku lebih mahir dalam mencinta dan dicinta.

6 December 2006

Aahh,..

Jika anda sedang bergulat melawan ketidakpuasan, tanyakan pada saya apa arti kepuasan.

Tanyakan pada saya mengapa saya memilih menjadi pelayan dengan gaji duajuta sekian daripada menjadi bos bergaji enambelasjuta sekian.

karena hidup saya lebih dari pada memuaskan kepuasan

Tanyakan pada saya mengapa kantor ber-AC dan tampilan full make-up tidak lebih menarik dari kunjungan ke tenda-tenda pengungsi.

karena hidup saya lebih dari kepuasan memuaskan.

Tanyakan pada saya bagaimana cara tetap tersenyum dan bersyukur di akhir bulan, saat saldo rekening hanyalah seribulimaratustujuhpuluhlima rupiah

karena hidup saya telah dipuaskan

JKT051206

20 + 2

Adakah yang bisa kubanggakan dari umur yang duapuluhdua tahun ini?

Adakah kendaraan roda empat yang membawaku ke nirwana, tercipta dari cucuran keringat?

Adakah kalungan emas atau permata yang seakan membuatku mirip sapi yang diperah oleh kehampaan duniawi?

Adakah ukuran celana bagian belangkangku menjadi lebih tebal karena tiap jengkal otot kupekerjakan dengan sempurna?

Adakah aku harus kelelahan menaiki tiap tingkap istanaku, berjalan menuju puncaknya?

Apabila itulah tolak ukur kebanggaanku, nampaknya aku harus direlokasikan dari bumi.

Karena masih terlalu dangkal genangan cucuran keringatku dan belum banyak hasil perahan susuku. Otot pantatku pun terlalu lemah untuk menyangga beban lebih dan tungkaiku masih bergetar untuk menaiki banyak tingkap.

Adakah yang bisa kubanggakan dari umur yang duapuluhdua tahun ini?

Lalu samar kulihat namaku dalam buku besar sorgawi.

JKT051206

28 November 2006

SMS

Dear Bil

Billy,
Semalaman aku tidak bisa tidur. Aku berbaring namun tak menutup mata. Tanganku sibuk membolak-balik handphone. Aku membaca ulang SMS yang engkau kirimkan padaku akhir-akhir ini. Kau membuatku terjaga.

Aneh. Aku seperti jatuh cinta pada huruf-huruf yang ada di layer handphone perakku yang sudah tua. Aku tersenyum, menangis, bahkan aku rindu pada huruf-huruf itu. Aku tidak yakin apa itu juga berarti bahwa aku merindukanmu.

00.37
Aku masih terjaga dan sibuk membalas SMS-mu. Kamu bilang, jika mungkin kamu ingin menikahiku. Aku tersenyum masam, sambil berpikir, I wish you could.

Bil, aku tidak pernah paham akan cintamu. Dalam setahun terakhir ini, berapa kali kita bertemu? Yap, hanya satu kali, Bil! Itulah kali pertama dan terakhir aku melihatmu. Sisanya, hanya SMS-SMS inilah yang cukup berani mewakili perasaan kita. Aku bingung, bimbang, tidak bisa mencerna perasaanmu padaku. Apa yang kamu cari dariku, Bil? Apa yang kamu lihat dariku?

Kematangan dan pengabdian. Jawaban yang sangat diplomatis, Bil. Tapi itu tidak cukup untuk dijadikan tolak ukur perasaanmu. Ketika aku mencoba mencari jalan tikus di antara perasaan kita, aku masih tidak menemukan logika dalam perasaan kita.

Aku memang tidak pernah, dan tidak akan pernah ingin mengakui bahwa aku jatuh cinta padamu. Tidak, Bil! Aku rasa di pertemuan kita yang pertama pun sudah kamu lihat benda berwarna kuning melingkar di jari manis sebelah kananku. Dan di pertemuan pertama kita, kubawa serta orang yang memberikan cincin itu. Aku tidak bisa mengatakan kalau aku mencintaimu, Bil, dan aku tidak akan pernah mau.

01.50
Aku masih terjaga.
Aku sudah gila, Bil! Dan sekarang aku sedang mencari skenario yang tepat untuk mengakhiri kegilaanku, atau aku harus menjebloskan diriku ke Rumah Sakit Jiwa di jalan Menur.

Bil, masih ingatkah kamu apa pekerjaanku? Aku konselor, yes I am. Aku membantu para wanita dan pasangan suami istri yang sedang mengalami krisis rumah tangga. Aku memberikan konseling pra-nikah. Aku konselor waras yang menentang perselingkuhan. Masih ingatkah kamu ceritaku tentang seorang gadis di depan rumahku yang ditinggal kawin oleh suaminya? Aku menangis bersamanya. Aku memeluknya dan aku memberinya tumpangan selama beberapa hari. Dan sadarkah kamu, Bil, aku berselingkuh sekarang!!

Tidak pernah kubayangkan harus menyayangi dua orang pria sekaligus dalam hidupku.

Selama ini yang kutahu adalah banyak laki-laki itu brengsek, buaya darat, punya istri puluhan tersebar dimana-mana dan suka kawin cerai. Aku selalu membayangkan sesosok pria buncit, berkumis, berdompet tebal, dengan kunci mobil keperak-perakan di saku celana depan, dan ditambah senyum yang menggoda. Ya, merekalah lelaki beristri dua, tiga, empat dan seterusnya. Tapi, inilah aku, Bil! Aku, wanita dengan berat 55 kilogram,tinggi 165 centimeter, bekerja sebagai konselor di lembaga perlindungan wanita, berkacamata minus, soloist gereja, dan bersuami satu! Bil, aku selingkuh!

03.00
Masih kupandang handphone berwarna perak ini. Sejak awal, sudah kuyakinkan diriku bahwa aku tidak mencintaimu, Bil! Aku tidak tahu apa yang kulihat darimu dan apa yang membedakanmu dengan Mas Hen. Apakah karena kamu bukan seorang musician yang tidak pernah punya jam kerja yang pasti? Apakah karena kamu mempunyai rumah dengan kolam renang dan treadmill pribadi? Apakah karena kamu begitu perhatian dan sayang anak kecil? Apa, Bil? Aku tidak tahu! Yang aku tahu, kamu selalu membuatku tersenyum saat membaca SMS-mu. Kamu selalu membuat hariku lengkap. Meskipun kamu tidak pernah kutemukan wujud nyatamu di sampingku, huruf-huruf kirimanmu itu seakan menggoreskan senyuman di hariku.

04.58
Bil, sudah subuh. Sepuluh menit lagi aku harus bangun dan menjemput Mas Hen di Bandara. Kemarin Mas Hen konser di Banjarmasin. Yap, di kota kelahiranmu.

Ingatkah kamu, aku pernah bertanya sampai kapan kita akan seperti ini. Kamu bilang, hanya Tuhan yang tahu. Tapi, Bil, aku pun perlu tahu and unfortunately belum ada free access untuk langsung mendapat jawaban dari Tuhan itu, entah Tuhan mana yang kau maksud, Bil.

Bil, selamat tinggal.
Kali ini aku bersumpah untuk tidak mencarimu lagi. Jangan cari aku, Bil. Please. Bebaskan aku.

Au revoir, Bil.


Jakarta, 5 September 2006

***

“Pak Billy, ada paket, pak. Ini diminta untuk tanda tangan.“ Wanita tua berambut sebahu masuk ke ruangan kerja Billy Hermawan.

Billy melirik kotak coklat itu tanpa ada keinginan untuk membukanya. Ia pun menggoreskan tanda tangannya, asal-asalan, di kertas merah muda yang diberikan Bik Iyem.

Billy meraih kotak itu dan merobek pembungkusnya.

Amplop bertuliskan “Dear Bil“ dan handphone berwarna perak.

23 November 2006

Masalah

Tidak untuk disimpan, tetapi untuk dibagikan

Tidak untuk disesali, tetapi untuk dirayakan

Bukan tanda kelemahan, melainkan kekuatan

Tidak menjauhkan, tetapi mendekatkan kita dengan Tuhan

Tidak untuk dihindari tetapi dihadapi

Bukan kutuk, tetapi berkat

Bukan cobaan, melainkan ujian untuk mendapatkan mahkota

(diambil dari buku yang lagi dibaca Kak Frida)

17 November 2006

Kursi Tua


11-11-2006

Aku ingin duduk di sana. Menikmati tiap detik tawamu.

Ingin aku duduk lama di kursi tuamu, duduk sangat lama.
Ingin kupandangi satu-satu poster-poster selebriti sepak bola yang mengihiasi dinding kamarmu, yang seakan ingin menguasai dinding kamarmu, tidak mengijinkan secercah warna putih muncul di sela-selanya. Mereka lambang kejayaanmu. Di saat engkau masih rela membiarkan kulitmu terbakar teriknya matahari jam dua belas siang. Di saat engkau masih melihat wanita tidak lain adalah penjajah, yang membuat hidupmu menjadi 20 jam sehari, atau kurang. Di saat engkau mungkin tidak pernah melihat dimana aku duduk.

Ingin aku berputar-putar di atas kursi tuamu, yang biasa kau pakai untuk menemanimu membunuh malam tanpaku. Malam dimana kau tekan 14 digit nomor dan menanti nada yang menyambungkan dengan separuh jiwamu, separuh nafasmu. Malam dimana engkau berharap bahwa esok adalah akhir dari empat tahun penantianmu. Ah, sayang sekali, besok pun belum bisa menggenapi hitungan satu tahun. Kau pun bertanya, dimana bisa kubeli sisa waktu itu?

Ingin aku melihat tempat tidurmu, kasur dimana engkau membaringkan kepalamu di saat kursi tuamu sudah berderit, tanda tak mampu lagi menahan beban. Di kasur itukah kau tertawa lebar memimpikanku? Di kasur itukah kau merasakan keputusasaan dan kesedihan saat semuanya menjadi suram? Di sana kah kau merasakan hatimu menangis walaupun matamu terlalu sombong untuk menitikkan airnya? Iya, aku ingin duduk saja di kursi itu, berayun-ayun memandang engkau terdiam, entah tertidur atau duduk, di kasur itu.

Ingin pun aku merasakan dinginnya keramik lantai kamarmu. Sedingin itukah perasaannya padaku, begitu batinmu dulu. Tapi aku kembali, sayang. Kembali aku, meminta ijin untuk memasuki kembali hatimu, yang ternyata tak pernah kau ijinkan untuk tertutup. Sedingin itukah cuaca di sana, tanyamu lagi dalam hati. Semoga salju terus turun supaya dia ingin pulang merasakan kehangatan, harapmu.

