28 November 2006

SMS

Dear Bil

Billy,
Semalaman aku tidak bisa tidur. Aku berbaring namun tak menutup mata. Tanganku sibuk membolak-balik handphone. Aku membaca ulang SMS yang engkau kirimkan padaku akhir-akhir ini. Kau membuatku terjaga.

Aneh. Aku seperti jatuh cinta pada huruf-huruf yang ada di layer handphone perakku yang sudah tua. Aku tersenyum, menangis, bahkan aku rindu pada huruf-huruf itu. Aku tidak yakin apa itu juga berarti bahwa aku merindukanmu.

00.37
Aku masih terjaga dan sibuk membalas SMS-mu. Kamu bilang, jika mungkin kamu ingin menikahiku. Aku tersenyum masam, sambil berpikir, I wish you could.

Bil, aku tidak pernah paham akan cintamu. Dalam setahun terakhir ini, berapa kali kita bertemu? Yap, hanya satu kali, Bil! Itulah kali pertama dan terakhir aku melihatmu. Sisanya, hanya SMS-SMS inilah yang cukup berani mewakili perasaan kita. Aku bingung, bimbang, tidak bisa mencerna perasaanmu padaku. Apa yang kamu cari dariku, Bil? Apa yang kamu lihat dariku?

Kematangan dan pengabdian. Jawaban yang sangat diplomatis, Bil. Tapi itu tidak cukup untuk dijadikan tolak ukur perasaanmu. Ketika aku mencoba mencari jalan tikus di antara perasaan kita, aku masih tidak menemukan logika dalam perasaan kita.

Aku memang tidak pernah, dan tidak akan pernah ingin mengakui bahwa aku jatuh cinta padamu. Tidak, Bil! Aku rasa di pertemuan kita yang pertama pun sudah kamu lihat benda berwarna kuning melingkar di jari manis sebelah kananku. Dan di pertemuan pertama kita, kubawa serta orang yang memberikan cincin itu. Aku tidak bisa mengatakan kalau aku mencintaimu, Bil, dan aku tidak akan pernah mau.

01.50
Aku masih terjaga.
Aku sudah gila, Bil! Dan sekarang aku sedang mencari skenario yang tepat untuk mengakhiri kegilaanku, atau aku harus menjebloskan diriku ke Rumah Sakit Jiwa di jalan Menur.

Bil, masih ingatkah kamu apa pekerjaanku? Aku konselor, yes I am. Aku membantu para wanita dan pasangan suami istri yang sedang mengalami krisis rumah tangga. Aku memberikan konseling pra-nikah. Aku konselor waras yang menentang perselingkuhan. Masih ingatkah kamu ceritaku tentang seorang gadis di depan rumahku yang ditinggal kawin oleh suaminya? Aku menangis bersamanya. Aku memeluknya dan aku memberinya tumpangan selama beberapa hari. Dan sadarkah kamu, Bil, aku berselingkuh sekarang!!

Tidak pernah kubayangkan harus menyayangi dua orang pria sekaligus dalam hidupku.

Selama ini yang kutahu adalah banyak laki-laki itu brengsek, buaya darat, punya istri puluhan tersebar dimana-mana dan suka kawin cerai. Aku selalu membayangkan sesosok pria buncit, berkumis, berdompet tebal, dengan kunci mobil keperak-perakan di saku celana depan, dan ditambah senyum yang menggoda. Ya, merekalah lelaki beristri dua, tiga, empat dan seterusnya. Tapi, inilah aku, Bil! Aku, wanita dengan berat 55 kilogram,tinggi 165 centimeter, bekerja sebagai konselor di lembaga perlindungan wanita, berkacamata minus, soloist gereja, dan bersuami satu! Bil, aku selingkuh!

03.00
Masih kupandang handphone berwarna perak ini. Sejak awal, sudah kuyakinkan diriku bahwa aku tidak mencintaimu, Bil! Aku tidak tahu apa yang kulihat darimu dan apa yang membedakanmu dengan Mas Hen. Apakah karena kamu bukan seorang musician yang tidak pernah punya jam kerja yang pasti? Apakah karena kamu mempunyai rumah dengan kolam renang dan treadmill pribadi? Apakah karena kamu begitu perhatian dan sayang anak kecil? Apa, Bil? Aku tidak tahu! Yang aku tahu, kamu selalu membuatku tersenyum saat membaca SMS-mu. Kamu selalu membuat hariku lengkap. Meskipun kamu tidak pernah kutemukan wujud nyatamu di sampingku, huruf-huruf kirimanmu itu seakan menggoreskan senyuman di hariku.