Iya, aku masih ingin duduk di sana. Ingin kurasakan hembusan angin dari kotak putih di atas kasurmu. Itukah helaan nafasmu saat berulang kuhunus dadamu dengan kekesalan yang sama? Aku menitikkan air matamu. Kurasakan pedihmu. Ingin aku berjalan menghampirimu, namun masih kurasa nyaman kursi tuamu ini. Putar, putar, kursimu ini memang sudah tua.

Aku ingin duduk diam di kursi itu. Sekarang aku kembali, tapi tak lama. Ingin aku berdebat dengan waktu, memohonnya untuk diam. Ingin benar kupinjam momen itu. Momen dua mata memandang, dua tangan menggenggam dan keheningan. Ingin benar kuabadikan momen ini.

Aku ingin menjadi kursi itu. Bodohnya aku, sedari tadi harusnya kuakui jika aku cemburu. Aku cemburu pada kursi tuamu. Kau biarkan dia menemanimu bertahun-tahun. Kau biarkan dia memandangmu begitu dalam. Kau biarkan dia mengenal seorang engkau yang sebenarnya. Kau biarkan dia tahu makanan yang kau benci dan kado ulang tahun yang kau harapkan. Kau ijinkan dia bergembira bersama tawamu, dan menjadi air mata untuk kesedihanmu. Aku cemburu, sayang.

Sayang, aku ingin menjadi kursi tuamu. Aku ingin ada ketika engkau membuka mata. Aku ingin mata kita beradu, membiarkannya berkata ‘aku sayang kamu’. Aku ingin di sampingmu untuk menjadi yang pertama mengucap ‘selamat pagi’, walau aroma yang kusimpan 8 jam dalam mulutku ikut keluar. Ah, aku tak malu! Aku ingin menjadi kursi tuamu, yang kau ijinkan menatapmu, mengerti dirimu, dan menjadi bagian dari hidupmu sampai aku tua. Sampai aku tua? Ah tidak, aku percaya engkau akan membiarkanku menyayangimu lebih lama, karena kursi tuamu itu pun tak tergantikan.

10 November 2006

Pergi - 2nd CerPen!

Aku sayang kamu, ri!
Nadanya kali ini benar-benar beda dari biasanya. Terri yang biasanya hanya tersenyum simpul dan menggoda Nando apabila mendengarkan Nando mengungkapkan cintanya, kali ini terpaksa terperanjak dari duduknya. Matanya menatap Nando penuh pertanyaan. Terri menggumam dalam hati, Nando marah. Terri memilih untuk berjalan pelan, tapi pasti, meninggalkan Nando yang menyesal, telah memarahi Terri.

***

Rasa sayang Nando tanpa logika, begitu kata John. Terri setuju, tetapi ketika John memutuskan untuk mencaci-maki Nando, Terri sangat tidak setuju. Sudah puluhan bulan mereka berpacaran, dan baru saja mereka masuk ke level yang bisa dibilang cukup serius, dan kali ini, untuk pertama kalinya John membuat hubungan mereka terlihat sangat kekanak-kanakkan.

John, sudah kubilang! Aku akan menyelesaikan semuanya sendiri, dengan caramu. Tidak perlu emosimu ikut campur.” Terri jarang sekali marah, tapi apabila dia marah, nampak jelas kedua sungutnya, di sebelah kanan dan kiri. Mukanya kemudian berubah warna, menjadi merah; lebih merah dari seekor lobster. John marah, dan suara terakhir yang didengarnya adalah hening. Telepon ditutup.

Rasa sayang John tidak pernah mudah untuk dimengerti. Kadang rasa sayangnya berarti kegembiraan, di kesempatan lainnya, rasa sayangnya berbentuk amukan dan hinaan. Kadang rasa sayangnya berupa kehadirannya yang tiada henti, antar jemput yang rela dilakukannya. Tapi kadang kealpaannya pun berarti sayang, menurut John. Bulan kemarin, John seperti lupa kalau sudah punya pacar. SMS tidak pernah dibalas, missed call juga tidak digubris, apalagi datang untuk apel ke rumah Terri. Bulan kemarinnya lagi, John membanjiri rumah Terri dengan hadiah. Maklum, bulan DesemberTerri berulang tahun. Pas persis di hari ulang tahun Terri, John memberikan kalung yang sudah dipesan khusus olehnya. Di hari kedua, John mengajak Terri untuk bermobil ke puncak, melihat pemandangan malam dan bintang-bintang, dan entah hari keberapa itu, John menjemput Terri di pagi-pagi buta dan membiarkan mobil sport John membawa mereka ke bandara Soekarno-Hatta. Tahu kemana John membawa Terri? Mungkin tebakan anda tidak meleset, ya, ke Bali. Hanya untuk bermain-main di pantai Nusa Dua, lunch di salah satu cafe di daerah Nusa Dua, dan early dinner di Jimbaran. Dan mereka pun pulang kembali ke Jakarta.

Bulan sebelumnya lagi, bulan November, John menghilang. Bukan hanya tidak membalas SMS, missed call atau the real call, tapi tidak ada yang tahu John kemana. Di akhir bulan November, tepat 3 hari sebelum ulang tahun Terri, John muncul. Terri berusaha menanyai kemana John pergi, tapi John hanya tersenyum sambil bercanda. “John, please be serious!” Terri sudah tidak tahan. John kembali tersenyum, tapi kali ini dia sembari menggenggam kedua tangan Terri, dan berkata, “bisnis, sayang, bisnis.” Pementasan John kali ini diakhiri dengan kecupan di kening Terri, dan John pun pergi, membiarkan Terri menggeleng-gelengkan kepalanya.

Bulan ini, John sudah cukup membuat sensasi. John menelpon Nando dan memaki-maki Nando. Nando, kenapa harus kamu, Nando? Bisa dibilang ini adalah suatu kebetulan, tapi kebetulan ini begitu indah, tapi berakhir dengan cukup menyakitkan, kalau memang ini adalah akhir.

Bulan lalu, bulan Januari, John menghilang lagi, dan kali ini Terri sudah lelah. John memang selalu mengobral rasa sayangnya pada Terri. Terri juga senang mendengarkan rayuan John, ucapan kata-kata sayangnya. Terri menikmati rasa sayang John, tapi kali ini dia sudah lelah. Terri lelah akan ketidakpastian. Terri masih lebih pasti menanti kenaikan gajinya, daripada menanti keseriusan hubungannya dengan John.

Eri, ini Nando. I’m home.
Terri pasti akan lupa Nando siapa itu kalau dia tidak melihat kata ‘Eri’ di awal SMS yang ia terima di pagi buta, benar-benar pagi yang buta. Di pagi itu, Terri sudah dibutakan oleh kegembiraannya menerima SMS Nando. Terri dibutakan oleh kenyataan bahwa dia sudah memiliki John. Terri dibutakan oleh kisah masa SMU-nya. Terri juga sudah dibutkan oleh kata ‘Eri’ diawal SMS, yang adalah panggilan khusus yang diberikan Nando untuk Terri.

Nando adalah masa lalunya, dan masa datangnya, begitu imbuh Terri. “Dia juga masa surammu, mimpi burukmu” imbuhku akhirnya. Kali ini Terri harus mengakui bahwa aku benar. Nando adalah sahabat dekat Terri semasa SMU. Nando atlit sepak bola yang pada saat itu cukup harum namanya. Nando adalah idola semua wanita, tidak hanya kalangan muda, ibu saya pun dulu fans berat Nando. Nando jatuh cinta pada Terri, tapi tidak begitu ceritanya dengan Terri. Terri selalu tertawa dan menganggap Nando bercanda apabila Nando mulai merayunya. Singkat cerita, hubungan persahabatan mereka putus, karena Terri akhirnya sadar bahwa dia tidak akan pernah bisa mencintai Nando. Nando pun menghilang. Layaknya atlit sepak bola indonesia lainnya, yang harumnya mudah sekali pudar, nama Nando hanya bertahan menghiasi koran-koran Indonesia selama dua tahun. Semenjak Nando menghilang, banyak sekali gosip-gosip yang beredar. Bukan gosip yang sekarang kita lihat di infotainment tidak bermutu yang disiarkan di televisi swasta, tapi ini gosip dari orang-orang yang terpercaya. Dari guru-guru sekolah, dari teman semasa Nando masih sempat mengecap bangku kuliah, dari orang tua Nando yang sudah memanggila Nando dengan sebutan ‘anak durhaka’, sampai dari manager klub sepak bola Nando yang terakhir. Mereka tidak ada yang tahu kemana Nando pergi. Nando menghilang,.. puff!

Nando boleh menyerah dibidang olah raga, namun tidak demikian di bidang asmara. Nando selalu mengirimkan SMS kepada Terri di saat-saat yang, boleh dibilang, sangat monumental, sangat tepat. Terri, yang awalnya ‘menolak’ cinta Nando, mulai goyah melihat usaha Nando. At least, 1 tahun sekali, Nando akan mengirimkan SMS-SMS cinta pada Terri. Dan selang beberapa minggu, Nando akan pergi lagi, entah kemana, dan membiarkan Terri bingung: ingin menanti atau melupakan Nando. Inilah masa suram yang kumaksud tadi. Tiga tahun yang lalu, Terri memutuskan untuk melupakan Nando, dan di saat itulah Terri bertemu John.

Nando memang anak durhaka, tidak tahu diri. Meskipun Terri sudah berhubungan dengan John, tetap saja SMS cintanya tidak berhenti menghiasi handphone Terri. Awalnya John cuek saja, itulah John! Cowok metropolis yang menganut azas kebebasan penuh. Terri pun sudah berjanji pada dirinya, pada hatinya untuk berhenti mengharapkan Nando. Namun, kali ini, usaha Terri mulai diuji. Terri goyah, dan welcome back masa suram. Welcome back sleepless night and two-face life.

Kali ini, semenjak berhubungan kembali dengan Nando, yang katanya hanya sebatas teman, Terri pun mulai menghapus nama John, sedikit demi sedikit, dari agendanya. “Makan malam bareng John” diganti dengan “Nonton konser with N” atau “Chatting with N”. Terri masih terlalu takut untuk menulis Nando besar-besar di agendanya. Intinya, Terri mulai menghindari John.

18 hari. Ya, kalau tidak salah sudah delapan belas hari hidupku dihiasi oleh tangis dan tawa Terri yang tak bosan-bosannya berkisah tentang pahlawan Nandonya. Super Nando. Dan tepat di hari yang kedelapan belas, Terri bukan lagi penderita tuna netra. Terri sudah bisa melihat kemana arah hubungannya dengan Nando akan berlabuh: another ketidakpastian. Terri pun sudah mulai bisa melihat kesungguhan John. Bulan ini, bulan Februari, tepat tanggal 14 Februari, John memasukkan kotak kecil ke dalam tas vintage Terri. “Buka di rumah, yang, dan telpon aku as soon as you open it.” Terri agak bingung, karena John bukan tipe romantis yang ikut ber-pink ria untuk menyambut hari valentie. Hari ini, John, untuk pertama kalinya, menyelipkan kotak kecil warna merah muda dengan pita putih, ke dalam tasnya.