04.58
Bil, sudah subuh. Sepuluh menit lagi aku harus bangun dan menjemput Mas Hen di Bandara. Kemarin Mas Hen konser di Banjarmasin. Yap, di kota kelahiranmu.

Ingatkah kamu, aku pernah bertanya sampai kapan kita akan seperti ini. Kamu bilang, hanya Tuhan yang tahu. Tapi, Bil, aku pun perlu tahu and unfortunately belum ada free access untuk langsung mendapat jawaban dari Tuhan itu, entah Tuhan mana yang kau maksud, Bil.

Bil, selamat tinggal.
Kali ini aku bersumpah untuk tidak mencarimu lagi. Jangan cari aku, Bil. Please. Bebaskan aku.

Au revoir, Bil.


Jakarta, 5 September 2006

***

“Pak Billy, ada paket, pak. Ini diminta untuk tanda tangan.“ Wanita tua berambut sebahu masuk ke ruangan kerja Billy Hermawan.

Billy melirik kotak coklat itu tanpa ada keinginan untuk membukanya. Ia pun menggoreskan tanda tangannya, asal-asalan, di kertas merah muda yang diberikan Bik Iyem.

Billy meraih kotak itu dan merobek pembungkusnya.

Amplop bertuliskan “Dear Bil“ dan handphone berwarna perak.

23 November 2006

Masalah

Tidak untuk disimpan, tetapi untuk dibagikan

Tidak untuk disesali, tetapi untuk dirayakan

Bukan tanda kelemahan, melainkan kekuatan

Tidak menjauhkan, tetapi mendekatkan kita dengan Tuhan

Tidak untuk dihindari tetapi dihadapi

Bukan kutuk, tetapi berkat

Bukan cobaan, melainkan ujian untuk mendapatkan mahkota

(diambil dari buku yang lagi dibaca Kak Frida)

17 November 2006

Kursi Tua


11-11-2006

Aku ingin duduk di sana. Menikmati tiap detik tawamu.

Ingin aku duduk lama di kursi tuamu, duduk sangat lama.
Ingin kupandangi satu-satu poster-poster selebriti sepak bola yang mengihiasi dinding kamarmu, yang seakan ingin menguasai dinding kamarmu, tidak mengijinkan secercah warna putih muncul di sela-selanya. Mereka lambang kejayaanmu. Di saat engkau masih rela membiarkan kulitmu terbakar teriknya matahari jam dua belas siang. Di saat engkau masih melihat wanita tidak lain adalah penjajah, yang membuat hidupmu menjadi 20 jam sehari, atau kurang. Di saat engkau mungkin tidak pernah melihat dimana aku duduk.

Ingin aku berputar-putar di atas kursi tuamu, yang biasa kau pakai untuk menemanimu membunuh malam tanpaku. Malam dimana kau tekan 14 digit nomor dan menanti nada yang menyambungkan dengan separuh jiwamu, separuh nafasmu. Malam dimana engkau berharap bahwa esok adalah akhir dari empat tahun penantianmu. Ah, sayang sekali, besok pun belum bisa menggenapi hitungan satu tahun. Kau pun bertanya, dimana bisa kubeli sisa waktu itu?

Ingin aku melihat tempat tidurmu, kasur dimana engkau membaringkan kepalamu di saat kursi tuamu sudah berderit, tanda tak mampu lagi menahan beban. Di kasur itukah kau tertawa lebar memimpikanku? Di kasur itukah kau merasakan keputusasaan dan kesedihan saat semuanya menjadi suram? Di sana kah kau merasakan hatimu menangis walaupun matamu terlalu sombong untuk menitikkan airnya? Iya, aku ingin duduk saja di kursi itu, berayun-ayun memandang engkau terdiam, entah tertidur atau duduk, di kasur itu.

Ingin pun aku merasakan dinginnya keramik lantai kamarmu. Sedingin itukah perasaannya padaku, begitu batinmu dulu. Tapi aku kembali, sayang. Kembali aku, meminta ijin untuk memasuki kembali hatimu, yang ternyata tak pernah kau ijinkan untuk tertutup. Sedingin itukah cuaca di sana, tanyamu lagi dalam hati. Semoga salju terus turun supaya dia ingin pulang merasakan kehangatan, harapmu.

Iya, aku masih ingin duduk di sana. Ingin kurasakan hembusan angin dari kotak putih di atas kasurmu. Itukah helaan nafasmu saat berulang kuhunus dadamu dengan kekesalan yang sama? Aku menitikkan air matamu. Kurasakan pedihmu. Ingin aku berjalan menghampirimu, namun masih kurasa nyaman kursi tuamu ini. Putar, putar, kursimu ini memang sudah tua.

Aku ingin duduk diam di kursi itu. Sekarang aku kembali, tapi tak lama. Ingin aku berdebat dengan waktu, memohonnya untuk diam. Ingin benar kupinjam momen itu. Momen dua mata memandang, dua tangan menggenggam dan keheningan. Ingin benar kuabadikan momen ini.

Aku ingin menjadi kursi itu. Bodohnya aku, sedari tadi harusnya kuakui jika aku cemburu. Aku cemburu pada kursi tuamu. Kau biarkan dia menemanimu bertahun-tahun. Kau biarkan dia memandangmu begitu dalam. Kau biarkan dia mengenal seorang engkau yang sebenarnya. Kau biarkan dia tahu makanan yang kau benci dan kado ulang tahun yang kau harapkan. Kau ijinkan dia bergembira bersama tawamu, dan menjadi air mata untuk kesedihanmu. Aku cemburu, sayang.

Sayang, aku ingin menjadi kursi tuamu. Aku ingin ada ketika engkau membuka mata. Aku ingin mata kita beradu, membiarkannya berkata ‘aku sayang kamu’. Aku ingin di sampingmu untuk menjadi yang pertama mengucap ‘selamat pagi’, walau aroma yang kusimpan 8 jam dalam mulutku ikut keluar. Ah, aku tak malu! Aku ingin menjadi kursi tuamu, yang kau ijinkan menatapmu, mengerti dirimu, dan menjadi bagian dari hidupmu sampai aku tua. Sampai aku tua? Ah tidak, aku percaya engkau akan membiarkanku menyayangimu lebih lama, karena kursi tuamu itu pun tak tergantikan.

10 November 2006

Pergi - 2nd CerPen!

Aku sayang kamu, ri!
Nadanya kali ini benar-benar beda dari biasanya. Terri yang biasanya hanya tersenyum simpul dan menggoda Nando apabila mendengarkan Nando mengungkapkan cintanya, kali ini terpaksa terperanjak dari duduknya. Matanya menatap Nando penuh pertanyaan. Terri menggumam dalam hati, Nando marah. Terri memilih untuk berjalan pelan, tapi pasti, meninggalkan Nando yang menyesal, telah memarahi Terri.

***

Rasa sayang Nando tanpa logika, begitu kata John. Terri setuju, tetapi ketika John memutuskan untuk mencaci-maki Nando, Terri sangat tidak setuju. Sudah puluhan bulan mereka berpacaran, dan baru saja mereka masuk ke level yang bisa dibilang cukup serius, dan kali ini, untuk pertama kalinya John membuat hubungan mereka terlihat sangat kekanak-kanakkan.

John, sudah kubilang! Aku akan menyelesaikan semuanya sendiri, dengan caramu. Tidak perlu emosimu ikut campur.” Terri jarang sekali marah, tapi apabila dia marah, nampak jelas kedua sungutnya, di sebelah kanan dan kiri. Mukanya kemudian berubah warna, menjadi merah; lebih merah dari seekor lobster. John marah, dan suara terakhir yang didengarnya adalah hening. Telepon ditutup.

Rasa sayang John tidak pernah mudah untuk dimengerti. Kadang rasa sayangnya berarti kegembiraan, di kesempatan lainnya, rasa sayangnya berbentuk amukan dan hinaan. Kadang rasa sayangnya berupa kehadirannya yang tiada henti, antar jemput yang rela dilakukannya. Tapi kadang kealpaannya pun berarti sayang, menurut John. Bulan kemarin, John seperti lupa kalau sudah punya pacar. SMS tidak pernah dibalas, missed call juga tidak digubris, apalagi datang untuk apel ke rumah Terri. Bulan kemarinnya lagi, John membanjiri rumah Terri dengan hadiah. Maklum, bulan DesemberTerri berulang tahun. Pas persis di hari ulang tahun Terri, John memberikan kalung yang sudah dipesan khusus olehnya. Di hari kedua, John mengajak Terri untuk bermobil ke puncak, melihat pemandangan malam dan bintang-bintang, dan entah hari keberapa itu, John menjemput Terri di pagi-pagi buta dan membiarkan mobil sport John membawa mereka ke bandara Soekarno-Hatta. Tahu kemana John membawa Terri? Mungkin tebakan anda tidak meleset, ya, ke Bali. Hanya untuk bermain-main di pantai Nusa Dua, lunch di salah satu cafe di daerah Nusa Dua, dan early dinner di Jimbaran. Dan mereka pun pulang kembali ke Jakarta.