Cincin.
I cannot marry you this year, but I can give you certainty that I love you. Kita tunangan, yuk!” Begitu ucap John begitu Terri meneleponnya. Air mata Terri meleleh. Dan di hari yang sama, 14 Februari, Terri kembali menyebut nama Nando dalam percakapan mereka. John marah besar, dan terjadilah drama sensasional. John melabrak Nando. Dan pementasan berakhir. THE END.

***

Jaman sudah berganti. Terri tidak lagi berambut panjang, berpenampilan feminin dan lemah lembut. Terri sudah menjadi pribadi yang mandiri, berambut pendek a la Hepburn dan berpenampilan praktis.

I’m home.
Terri yang sedang menyedot Java Chips-nya terdiam. Nomor yang asing, namun pesan yang sangat familiar, terlalu familiar untuk membuat hatinya berdegup kencang. Terri seakan mencoba melongok melihat isi hatinya, mengecek nalarnya dan diakhiri dengan menatap dalam-dalam cincin di jari manisnya. Terri tersenyum dan memasukkan handphone-nya ke dalam tas Louis Vitton-nya.

John, kita pulang, yuk!” Terri mengamit lengan John dan melangkah dengan pasti meninggalkan kedai kopi itu.

p.s. Plz comments-nya dunk!!! saya kan masih amatiran!! ayo, phien!! dihina (or dipuji) CerPen sayaa!

7 November 2006

My first published CERPEN

Kopi Hitam

Aku sudah berhenti minum kopi. Hari ini adalah hari yang ke empat puluh tiga aku tidak minum kopi. Sepertinya ini adalah suatu kemajuan. Aku menjadi sangat takut untuk meminum kopi. Mencium bau aroma pahit dan sedap biji kopi pun aku tak sanggup. Lebih baik aku lari, atau menutup pintu kamarku rapat-rapat.

Aku ingat beberapa minggu silam, ketika aku mencengkram dadaku dan terduduk di kursi biru dekat meja belajarku. Aku sesak nafas. Bukan karena Galih. Aku kebanyakan minum kopi. Sebenarnya, Galih memang mempunyai sedikit peran dalam membuatku sesak nafas. Sudah cukup lama, untuk ukuran kami, kami tidak berkomunikasi. Hal itulah yang membuatku ingin berpuasa, hanya puasa tidak makan, dan yang pada akhirnya membuat aku sesak nafas.

Pada saat itu, aku memang pecandu berat kopi. Aku tidak bisa disebut ‘sudah bangun pagi’ kalo belum meminum seteguk kopi pahit, officially cukup seteguk, tapi nampaknya itu jarang sekali terjadi. Biasanya aku paling sedikit meminum secangkir kopi tubruk atau kalau pagi itu aku cukup rajin, aku akan menyalakan coffee machine dan membiarkan Brazilian coffee mengisi dua atau tiga mug kebanggaanku, mug putih, tinggi bertuliskan ‘BIG’. Seperti pagi itu, aku terlamat bangun dan semangkuk oatmeal yang biasa kucampur dengan susu terpaksa kutangguhkan, dan kuganti dengan setermos kopi pahit panas yang kubawa dalam tasku. Akhirnya pagi itu kupaksa perutku menerima kopi pahit sebagai pengganti sarapan.

Galih. Belum bosan aku menyebut dia dalam setiap doaku. Kembali ke masalah kopi. Puasa yang kulakukan, dalam mengiringi doa-doaku yang kupanjatkan kepada Allah, dengan nama Galih terucap di setiap baitnya, membuat aku meneguk kopi demi kopi. Bukan untuk pelarian, ataupun pelipur lara, tapi memang pada saat itu aku bodoh. Sering memang kubuat kopi sebagai pelarian akan rasa laparku. Malam-malam, ketika aku harus mengetik makalah yang harus dikumpulkan jam sembilan tepat keesokan harinya di ruangan dosen, membuat aku menyalakan coffee machine dan menuangkan lima sampai enam sendok ukuran, kopi espresso ke dalamnya. Pada saat aku berpuasa, untuk Galih, aku memilih untuk tidak makan, tapi tetap minum kopi, dan air putih tentunya.

Bodohnya aku.
Saat aku mencengkram dadaku dan keringat mulai membasahi peluh dan telapak tanganku, aku mulai menyesal. Aroma cappuccino yang baru saja kuseduh membuatku mual dan berjanji, “Ya Allah, aku akan berhenti minum kopi. Jangan sekarang, ya Allah.” Allah memang Maha pengasih dan Ia mendengar semua jeritan umatNya. Aku masih hidup.

Selamat tinggal, kopi.

***

“Lg apa? R u okay?
SMS singkat itu kubaca berulang-ulang. Aku tidak mengerti apakah memang aku yang bodoh atau akan datang bulan. SMS ini membuat aku tidak tidur semalaman. Aku merasa si pengirim sedang menaruh hati padaku, atau mungkin belum menaruh hati, tapi hanya tertarik padaku. Ah, apakah aku GR? Belum kukenal pria ini.

Cepat-cepat kubuka buku Agenda 2006 yang ada di dalam tasku. Di saat teman-temanku sudah mulai memiliki PDA, atau paling tidak menggunakan fitur Agenda di handphone mereka, aku tetap setia pada buku agenda kuno yang bentuknya selalu sama. Dan selalu warna hitam.

6 September. Belum sebulan yang lalu aku bertemu dengan Viko. Pertemuan kami pun sangat simple dan tidak terduga. Percakapan kami hanya berkisar sepuluh sampai lima belas menit, itupun masih plus interupsi dari teman-teman, dan Galih. Tidak pernah aku berpikir akan mendapat SMS darinya. Mendapat satu kiriman SMS darinya pun tak pernah aku bermimpi, apalagi puluhan SMS demi SMS yang akhir-akhir ini menggantikan waktu baca bukuku.

“Oh, kamu toh yang namanya Wil! Saya kira cowok.“ Itulah kata-kata yang paling kuingat dari seorang Viko. Viko pun tahu pasti status Galih sebagai pacarku. “Cowokku juga suka sepak bola. Kalian mungkin bisa tanding gitu deh!” Aku pun berusaha mempromosikan Galih sebagai cowokku.

Aku tidak mengerti. Aku bodoh.

Km marah? Lagi ngapain?

Satu SMS lagi. Kalau tidak salah, hari ini aku sudah menerima sepuluh SMS, dan semuanya dari Viko.

Aku tidak mau membalas SMS Viko lagi, cukup sudah, Wil! Hatiku masih bergejolak. Telapak tanganku pun masih basah karena dari tadi aku meremat-remat handphone-ku. Tidak, Wil, kamu tidak seharusnya berhubungan seperti ini dengan Viko.

“Wil, ngopi! Gue pesenin nih yang Big Size en kali ini gue inget, just black! Bener gak?!” Mas Bagus, manager logistic yang wong jowo asli, nampaknya lupa mengetuk pintu kamar kerjaku. Dia langsung nyelonong dan menyodorkan segelas besar kopi. Mas Bagus hobi minum kopi, seperti aku dulu. Dia bekerja di lantai 8, dan aku di lantai 3. Kadang, kalau kebetulan Mas Bagus pas lewat, dia akan membawakan atau sekedar menawarkan secangkir kopi. Namun, Mas Bagus sudah bertobat. Mas Bagus ini sudah terhasut oleh tulisan di majalah kesehatan mengenai efek kopi. Di majalah itu, yang menurutku lebih mirip catalog iklan, ditulis kalau pria yang mengkonsumsi caffeine secara berlebihan, kemungkinan infertility-nya lebih tinggi. So, nggak beda jauh sama merokok. “Awas merokok mengakibatkan impotensi.” Jadi, Mas Bagus sudah bertobat dari kebiasaan mengopi lima waktu, sekarang paling cuma dua kali.

Mas, saya sudah ngga minum kopi. Sudah jalan dua minggu.” Mas Bagus terdiam. Sepertinya dia tidak percaya. “Wil, kamu sakit?” Benar dugaanku, Mas Bagus bingung. “Ndak, mas, saya cuma mau berhenti saja. Takut mandul, mas!” Aku mencoba bercanda. Mas Bagus malah menarik kursi dan duduk, “Dik, kamu ada masalah ya?”

Kutatap kepulan asap dari gelas Styrofoam berisi kopi yang dibawa Mas Bagus. Pandanganku tak berkutik. Aku menghirup dalam-dalam aroma kopi yang dibeli Mas Bagus di Filosofi Kopi yang jaraknya tidak jauh dari kantorku. Ben’s Perfecto. Harum biji kopi yang memberikan aroma pahit mulai memenuhi rongga hidungku. Aku memejamkan mataku. Menarik nafas lebih dalam lagi. “Mas, apakah kopi ini masih boleh aku minum?“

Aku kalah. Perjuanganku selama tiga minggu sia-sia sudah.

Aku meneguk Ben’s perfecto dalam-dalam, dan beberapa detik kemudian handphone-ku bersuara. Another SMS.

***

“Aku ingin bertemu dia. Aku tidak mengenal dia.“
“Aku tidak ingin menciptakan Viko jadi-jadian, yang hanya exist di dunia fantasiku. Aku ingin mengenalnya lebih jauh, jadi ketika aku memutuskan untuk membuang namanya jauh-jauh dari hidupku, aku melakukan itu karena aku mau bukan karena aku harus.“

Lida terpaksa harus mendengar segala keluh kesahku. Aku sudah tidak tahan lagi. Aku serba salah. Ketika aku menjauhi Viko, hatiku berontak. Hatiku seakan berkata, “jangan bohongi aku. Kau menikmati SMS Viko, kan?” Tapi ketika aku membalas SMS Viko, bahkan kadang aku menerima telponnya, aku pun menangis, “Ya Allah, apakah aku selingkuh?” Aku merasa bersalah pada Galih.

Aku menuangkan decaffeinated coffee instant ke dalam mug putihku. Aku berusaha ‘menebus dosa’ dengan hanya meminum decaf coffee, yang instant pula! As if it helps. Sebenarnya decaf or non-decaf tidak ada bedanya, hanya kandungan caffeine di decaf coffee lebih kecil. Decaf coffee adalah sebuah kepalsuan. Menurutku, decaf coffee adalah secangkir minuman berwarna hitam dengan rasa kopi yang tidak jelas, atau aku biasa bilang, rasa palsu. Minum decaf coffee sama halnya dengan minum jus durian yang harganya cuma Rp. 5.000,- Ke dalam jus durian itu, dicampurkan, minimal, setengah gelas sirup durian, air, dan es batu.

Dan sebenarnya aku menentang keberadaan kopi instant. Kopi instant itu kebohongan. Tidak ada namanya kopi instant. Pembuatan kopi itu membutuhkan proses yang lama untuk menghasilkan kebohongan: rasa pahit jadi-jadian dan wangi kopi buatan. Kopi instant itu pemaksaan; memaksa sesuatu yang tidak ada menjadi ada. Akhirnya rasanya pun terkesan seadaanya, atau maksa! Tapi, yah, apa boleh buat, aku sebenarnya sempat berikrar untuk tidak minum kopi lagi. Kali ini aku benar-benar butuh kopi. Sebenarnya, ada sih, keuntungan mengkonsumsi kopi instan, yaitu kita dapat mengatur tingkat “kekerasan” kopi yang kita mau. Selain itu, kopi instant membantuku untuk tidak kembali kecanduan kopi dan aku pun tidak perlu mengeluarkan coffee machine-ku dari gudang.

Wil, kamu jangan naïf. Ketika kamu bertemu dengan Viko, lagi, aku yakin kamu akan menikmati pertemuan itu. Dan kamu akan memintanya lagi, lagi dan lagi. Kamu akan kecanduan. Galih, dia pria baik-baik. Walaupun dia tidak tahu menahu mengenai hubunganmu dengan Viko, aku yakin Galih merasakannya. Apakah kamu tidak sadar, bahwa masalah yang kamu alami dengan Galih saat ini adalah bukti bahwa Galih pun merasakan pahitnya hubungan kalian. Bukan hanya kamu, Wil! Galih juga merasakan kebimbangan itu.

Lida benar. Ketika Galih mengatakan bahwa dia merasa tidak yakin akan hubungan kami dan ingin introspeksi diri, pada saat itu pula aku mulai menikmati cinta Viko. Galih lah yang biasanya menanyakan keadaanku, menemani ku dengan suaranya, atau paling tidak SMS-SMS romantisnya, sebelum aku tidur. Namun, sudah beberapa minggu ini Viko yang hampir tidak pernah absen mengirimkan SMS. Walaupun aku sudah memarahi dia untuk tidak mengirimkan SMS cinta padaku lagi, dia nekad; dan aku pun luluh.

Wil, kamu sudah bukan remaja belasan lagi. Masa depanmu itu bukan hari esok, tapi hari ini, detik ini yang kamu jalani. Inilah hari esokmu. Sekarang kamu coba berpikir, bisakah kamu melihat hari esok dengan berjalan bersama Viko? Atau malah dengan Galih? Bisakah kamu melihat Viko sebagai pria yang kamu lihat setiap hari saat kamu membuka mata? Bisakah mau melihat Viko sebagai ayah bagi anak-anakmu? Bisakah kamu melihat Viko menyayangi kamu? Ataukah gambaran itu kamu lihat pada sosok Galih?

***

Lida, ya? Masuk,...masuk!
Aku mengintip dari jendela depan. Lida memang tidak berencana mampir ke rumah hari ini. Namun, Lida kebetulan belanja di Mal Cempaka Mas, jadi sekalian dia mampir.

Sorry, bos, di rumah lagi kacau. Aku nggak tau kalau kamu mau datang. Mau minum?“ Lida langsung berjalan menuju ke dapur. Lida memang tahu rumah ini dengan sangat baik. Biasanya dia memang selalu self-service.

Wil, kamu sehat, kan?

Lida terdiam menatap dos-dos kopi yang masih baru, mulai Brazilian coffee, Kopi tubruk, Douwe & Egbert Kopi dari Belanda, Kopi Sumatera, dan Kopi Tiwus-nya Filosofi Kopi. Plastik-plastik belanja masih berserakan di lantai. Hal yang membuat Lida lebih terkejut adalah munculnya coffee machine yang baru di dapur Wilhemina. Warna hitam.
Aku tersenyum dan memeluk Lida. Thanks, Lida!


p.s. Big thanks to Filosofi Kopi – nya mbak Dee yang menginspirasi saya untuk menuntaskan cerita ini. Trus buat teman-teman yang berpartisipasi dalam memberikan saya saran, doa, pujian dan hinaan. Thanks, I am over it now.

6 November 2006

Besok,..


Nia lagi sedih, sekaligus releaved.
Sedih, karena Nia besok bakal pergi ke Meulaboh lagi.
Tapi releaved, karena finally Nia sudah bikin decision, yang probably good for one side and not for another side.
Kali ini benar-benar short-term trip, karena Nia cuma +/- 1 bulan di Meulaboh. Nia akan finish up everything I have started dan mencoba untuk pulang ke Surabaya on December.

Doain ya,..
Be home for birthday, Christmas, Stefy's examination, Stefy's birthday and old & New is very meaningful to me.

Farewell, Nia!

4 November 2006

Kata mereka

Kata Golda:
"ni..ni...aku pengen ngomong k kmu satu ni..klo kmu uda ada komitmen ma stefy..ntah sekecil apapun komitmen itu..dijalanin yang serius ya...aku ga blg kmu kudu stick ma stepy.nope...aku cmn pengen blg tentang komitmen nya...supaya kmu jalanin aja..soalnya aku ngerefleksiinnya jadi sama seperti hub kita ma DIA kan..sekecil apapun komitment kita..pasti DIA juga ga mau dikecewakan.."

Kata Nietz:
aku uda baca blogmu
puji Tuhan nie klo uda gpp
klo bukan krjaan'Nya...sapa lagi coba... ;)
hehehe...
sbnrnya kmrn aku sempet bngung pas kmu nanya gmn enaknya ma stefy
cm aku pikir dlm sgala hal lebih baek jujur
walopun awalnya susah...tp endingnya pasti baek...

Setelah apa yang terjadi, Nia jadi merefleksi diri. Sudah seberapa siapkah saya melangkah ke jenjang selanjutnya? Apakah Nia masih suka lirik sana sini, berharap there could be another boy next door that could be my actual soulmate? Atau Nia sudah yakin kalau Stefy ini, so far, 'the one' yang Tuhan kasih ke Nia?

Setelah Nia diam, lamaaa banget.
Nia jadi yakin.
Setelah Nia ingat Stefy.
Nia jadi lebih yakin.

Bukan cowok pinter bikin website yang Nia cari.
Bukan cowok yang pinter maen drum yang Nia suka
Bukan cowok yang gila olah raga dan berdandan a la J.T. yang Nia pengen
Bukan cowok yang punya jiwa sosial yang tinggi, yang ingin hidup di pedalaman yang Nia impikan.
Dan jelas bukan cowok yang berkantong tebal, mempunyai imbuhan MM atau MBA di belakang namanya, dan membawa kotak kecil berisi sebuah lingkaran seberat 24 karat yang Nia dambakan saat ini.

Nia suka cowok yang mengimpikan punya DVD player di mobil X-trail-nya tapi sadar kalau materi yang dia miliki bukan milik pribadinya.
Nia suka cowok yang tahu bahwa tamat Sarjana plus punya usaha belum tentu bisa memberi makanan istri dan ketiga anaknya di kemudian hari.
Nia suka cowok yang menempatkan pacarnya di tempat kedua setelah Tuhannya dan tahu bahwa tanpa Tuhan, dia bahkan tidak exist.
Nia suka cowok yang gila olah raga tapi masih ingat kalau minggu depan dia ada bimbingan skripsi, jadi harus stay at home, menyelesaikan skripsi.
Nia suka cowok yang mengirim SMS "sorry ngga bisa ikut!" pas diajak main billiard hari Sabtu malam, karena dia tugas singer di acara persekutuan doa.
Dan Nia suka cowok yang bisa Nia ajak melipat tangan bersama-sama, menekuk lutut bersama-sama, memejamkan mata bersama-sama, dan mengucapkan doa bersama.

Dan kayaknya rumah cowok itu cuma berjarak 15 menit dari rumah Nia.

3 November 2006

Lebih enak yang mana?

"Lebih enak dicintai, daripada mencintai."

Aku dulu tertawa ngakak mendengar ungkapan ini dari mulut teman baikku, yang sekarang aku anggap seperti kakakku sendiri. Bagaimana mungkin dicintai itu lebih enak?

Aku jadi mengingat kisah klasik Siti Nurbaya. Mbak Siti yang lemah. Mbak Siti yang wanita. Mbak Siti yang manut kata orang tua. Apa enak cuman dicintai Datuk Maringgi? Apa iya dicintai Datuk Maringgi bikin happy?

Trus saya jadi teringat pepatah wong jawa kuno. “Tresna jalaran saka kulino.” Apa iya cinta yang datang begitu saja, yang merupakan hasil dari perasaan cinta yang diberikan ke kita, membuat hari kita lebih indah? Apa iya jika kita dicintai tanpa kita mencintai orang itu bisa bikin hubungan kita bahagia? Live happily ever after?

Tapi dalam kasus kehidupanku, tepatnya yang terjadi 2 hari yang lalu, perasaan dicintai ini ternyata memberikan doping tersendiri buatku. Seminggu kemarin, kembali terulang peristiwa tidak bisa tidur. Ketika mata ini terpejam, tiap detik yang terlintas hanyalah rasa bersalah. Scene-scene film horor indonesia bahkan tidak bisa mengalahkan kengerianku di tengah malam.

Aku memang bersalah.
Kesalahan yang terus didaur ulang, yang hanya berubah wujud, namun asal muasalnya tetap sama: sampah. Aku hidup dan menghirup kesalahan itu. Aku berkubang dalam dosa yang tidak berbeda dari kemarin.

Suatu malam, aku seakan tersadar, terbangun dari mimpi-mimpi yang layaknya film horor Indonesia. Aku tahu, aku harus jujur. Apapun resikonya. Walaupun itu adalah kehilangan kesempatan menjadi bahagia.

“Aku butuh ngomong.”
Kalimat ini lebih dari cukup untuk melengkapi semua firasat buruknya selama berminggu-minggu ini. Dan terungkaplah semua busuk. Terciumlah bangkai yang dari kemarin kuberi pita, glitter dan kusemprot Channel No.5. Terlihatlah noda-noda dan kuman yang kemarin-kemarin ini kumanipulasi dengan efek blur dan texturize di Photoshop.

Tidak ada lagi menangis tersedu-sedu. Aku pasrah.
Hanya sekali-kali kata maaf terucap. Karena kali ini tidak akan kujual kata maafku untuk membeli cintanya.
Tidak lagi aku membela diri. Aku menunggu dicaci maki. Aku menunggu dihujani umpatan dan mendengar luapan emosi.
Tapi diam.