Bulan sebelumnya lagi, bulan November, John menghilang. Bukan hanya tidak membalas SMS, missed call atau the real call, tapi tidak ada yang tahu John kemana. Di akhir bulan November, tepat 3 hari sebelum ulang tahun Terri, John muncul. Terri berusaha menanyai kemana John pergi, tapi John hanya tersenyum sambil bercanda. “John, please be serious!” Terri sudah tidak tahan. John kembali tersenyum, tapi kali ini dia sembari menggenggam kedua tangan Terri, dan berkata, “bisnis, sayang, bisnis.” Pementasan John kali ini diakhiri dengan kecupan di kening Terri, dan John pun pergi, membiarkan Terri menggeleng-gelengkan kepalanya.

Bulan ini, John sudah cukup membuat sensasi. John menelpon Nando dan memaki-maki Nando. Nando, kenapa harus kamu, Nando? Bisa dibilang ini adalah suatu kebetulan, tapi kebetulan ini begitu indah, tapi berakhir dengan cukup menyakitkan, kalau memang ini adalah akhir.

Bulan lalu, bulan Januari, John menghilang lagi, dan kali ini Terri sudah lelah. John memang selalu mengobral rasa sayangnya pada Terri. Terri juga senang mendengarkan rayuan John, ucapan kata-kata sayangnya. Terri menikmati rasa sayang John, tapi kali ini dia sudah lelah. Terri lelah akan ketidakpastian. Terri masih lebih pasti menanti kenaikan gajinya, daripada menanti keseriusan hubungannya dengan John.

Eri, ini Nando. I’m home.
Terri pasti akan lupa Nando siapa itu kalau dia tidak melihat kata ‘Eri’ di awal SMS yang ia terima di pagi buta, benar-benar pagi yang buta. Di pagi itu, Terri sudah dibutakan oleh kegembiraannya menerima SMS Nando. Terri dibutakan oleh kenyataan bahwa dia sudah memiliki John. Terri dibutakan oleh kisah masa SMU-nya. Terri juga sudah dibutkan oleh kata ‘Eri’ diawal SMS, yang adalah panggilan khusus yang diberikan Nando untuk Terri.

Nando adalah masa lalunya, dan masa datangnya, begitu imbuh Terri. “Dia juga masa surammu, mimpi burukmu” imbuhku akhirnya. Kali ini Terri harus mengakui bahwa aku benar. Nando adalah sahabat dekat Terri semasa SMU. Nando atlit sepak bola yang pada saat itu cukup harum namanya. Nando adalah idola semua wanita, tidak hanya kalangan muda, ibu saya pun dulu fans berat Nando. Nando jatuh cinta pada Terri, tapi tidak begitu ceritanya dengan Terri. Terri selalu tertawa dan menganggap Nando bercanda apabila Nando mulai merayunya. Singkat cerita, hubungan persahabatan mereka putus, karena Terri akhirnya sadar bahwa dia tidak akan pernah bisa mencintai Nando. Nando pun menghilang. Layaknya atlit sepak bola indonesia lainnya, yang harumnya mudah sekali pudar, nama Nando hanya bertahan menghiasi koran-koran Indonesia selama dua tahun. Semenjak Nando menghilang, banyak sekali gosip-gosip yang beredar. Bukan gosip yang sekarang kita lihat di infotainment tidak bermutu yang disiarkan di televisi swasta, tapi ini gosip dari orang-orang yang terpercaya. Dari guru-guru sekolah, dari teman semasa Nando masih sempat mengecap bangku kuliah, dari orang tua Nando yang sudah memanggila Nando dengan sebutan ‘anak durhaka’, sampai dari manager klub sepak bola Nando yang terakhir. Mereka tidak ada yang tahu kemana Nando pergi. Nando menghilang,.. puff!

Nando boleh menyerah dibidang olah raga, namun tidak demikian di bidang asmara. Nando selalu mengirimkan SMS kepada Terri di saat-saat yang, boleh dibilang, sangat monumental, sangat tepat. Terri, yang awalnya ‘menolak’ cinta Nando, mulai goyah melihat usaha Nando. At least, 1 tahun sekali, Nando akan mengirimkan SMS-SMS cinta pada Terri. Dan selang beberapa minggu, Nando akan pergi lagi, entah kemana, dan membiarkan Terri bingung: ingin menanti atau melupakan Nando. Inilah masa suram yang kumaksud tadi. Tiga tahun yang lalu, Terri memutuskan untuk melupakan Nando, dan di saat itulah Terri bertemu John.