“Kamu marah?”
Aku tidak melihat logika dari alur cerita kehidupanku. Kali ini aku tidak bisa mencerna. Hening, benar-benar hening. Aku bahkan tidak tahu apa kata-kata apa yang harus kuucap selanjutnya.

“Nggak. Kalau sudah terjadi ya mau diapain.”
What? Hanya itu??
“Aku hanya butuh waktu untuk menenangkan diri.”
Aku membiarkan diriku digerogoti oleh rasa bersalah. Lebih dalam, lebih dalam, dan dalam. Aku membayangkan yang buruk-buruk. Aku membayangkan dia akan bangun pagi-pagi dan menyadari bahwa dia telah membuat kesalahan yang besar. Aku takut. Gelisah, namanya.

“Kesusahan sehari biarlah untuk sehari.”
Aku ingat tawaku saat dia mengutip ayat Alkitab ini, enam tahun lalu tepatnya. Sok! Kupikir waktu itu. Tapi prinsip itu ternyata masih dia terapkan sampai saat ini, seperti dalam kasus kemarin contohnya.

“Makanya, lain kali kalo diomongin orang tu ya mbok nurut.”
Dan dia mencium rambutku dan memegang pundakku dari belakang. THE END.

Ternyata memang benar, dicintai itu indah. Tapi aku masih yakin, saling mencintai itu lebih indah. Seperti kali ini, aku memang bahagia ketika aku masih dicintai, meskipun aku telah benar-benar salah. Tapi aku lebih bahagia, ketika aku tahu bahwa aku mencintai orang yang benar.

2 November 2006

Nonton Glenn

Seru abieZ! Heheh,.. bukan glennya. Beberapa pembaca setia 'sisi lain' mungkin pernah dengan kalau Nia kurang suka Glenn. Tapi kenapa hayoo nonton Glenn?? Berubah alirankah??

Bukan. Kemarin ini, rencananya ngasih tiket surprise buat Si Stefy (From now on, he didn't want me to call him Bang, kesannya kayak orang2 desa, katanya!). Tapi karena malam sebelumnya kami bertengkar (stupid me!), akhirnya surprise itu lebih terkesan seperti seremoni hukuman mati. Aku ngasih amplop berisi tiket dengan hati yang deg-degan. Semalaman aku ga bisa tidur, mikirin, "Mati,.. gimana ya? dia masih mau nonton konsernya ga ya?" Dan pas si Stefy uda menerima amplop berisi tiket nonton GLENN FREDLY (gitu lhoo!!), dia diam dan tersenyum sinis.

Jrep! Jrep!
Hatiku hancur.
Kata-kata selanjutnya adalah,..
"Buat apa ini? Sayang-sayang uang!"

Dengan nada yang membuat saya ingin mengambil rencong dan menghunuskannya pada hati saya.
Tes! Air mata menetes.

Long story short, pergilah kami bersama-sama, bergandeng tangan, dan dengan langkah yang menyeret karena pengen bermanja-manja, menonton konser Glenn Fredly di Van Java Cafe. Kami sudah baikan. Despite acara gondok-gondokkan yang berlangsung hari Selasa malam dari jam 9-12 malam dan berlanjut sampai ke hari rabu pagi sampai siang. Dan juga despite 'surprise'-nya Nia yang guaring dan ternyata, usut-punya usut, si Stefy mengalami keanehan, tidak suka disuprise-i dan dibohongi untuk diberi surprise (ngga seru, loe, yang!). Despite semua itu, kami senyum-senyum nonton Glenn.

Saya duduk. mendengarkan. menatap ke arah Stefy. Dia tersenyum. Dia bernyanyi-nyanyi kecil mengikuti si Glenn yang lincah di atas panggung. Dia tersenyum lagi.

Jujur, it was the most precious moment. Saya senang karena Stefy senang. Saya senang karena saya bisa bikin Stefy senang. Saya pun senang karena kesalahan yang saya buat sudah dianggap sampah yang tidak bisa didaur ulang. Benar-benar sudah masuk ke keranjang sampah dan tidak diharapkan untuk keluar lagi dalam wujud apapun.

Kami pun pulang, tapi kali ini dengan langkah terseok-seok karena kebanyakan berdiri.

Lagu Glenn menggema di telinga saya,..
"dan, dengarkan sayangku.
Aku mohon kau menikah denganku.

Yang, hiduplah denganku.

Berbagi kisah hidup berdua.
"

Kapan ya ditanyain gini? :P

30 August 2006

Cowok-cowok ganteng dalam kehidupan Nia

Ho, sudah hampir umur doea poeloeh doea nih! Jadi udah lama juga ya saya malang melintang dalam dunia melihat cowok. Wekekek,… saya inget pertama kali saya suka ma cowo ya pas SD. Hi hi hi,.. cinta monkey buangetz! Tapi bener-bener mulai gemar melihat tampang cowok tuh ya es-em-peh gitu deh!

Nah, kali ini Nia mo cerita tentang naik turunnya, differensiasi dan tipe-tipe cowok yang Nia suka, mulai dari doeloe pas es-em-peh sampek sekarang, udah lulus kuliah dan lagi mencari lapangan job! (susah juga ya cari kerja!)


#1 Cowo Imoetz

Dahulu kalah, Nia selalu suka sama yang namanya cowo bermuka imuuut. Jadi yang lutu-lutu gitu, trus yang putih, dan kebanyakan keturunan Chinese sih yang nia suka. Nia rasa nih gara-gara pengaruh pilem-pilem kayak si Ular putih, Yoko (pendekar rajawali), To Liong To, Ksatria Baja Hitam, Ultraman,.. Juga manga-manga jaman baheula dieh! Kayak golongannya Candy-candy (Hu,.. saya suka banget ama Paman Terry atau Anthony) trus komik favorit saya Ring Memory and Time Limit.

Tipe ini tidak berlangsung lama. Eh, tapi saya pas SD tuh lumayan setia lho dalam hal naksir cowo. Dari kelas 2 SD sampek 5 SD naksir satu cowo, yang sekelas juga ma Nia. Kenapa gagal? Awalnya memang kita deket, kayak kakak adik gitu. Nia sayang banget ma nih cowo, tapi dia akhirnya membenci Nia (ihik, hik,.-.-) karena dia tuh pinter bangetz dan rajin jadi juara kelas. Once I beat him. Dia sebelll banget! Ya udah, setelah itu dia membenci Nia mati-matian. Tapi Nia tetep dengan setia naksir dia dan menunggunya, ya sampek kelas 5 SD itu. One morning, ada anak baru, pindahan dari luar pulau yang lucu juga. Pertama sih biasaa aja, tapi anaknya super baekk. Lucunya, nama anak ini sama dengan nama cowo yang Nia taksir sebelumnya. Sampek kelas 6 SD Nia naksir dia, tapi ya ngga mungkin doonkkk anak SD maen ‘tembak-menembak’. Jadi ya Cuma dipendam.

Heheheh,…
Pas SMP awal-awal, hm,.. naksir ketua OSIS (ups, my confession), yang imut. Trus cowok2 yang laennya ya gitu-gitu deh, mukanya yang lucu2 gitu. Kalo artis Indo, Nia suka Teuku Ryan. Itu lho,.. yang maen Abad 21 sama jadi personelnya Cool Colors. Kalo artis bule, ya siapa lagi kalo bukan Nick Carter (doh,..!) Sampai at one afternoon, I changed my mind.

#2 Cowo penganut Kribologi
Heheheh, kata-kata Kribologi nih minjem dari acara Quiznya Prambors, entah arti sebenarnya apa. Tapi, what I meant in this posting is cowo yang keriting. Kenapa Nia suka cowok keriting? Nah, ini adalah akibat menonton 10 things I hate about you (film yang sudah ditonton ma Nia lebih dari 10 kali dan tiap kali nonton selalu nangis!). Si Heath Ledger yang ganteng itu kan berambut keriting. Saya cintaaa abiez ma nih cowo, walaupun sekarang saya udah agak2 ilfil, karena Mas Heath ini maen di Brokeback Mountain. Dan bis gini dia mo maen jadi musuhnya Batman L sedih dieh! Nah akibatnya, Nia jadi mulai lirik-lirik cowo yang keriting. Eh, tapi bukan keritingnya orang papua ya.

Nia suka keritingnya Nicholas Saputra. Kesannya lucu banget dan sexy,.. wekekkek darimananya yeee?!
Soal ukuran badan, ini sedikit lebih improved. Dulu pas suka cowo imoet, Nia suka cowo yang kecil trus mukanya lucu. Sejak fell in love ma Mas Heath, Nia jadi suka cowo yang agak-agak jantan. Yang badannya gedee trus berdada bidang. Sampai saat ini pun, Nia masih suka Kak Nicholas Saputra, walaupun nyokap bilang mukanya jutek. Biarin, tapi ganteng! Wekekekek,… Kalo cowok keriting, ya,.. tergantung ya…

#3 Cowo Item Maniez

Nah, ini yang saya anut sampai saat ini! Banyak temen2 yang bilang saya aneh, karena saya nih kan keturunan cina, mustinya ya suka ma orang berwajah Asia abiez, seperti personel2 F4 getuuh! Tapi kok saya malah ilfil ya kalo liat cowo2 berwajah cina abiez dan berdandan sok cina. Apalagi yang berdandan sok jepang! Nah ini malah bikin sakit perut. Nia suka tampang cowok asli Indonesia, yang matanya gede, kulitnya hitam, trus yang terlihat bukan cowok rumahan. Heheheh,.. gile,.. Nia demanding buangetz! Okeh, kalo dari negri sendiri, selebs ya,… nia suka Ello! Duh, nih cowok lucu abiez! Nice banget. Nia pernah ketemu secara live, dan bener2 lucu mukanya. Trus dulu suka Frans-nya Lingua, yang sekarang dah beristri (sayaaang sekali!!).

Truuus,.. oh itu yang baru Nia liat, vokalisnya Samsons. Nah, setipe lah ma Ello. Lucu juga mukanya.
Kalo artis bule,.. heheheh emang ada ya artis bule hitam manis. Hm,.. bentar, let me think ya!
*think hard*

*think even harder*

Kok rasanya ga ada ya…. Heheheh,.. kalo orang bule ada. Pas di belanda tuh, ada customer Nia yang orang kulit hitam, asli Surinam. Lucu banget dan kalo senyum maniss banget!! Itu obatnya Nia kalo pas males kerja. Heheheh,.. dia sering datang pula, soalnya rumahnya deket banget ma supermarket tempat Nia kerja.

Nah itu dia, ‘perjalanan’ Nia sampai saat ini. Wekekek,.. lucu juga mengingat-ingat masa muda. Tapi despite all of these, ada beberapa tipe yang Nia selalu pegang teguh, sampai saat ini.

- Badut

Entah kenapa, dari dulu kalo ditanya tipe cowo yang Nia suka adalah cowo yang bisa bikin Nia ketawa. Jadi despite tipe2 yang Nia udah sebutin di atas, dia harus lucu. Entah kenapa ya! Pokoknya dia harus bisa ngelucu, dan harus seru! Tapi kalo tipe badut sejati ya agak susah, karena orang ini pasti ga bisa serius. Nah, ini juga refot sekaleh!

- Olahragawan
As I said above, cowonya ga bole cowo rumahan. Nah, dia harus suka kegiatan di luar, suka olah raga. Nia nih hobi banget olah raga, pokoknya something ya dilakukan di luar rumah deh! Kayak renang, lari pagi, trus panjang gunung (walaupun pemanjatan terlama dan gunung tertinggi yang pernah dipanjat adalah gunung Bromo yang dilakukan dengan Mobil Hardtop :P) tapi Nia tak suka fitness.

- Tukang ngobrol!
Nah, ya self explanatory deh! Kan ini lanjutannya badut. Jadi selain hobi mbanyol, dia ya harus nyambung kalo diajak ngobrol. Dan ngobrol apa aja deh!! Mulai politik sampai ke masalah pribadi seperti makanan kesukaan, hobby de el el.

- Seniman

Ini juga agak-agak awkward. Nia selalu suka ma cowok yang berhubungan dengan dunia seni. Kalo dulu sih belum ya, tapi lately deh! Dan seni nih boleh seni apa aja. Boleh seni musik (suka nyanyi, suka maen musik), seni lukis (suka gambar, design2 gitu), fotografi, atau seni peran. Anehnya lage, Nia selalu terpana melihat drummer. Heheheh... mungkin karena gayanya yang keren ya.

Sudah lah,.. jangan ditulis lagi deh, Nia! Kesannya demanding banget deh! Wekekek,.. tapi ya inilah luapan hati di saat lagi puyeng translate buku.
Kalo ada yang pengen tau apa cowo yang ada dalam kehidupan Nia sekarang masuk, at least, salah satu dari katagori di atas, jawabannya: IYA! Hehehhe,.. tentu donk! Nanti deh, lain kali saya tulis profile dia menurut kacamata Nia. Janji deh! *sst,.. jangan dibilangin ke orangnya ya. Mau buat surprise!*

18 August 2006

Anak-anaknya Nie


Saya udah lama banget gak blog shopping, alias belanja-belanji ke blog temen-temen tercinta saya. Maklum, connection di Indo kan agak-agak lemot, dan akhir2 ini saya lebih ter-occupied dengan kegiatan job hunting saya. Fewh,…

Akhirnya kok kemarin tuh, setelah punya ‘speedy’ yang ternyata speed-nya cukup bisa diandalkan untuk connect ke internet dan donlot2 lagu, saya kembali blog shopping!

Lucu juga, baca kalo si iphien dah ada job, di kantor yang penuh cowo2 ganteng! *jadi pengen balik ke belanda, phien! Ngecengin co2 keren dan segar* trus saya datengin blog favorit saya, punya mbak modjo!

Lalu saya jadi terinspirasi untuk nulis hal yang sama, soal cara didik mendidik anak, berandai-andai gimana nanti kalo mo punya anak.

- Saya mo punya anak maksimal tiga, dan kalo Tuhan ngerasa itu kebanyakan, ya dua deh! Pokoknya jangan sampek satu aja, kasian anaknya. Trus untuk cowok pa cewek, saya terserah. But jujur, saya kok prefer semuanya cowok. Heheheh,.. nia kan bisa jadi paling cakep se rumah! Wekekekek,.. tapi susah juga, kalo cowok ntar pada pergi semua, ngga ada yang ‘ngopeni’
- Soal urusan nama, hm,… saya tuh suka nama yang unik. Jadi saya pengen banget kalo nama anak-anak saya tuh terdiri dari huruf2 nama saya dan suami saya. Contoh nama saya kan Nia, trus suami saya anggep aja namanya Asep. Jadi bisa aja nama anak yang pertama Sepia, trus kedua Nipa, dan yang ketiga Aia (bacanya Aya). Hehehe,.. kreatip ya. Tapi doain nama suami saya bukan Asep, wekekek :D
- Anak saya harus bisa bahasa inggris. Jadi saya mau ngomong bahasa inggris terus dan kalo suami saya orang Indonesia, ya anak-anak ngomong bahasa Indonesia ama suami, or kalo suami saya juga mo ngomong bahasa inggris ya udah, di rumah full English. Aku rasa anak-anak kan pasti belajar bahasa Indonesia dengan sendirinya.
- Karena root saya orang Chinese, saya kok ya pengen anak-anak saya bisa bahasa mandarin. Trus karena saya punya banyak kenangan dengan belanda, dan keluarga saya bisa bahasa belanda, saya pengen mengajarkan bahasa belanda ke anak-anak saya. Mungkin nggak harus fluent, tapi at least ngerti istilah2 tertentu: eten, slapen, drinken, bidden, etc.
- Anak saya harus suka olahraga dan jarang nonton tivi. Apalagi kalo di Indo! Doh, bayangin, anak-anak jaman sekarang tuh tontonannya sinetron, like tersanjung2 gitu! Bo,.. nggak deh!!! Anak-anak tuh harus be like anak-anak. Nonton Dora the explorer, Teletubbies, Sponge Bob, Disney, and (a must) Looney Toons. Thus mereka harus suka berenang, lari pagi dan kalo cowok ya sepak bola lah!
- Anak-anak saya tidak boleh terlalu sering denger lagu-lagu orang dewasa. Karena pengaruh sinetron tadi, banyak anak-anak sekarang nyanyinya yang lagu soundtrack sinetron itu. No way!! Saya inget dulu pas kecil saya sukanya tuh Enno Lerian dengan Nyamuk-nyamuk nakalanya, atau Bondan dengan Lumba-lumbanya. Eh, sekarang mana tuh?! Hampir ga ada artis cilik lho! Bayangin, masak anak umur 5 tahun nyanyi cinta-cintaan, jangan sakiti hatiku, ingin kubunuh pacarmu, lho,… mana donk pendidikan yang baek buat anak-anak?!
- Anak-anak saya harus suka makan sayur. Pokoknya saya akan jadi the best vegetarian chef, buat masakin sayur mayur yang enak buat anak-anak saya. Misalnya spaghetti sayur, donat dengan sayur, skotel sayur, tempura sayur, pokoknya sayur-mayur tuh dimacem-macemin, divariasi supaya anak-anak suka. Buah juga wajib! At least 1-2 fruit a day! Dijus atau dibikin smoothies! Yummy!
- Anak-anak saya mau saya ajarkan untuk sayang dan mau bergaul dengan semua orang. Apalagi kalo tinggal di kota besar like Surabaya, banyak sekali kasus diskriminasi: yang hitam dengan yang putih, yang kaya dengan yang kurang kaya, yang anak boss dengan anak supirnya boss. Pokoknya anak-anak saya mau saya ajarkan untuk sayaaang ke semua orang, like God loves us unconditionally.
- Most important, anak-anak saya harus cinta Tuhan. Mama saya selalu bilang, cinta Tuhan tuh bekal yang ngga bakal habis di dunia ini, dan bekal yang bisa kita bawa mati. Kalo kenal Tuhan, cinta Tuhan, apapun yang terjadi, one can stand firm.
- Saya ngga tau bakal dimana saya tinggal or dengan siapa saya nikah, tapi yang pasti saya orang Indonesia. Jadi, ya, saya akan berikan ini ke anak-anak saya. Mereka harus kenal budaya Indonesia dan inget kalo mereka juga orang-orang Indonesia (or partly orang-orang Indonesia kalo Nia nggak nikah ma orang Indo).
- Oh iya,.. saya mau anak-anak saya bisa main musik. Entah mereka pengen apa, tapi seperti kata mama saya, piano tuh basic yang bagus! Jadi dari kecil saya akan les-kan piano.
- Anak-anak saya harus hidup sederhana. Pokoknya ngga sembarangan beli ini beli itu. Saya mau ajarkan untuk berbagi juga. Kayak mama saya, dari kecil, kalo saya dan adek2 saya ulang tahun, kami selalu pergi ke panti asuhan untuk bagi-bagi kue di sana. Saya pengen anak-anak saya juga gitu!
- Saya pengen mewariskan talenta saya dalam menaiki sepeda, hehehe,.. mereka harus bisa naek sepeda. Dan kalo cowok naek skateboard, obsesi pribadi yang tak kesampaean. Wekekke :D
- Finally, saya pengen anak-anak saya bergaul akrab ama sodara-sodara sepupu, karena saya nih bener2 kesepian. Ngga akrab ma sodara sepupu, dan mereka tinggalnya jauh-jauh juga. Jadi saya pengen anak-anak saya bisa akrab ama sepupu2nya. Juga sama tetangga,.. soalnya pas saya kecil, akraab banget ama tetangga. Tiap sore naek sepeda keliling kompleks.

Doh, ini kok jadi obsesi pribadi ya! Aniwe, ini kan impian saya, saya tau pasti ini akan ‘dipoles’ oleh suami saya. Hoo,.. masih berapa taon lagi yaaa punya anak?! :P

3 August 2006

“Dia berselingkuh dengan laki-laki.”

Buat yang tahu hubungan saya dengan Bang Tepy, atau most of you would be more familiar with “Mr. weirdo”, saya ini sudah berhubungan selama lebih dari 5 tahun. Lama ya,.. tapi 4 taunnya tuh long distance. Sedih d!!

Ketika saya balik ke Indo, for good, memang saya udah pernah denger gossip kalo bakal ada saingan saya. Hm,.. saya tenang-tenang aja, lha wong udah pacaran 5 tahun gitu lho,… malah 4 tahun pake long distance. Nah, berarti kan sudah cukup teruji, toch?! Jadi saya ngga takut kalo ada saingan yang berusaha merebut bang Tepy.

Pas saya pulang, ternyata saya temukan saingan saya adalah seorang pria, cowok, makhluk adam. Ya ampoon!! Kenapa coba?!!! Kok bisaa?!!

Heheheh, buat yang udah kenal Nia dengan baek dan tahu kisah cerita di atas pasti tidak kaget, malah ngakak abis-abisan. Sebenernya cowok saingan saya tuh bernama Kak Cheeze, begitu Joan, my little sista, memanggilnya. Dia nih udah kayak bagian hidup dari Bang Tepy and vice versa. Mereka udah kenal dari mereka masih seupil. Selama saya tinggal ke Belanda, Bang Tepy lebih milih untuk selingkuh dengan Kak Cheeze dibanding sama cewek-cewek Surabaya yang putih-putih dengan tas LV yang dibawa kemana-mana. Mungkin godaannya lebih kecil,.. hehehe.

Just kidding!
Kak Cheeze ini adalah sohibnya Abang dan mereka nih bener-bener dekeet abis. Apakah saya jealous? So far ngga. Aku malah respect hubungan persahabatan mereka. Aku rasa itulah persahabatan yang natural, yang apa adanya.

Saya suka denger cerita si Abang marah2in Kak Cheeze karena kecerobohannya. Pernah sekali si Abang naik darah dan mau memberikan bogem mentah, tapi tak jadi. Omongan yang dilontarkan Abang emang kasar, tapi apa adanya.

Ah, kadang true friendship just rarely exists. Saya kalo sama temen, even temen baek sekalipun, kadang masih suka mikir kalo ngomong. Kadang malah suka memendam apa yang pengen diomongin. Kadang malah Cuma mikir dalam hati, sambil sebel-sebel sendiri.

Ada juga teman yang malah ngomongin di belakang, ngejelek2in kita di belakang kita. Atau yang mengkhianati kita. Ah, kok rasanya punya temen baek tuh susah banget ya?!

Waktu saya ditanya sekali lagi, apakah saya jealous ama Kak Cheeze, jawabannya tidak. Saya senang. Saya bahagia melihat friendship mereka.
Friendship award

Kalo ada Friendship Award, saya pasti akan pilih Bang Tepy dan Kak Cheeze sebagai the best couple (although mereka bukan couple, as loving couple). Mereka represent friendship yang ga pandang bulu, ga pandang status, ngga pandang ukuran bibir (wekekek) dan tinggi badan (heheh saya kok menghina terus ya?)

Terus kalo untuk category the best enemy, saya akan pilih temen saya pas SMU dulu. Eits, jangan kira saya masih musuhan ama dia, tapi sekarang ini kita udah deket lagi. Tapi sedih banget kalo inget2 pas masa SMU. Temen saya, panggil aja Rien, nih bener2 serigala berbulu domba. Di depan saya tuh kayaknya pendukung setia saya, kayak Robin-nya Batman, atau Alfred-nya Batman, atau Sam Gamgee-nya Frodo Baggins. Tetapi kalo pas gaul ama temen2 laen, terutama temen2 yang kontra ama saya, Rien bisa jadi kayak Magneto yang musuhan ama Professor, atau kayak Lex Luthor dan Superman.

Selingkuh award

Nah back to urusan selingkuh. Di Indo nih lagi trend masalah selingkuh, setiap artis yang cerai pasti ujung-ujungnya dikaitkan dengan orang ketiga (kenapa selalu orang ketiga coba? Kenapa tidak orang ke-empat, kelima? Sapa tahu orangnya udah selingkuh lebih dari sekali :P).

Latest news tuh ada grup band indo, namanya Ratu, yang satu istrinya Ahmad Dani (Dewa), namanya Maia dan satunya lagi namanya Mulan. Dua2nya cakep, eh diisukan kalo si Ahmad Dani nih nikah siri ama Mulan. Dodol! Serakah amat!

Kalo saya suruh memberikan award buat ajang perselingkuhan, hm,… sapa ya? *think hard*,…..
*Think even harder*
No idea!

Tapi tante saya minggu lalu ke gereja, dan dia cerita khotbahnya yang about pernikahan. Tante saya cerita kalo kadang jika pasangan udah nikah lama, mereka akan bosen. Kok itu2 aja yang dilihat tiap hari! Dan akhirnya muncullah keinginan untuk selingkuh, or at least mencari refreshment deh! Kadang orang yang mikir untuk selingkuh tuh kayak orang lagi diet.

Kalo kalian lagi diet, dan diundang ke pesta, di pesta itu kalian pasti akan janji “tidak, saya tidak akan makan apa2!” Tapi daging-daging panggang kayaknya begitu enak, ayam goreng canton kayaknya sangat menggiurkan. Trus kalian akhirnya tergoda, dan mikir “ah, saya cobain dikiiit aja.” Dan kalian mencicip dikit. Trus tiba2 muncul pikiran “Lha, ya udah terlanjur, ngapain diet2an, ya makan aja!”

Begitu juga dengan selingkuh. Kalian berusaha menjaga hati dan pikiran kalian,dan menolak semua godaan. Tapi akhirnya kalian kompromi dikiit. Bilang “Ah, ga papa lah kalo Cuma telpon-telponan, atau SMS2an sekali2” Dan akhirnya kebablasan, karena udah ngerasa kepalang basah. Selingkuh ini emang enak kalo nggak ketahuan, tapi serunya baru muncul kalo bangkainya sudah mulai tercium oleh pihak yang bersangkutan. Excitement-nya itu lho!!

Ah, sudah lah, kok jadi ngomong masalah selingkuh ya? kan aslinya prenship. Aniwe,.. sekilas update saya dari indo. semoga cukup menghibur dan untuk orang2 yang request saya nulis artikel tentant "selingkuhannya" Bang Tepy diharapkan cukup puas.

30 July 2006

“Siapa suruh datang Jakarta?”

Buset, akhirnya saya kembali ke tanah air tercinta, Surabaya, kota Pahlawan. Badan saya kayaknya bener-bener harus di-massage abis-abisan. Mulai hari Rabu, kemacetan ibukota sudah jadi makanan rutin. Kayaknya nggak bisa kamu berdoa untuk tidak terjadi kemacetan. Saya yakin Tuhan itu ada, tapi kayaknya Tuhan udah capek ngurusin kemacetan jakarta dan ngebiarin itu terjadi.

Bisa jadi Tuhan tuh mau melatih kesabaran manusia. Kali ye?

Hm, bisa dibilang saya ini mengadu nasib di Jakarta. Saya lagi cari-cari kerja di Jakarta. Lho kok? Iya, saya udah ga betah nganggur. Padahal dulu janjinya mau sebulanan gitu nganggur dan ngelaukin hal-hal yang sosial (dus, bukan sok sial :P) or bantu-bantu gereja ngapaainn gitu. Tapi saya ini kok jadi bingung, mo ngapain di rumah. Jadi senewen sendiri.

Akhirnya saye putuskan untuk hubungi orang-orang di jakarta yang saya kenal ataupun orang yang ngga saya kenal tapi dikenalin via-via, ah tapi saya kan bisa pura-pura sok kenal. Udah deh, mulailah saya planning trip saya ke Jakarta.

Ke jakartanya ini dibarengin ama Bang Tepy. Kata Mbak Anita ini pre honey moon. Dodol! Pre honey moon dari hongkong? Hahahah,.. in my ideal honey moon, there won’t be any TRAFFIC JAM. Trus di honey moon saya, adanya palm trees bukan asap kendaran bermotor dan motor-motor yang serobot sana sini. It is right that I would like to go to a tropical place for my honey moon, tapi nggak yang penuh dengan gedung-gedung pencakar langit. FYI, kami menginap di rumah keluarga kami masing-masing, yang lucunya sama-sama di Pondok Indah dan lebih ngakaknya lagi, ternyata tante-tante kami ini satu gereja dan sepupu-sepupu kami saling kenal. Wakaakak,… God you are so funny!

Dimulai dengan ke CIKARANG. Ini sebuah broadcasting company gitu. Huiii,.. seru banget!! Bayangin,.. gw liat tempat syuting, camera2, trus bermacam2 hal-hal yang berhubungan dengan entertainment. Duluu banget saya punya desire untuk kerja di tempat-tempat kayak gini. Ah,.. aku jadi mau deh kerja di sini!! Tapi saya masih mikir-mikir, karena kerjaan saya ini jauuuh banget dari dunia Intellectual capital and Knowledge Management.

Tyus besoknya ke Universitas Binus. Ini nih lebih ke ngomongin deal ngelakuin project bareng. Jadi bukan ngelamar kerjaan. Finally, hari terakhirnya, saya ke Uni Bunda Mulia, nah,.. ini sebenernya saya Cuma mo nemuin orang. Saya disuruh ama dosen saya di belanda. Eh,.. tapi tiba-tiba dia nawarin saya jadi Marketing manager. Nah lho?? Kan bingung??

Saya masih mikir-mikir. Karena Jakarta itu padat. Jakarta itu ganas. Dan lagi, kalo saya ke Jakarta, saya harus membangun lagi hidup saya di dunia yang strange, yang baru. Saya harus ninggalin keluarga, ninggalin Bang Tepy, ninggalin Intellectual Capital project saya yang di Surabaya.

While saya mikir-mikir, saya kasih gossip seru aja deh ya! Gini,.. cowok yang duluu pernah saya sebut-sebut sebagai orang yang saya pernah saya ngefans, yang temennya temen saya, tiba-tiba menghubungi saya lagi. Dan setelah dia tau saya di indo, dia menghubungi saya beberapa kali. Dan pas di Jakarta, dia ngajakin ketemuan. Huuu,.. untung ngga jadi!! Kalo jadi pun, saya pasti ajak Bang Tepy untuk nemuin dia. Tenang,.. saya sudah bisa resist the temptation, kok!

Hm,.. gossip apa lagi ya? Oh iya,.. cerita lucu aja!! Lina Susanti,.. tau kan? Nah, saya ketemu dia di airport kemarin sabtu, pas saya mo balik ke Surabaya. Wakakak,.. lucu banget! Bisa kebetulan gitu. Akhirnya Lina bisa ketemu secara live ama Bang Tepy, yang konon kata Lina dulu kayak Vaness-nya F4 (Nggak relaaaa!!!)

Khusus cerita buat Golda en Nita,.. virus JT sudah semakin berkurang dari kehidupan abang saya. Mulai lega. Musik yang didengerin lebih ke arah “sehat”. Ketika saya sudah mulai bahagia sekaligus lega karena nggak harus ngomongin masalah “aneh” ini ke dia, tiba-tiba saya mendengar ringtone “senorita” (JT) dari HPnya, dan parahnya itu ringtone khusus kalo saya telpon dia.

Terdiam. Membisu. Tidaaak,.. saya sudah mau menangis (yes, literally!)!!!!

Dan di mall dia membeli CD lagu, ada artis indo gitu yang JT WANNA BE BUangeetzz!!! Saya langsung lemeesss. Ya ampooon Golda,.. saya kayaknya butuh kamu buat curhat masalah ini!! Saya lebih rela dengerin korea-korea kamu daripada JT.

Eh, eh,.. saya kemarin sempet keceplos ngomong kalo saya benci boysband, benci cowok muka boysband. Saya sempet cerita omongan saya ma Elvin, kalo suruh pilih Wolverine pa Cyclops, saya pilih Wolverine (apart from his butt, ya phien!), trus kalo suruh pilih Johnny Depp ma Orlando Bloom, saya pilih Bang Johnny (tapi kalo anaknya Gerald Kelly yang kayak Orland Bloom, hueee, saya tidak menolak!! Heheheh, bener gak dita?). Jadi dia tau, Gol, kalo saya benci boysband. Trus, saya sempet cerita dandanan cowok-cowok belanda yang suka sok JT, dan saya ngerasa itu aneh. Hm,.. semoga dia nyambung ya,.. hehehehhe :P

Sekarang udah di Surabaya lagi, masih sibuk mikirin nasib ke depan. Ah, teman-teman doain ya.

24 July 2006

Kacau, d!


Pulang ke indo bukan suatu hal yang gampang, yang cuma tinggal isi koper, bawa koper, masuk pesawat, balik kampoeng dan live happily ever after.
Neeh,.. no way lah!

Saya awali berbagai macam fase, puluhan different fase yang up and down sebelum saya sampai pada stable phase sekarang ini. Dimulai dari beberapa bulan yang lalu saat saya belon yakin apa saya bakal pulang, apa tinggal di belanda tercinta.

Pada saat itu saya masih tenang-tenang, karena deadline pembayaran tiket tuh msh 30 juni. Jadi pas bulan april mei gitu, ya saya cuma focus ke pembuatan skripsi. Sometimes emang contact sana sini umtuk cari-cari kemungkinan kerja di belanda as well as di Indo.

Tyus, pas uda masuk awal juni, saya masuk fase selanjutnya, saya uda mulai mikir, kayaknya saya bakal pulang indo, deh! Uda mulai packing-packing, menawarkan kamar saya pada saat itu ke orang-orang yang membutuhkan, afzeggen (cancel) asuransi, keanggotaan ini itu sampai mulai kerja rodi untuk ngumpulin uang bayar tiket.

Saya mikir gini: “kalo ntar saya ga punya uang buat bayar tiket, ya ga pulang.” Unexpectedly, saya emang harus keluar banyak uang. Sepeda saya rusak, tyus hrs dibetulin. Bayar telpon, beli oleh-oleh, dan juga saya treat myself setelah proses skripsi yang menegangkan. Thus, belanja-belanji. :P

Yet, God is too good to be true (thankfully He does exist). Saya dapet donation melalui OMF. Jumlah uangnya tuh lho, kok ya pas banget buat bayar tiket. Weleh! Saya cuman bisa nangis waktu itu. Matur nuwun, Gusti Allah!

Pas udah akhir-akhir juni, pas deadline bayar tiket uda tinggal dua mingguan lagi, eh…. saya dapet tawaran kerja di Belanda. Orang gereja yang saya kenal lewat grup paduan suara tuh kerja di communication agency. Dus, ya, saya bisa dapet access langsung ke HRD nya. Saya masukin CV, cover letter, sambil berdoa, nanya kehendak Tuhan-kah ini? Exited, indeed, tapi on the other had saya mulai kuatir,.. lho gimana dengan nasib si Stefy?

Pas deadline bayar tiket benar-benar tiba, tidak ada kabar berita dari si comm. Agency ini. Doh! Gimana donk? Dengan iman, saya bayar tiket itu. Saya had a peaceful feeling about it. Jadi ya udah, saya bayar. Ternyata pas cerita-cerita ama kenalan saya, dia bilang saya bisa keep Dutch ID card saya dan in case saya mau blk ke belanda sebelon expired date nya, itu masih mungkin.

Ya udah,.. saya senyum-senyum. Bahagia. Saya mikir, kalo misalnya saya di-hired ama nih comm. agency ya udah,.. saya balik ke belanda. Tapi, hari Rabu siang, pas saya lagi kerja di OMF, e-mail masuk bilang kalo mereka cari native Dutch speaker. Saya langsung ketawa, bahagia dan memuji Tuhan!! Saya pulang indo.

Ternyata ngga cukup sampek di sini saja pelajaran saya. Perasaan exited untuk pulang indo ketemu keluarga, stefy dan temen-temen bisa hilang begitu saja digantikan dengan ketakutan. Takut akan hubungan saya dengan Stefy selanjutnya. Takut gimana rasanya tinggal bareng ama bonyok lagi. Takut diatur-atur lagi. Takut ga punya kebebasan. Takut nggak bakal punya temen-temen lagi. Takut jadi pengangguran. Alhasil, beberapa hari sebelum penerbangan saya, saya malah males pulang. Saya takut kehilangan temen2 serumah Diemerkade saya, ini adalah ketakutan saya yang paling kuat pas itu.

Akhirnya, lha kok saya pulang juga.
Sampek di Indo, ya udah seneng juga. Ketakutan2 saya hilang gitu aja. Entah kemana. Puji Tuhan!

Tapi fase culture shock datang menyerang.
Saya mulai freaking out ngeliat habits orang-orang indo yang udah empat tahun ngga saya lihat. Saya mulai ngeliat hal kecil-kecil yang ngga penting and sweat those tiny things. Saya mulai benci diatur-atur bonyok, ditanyain mo kemana, ma sapa, pulang jam berapa,… mana pernah saya digituin pas di Belanda. Saya juga mulai sebel ketemu Stefy karena dia nyebelin pas lagi BT. Trus, adek kecil saya yang terlalu annoying mengikuti saya kemanapun saya pergi.

Pokoknya semua salah.
Saya sampek bingung, kenapa pas taon lalu pulang indo nggak sehorrible ini. Dulu tuh kayaknya semua nice. Trus saya renungkan, pikirkan, dan saya cerna baek-baek, ternyata alasannya adalah karena sekarang saya bakal tinggal di Indo, di Surabaya for good. Saya jadi sensitive terhadap hal-hal yang gak penting. Saya jadi sensitive ama perubahan.

Parahnya lagi, saya nganggur. Belon ada kerjaan. Emang saya rencana take some times off, buat relaxing sama mengembalikan fungsi otak saya. Tapi, saya udah mulai ngerasa vervelend. Bayangin, pagi bangun, ngga ngapain2, ngga tau mau apa, besok mo apa juga ga tau. Nah lho? Coba bandingin Nia yang di Belanda.

Kapan hari pas Ardy en Golda telpon, saya ditanyain, “lagi ngapain, nie?” Aku bilang lagi maen PS sama adekku. Mereka yang shock banget! :P Nah lho,.. gimana neh?

Tapi Golda bener, mungkin ini saatnya aku catching up ama temen-temen, ama keluarga dan Stefy.

Nyokap kemarin kasih ayat di Yosua 1, bahwa kita harus hati-hati in everything we do (Yos 1:8). Nah,.. saya jadi mulai agak tenang. Saya emang harus hati2. Saya ngga bole keburu2 cari kerja, randomly, although saya lagi desperately butuh something to do.

Jadi keinget ulm. Ulm,.. don’t rush ya mbak,.. hati2. Alon-alon asal kelakon.

9 July 2006

First Pre-culture shock

Seperti yang saya udah cerita kemarin diblog Free Prayer saya, saya agak freaking out akhir-akhir ini melihat the fact saya mau pulang.

Kemarin jumat adalah hari terakhir saya kerja di Albert Heijn.
Lucu banget rasanya say goodbye to people not sure whether you will see them again. Jadi saya bilang ke beberapa orang “Dag, je zie me misschien niet meer” (bye, you probably don’t see me again). Trus pelukan sama beberapa orang.

Ah, itulah awal perasaan kehilangan saya.
Kemarin (sabtu) adalah hanging out day for penghuni diemerkade minus Golda yang lagi vacantie (liburan) ma nyokap. Hari diawali dengan having fun dan annoying karena Daniel salah makan obat. Daniel yang biasanya cool, hari ini berkicau. Heheh,..tapi fun kok! Trus kejatuhan mood saya dimulai dari pas di Volendam ada lusinan orang indonesia.

Seperti yang mungkin teman-teman ketahui, saya kurang suka kalo ketemu orang indo di Belanda. Nggak semua orang indo sih, kadang saya okeh-okeh aja, tapi kadang, kalo orang indo yang udah tua-tua, alias tante-tante or oom-oom; atau keluarga or kelompok yang lagi liburan bareng di Belanda, saya agak segan berbaik-baik ama mereka atau menunjukkan tampang indonesia saya. Saya lebih milih menjauh dan ngomong bahasa belanda.
Mereka rese, saya suka diliatin atas bawah. Atau yang lebih parah, digangguin, diisengin, atau dikomentari yang nggak penting.

Saya jadi inget pas ke Leidseplein ama Elvin dan Ulma. Kita jalan-jalan, becanda pake bahasa Indo, eh,.. tiba-tiba ada mas-mas yang ngomong Apa kabar, orang indo ya mbak? (Dhee,.. Are we speaking Mars language?) Trus mas yang sebelahnya malah nyanyi lagunya Evi Tamala Selamat malam duhai kekasih! Doo,.. parah. Rese kan?!

Kemarin ini di Volendam juga gitu. Pas aku start talking in Indonesian, khas djowo, orang-orang indo yang kayaknya juga dari jawa (timur), menatapku atas bawah depan belakang kanan kiri. Rese!

Tapi alhasil, saya dimarahi Daniel (yang seperti dibaca diatas, salah minum obat hari itu :P), karena kata Daniel saya overacting. Nggak perlu ngerasa gitu, gitu katanya. Terus saya pikir, apa saya overacting ya? Apa saya keterlaluan? Kok saya nggak ngerasa comfortable di tengah-tengah orang-orang indo? Kenapa saya mau menghindari mereka? Kenapa saya agak ilfil melihat keramaian dan keramahan mereka?


Bingung.

Inilah moment dimana mood saya hancur. Sejak dari Volendam saya jadi mikiiir terus. Kenapa gini, kenapa gitu? Kok bisa gini?

Lalu ketika pulang naik Tram 9, kami melewati daerah Linneausstraat, daerah tempat saya kerja di Albert Heijn. Jalan yang selalu saya lalui dengan sepeda second hand saya untuk ke tempat kerja. Jalan dimana saya selalu harus ngebut untuk sampek tepat waktu di Albert Heijn. Perasaan saya jadi tambah hancur. Saya nggak akan pernah lagi naek sepeda, ngebut, or jatuh dari sepeda lagi.

Saya jadi sedih. Lalu saya memilih untuk menutup mata, menikmati matahari yang masih bersinar dan pura-pura tidur. Untuk menitikkan air mata, rasanya terlalu dini, masih 5 days to go. And in these days, saya harus mulai say goodbye to everything. Start from my freedom and Independency, I think.