Nando memang anak durhaka, tidak tahu diri. Meskipun Terri sudah berhubungan dengan John, tetap saja SMS cintanya tidak berhenti menghiasi handphone Terri. Awalnya John cuek saja, itulah John! Cowok metropolis yang menganut azas kebebasan penuh. Terri pun sudah berjanji pada dirinya, pada hatinya untuk berhenti mengharapkan Nando. Namun, kali ini, usaha Terri mulai diuji. Terri goyah, dan welcome back masa suram. Welcome back sleepless night and two-face life.

Kali ini, semenjak berhubungan kembali dengan Nando, yang katanya hanya sebatas teman, Terri pun mulai menghapus nama John, sedikit demi sedikit, dari agendanya. “Makan malam bareng John” diganti dengan “Nonton konser with N” atau “Chatting with N”. Terri masih terlalu takut untuk menulis Nando besar-besar di agendanya. Intinya, Terri mulai menghindari John.

18 hari. Ya, kalau tidak salah sudah delapan belas hari hidupku dihiasi oleh tangis dan tawa Terri yang tak bosan-bosannya berkisah tentang pahlawan Nandonya. Super Nando. Dan tepat di hari yang kedelapan belas, Terri bukan lagi penderita tuna netra. Terri sudah bisa melihat kemana arah hubungannya dengan Nando akan berlabuh: another ketidakpastian. Terri pun sudah mulai bisa melihat kesungguhan John. Bulan ini, bulan Februari, tepat tanggal 14 Februari, John memasukkan kotak kecil ke dalam tas vintage Terri. “Buka di rumah, yang, dan telpon aku as soon as you open it.” Terri agak bingung, karena John bukan tipe romantis yang ikut ber-pink ria untuk menyambut hari valentie. Hari ini, John, untuk pertama kalinya, menyelipkan kotak kecil warna merah muda dengan pita putih, ke dalam tasnya.

Cincin.
I cannot marry you this year, but I can give you certainty that I love you. Kita tunangan, yuk!” Begitu ucap John begitu Terri meneleponnya. Air mata Terri meleleh. Dan di hari yang sama, 14 Februari, Terri kembali menyebut nama Nando dalam percakapan mereka. John marah besar, dan terjadilah drama sensasional. John melabrak Nando. Dan pementasan berakhir. THE END.

***

Jaman sudah berganti. Terri tidak lagi berambut panjang, berpenampilan feminin dan lemah lembut. Terri sudah menjadi pribadi yang mandiri, berambut pendek a la Hepburn dan berpenampilan praktis.

I’m home.
Terri yang sedang menyedot Java Chips-nya terdiam. Nomor yang asing, namun pesan yang sangat familiar, terlalu familiar untuk membuat hatinya berdegup kencang. Terri seakan mencoba melongok melihat isi hatinya, mengecek nalarnya dan diakhiri dengan menatap dalam-dalam cincin di jari manisnya. Terri tersenyum dan memasukkan handphone-nya ke dalam tas Louis Vitton-nya.

John, kita pulang, yuk!” Terri mengamit lengan John dan melangkah dengan pasti meninggalkan kedai kopi itu.

p.s. Plz comments-nya dunk!!! saya kan masih amatiran!! ayo, phien!! dihina (or dipuji) CerPen sayaa!

7 November 2006

My first published CERPEN

Kopi Hitam

Aku sudah berhenti minum kopi. Hari ini adalah hari yang ke empat puluh tiga aku tidak minum kopi. Sepertinya ini adalah suatu kemajuan. Aku menjadi sangat takut untuk meminum kopi. Mencium bau aroma pahit dan sedap biji kopi pun aku tak sanggup. Lebih baik aku lari, atau menutup pintu kamarku rapat-rapat.

Aku ingat beberapa minggu silam, ketika aku mencengkram dadaku dan terduduk di kursi biru dekat meja belajarku. Aku sesak nafas. Bukan karena Galih. Aku kebanyakan minum kopi. Sebenarnya, Galih memang mempunyai sedikit peran dalam membuatku sesak nafas. Sudah cukup lama, untuk ukuran kami, kami tidak berkomunikasi. Hal itulah yang membuatku ingin berpuasa, hanya puasa tidak makan, dan yang pada akhirnya membuat aku sesak nafas.

Pada saat itu, aku memang pecandu berat kopi. Aku tidak bisa disebut ‘sudah bangun pagi’ kalo belum meminum seteguk kopi pahit, officially cukup seteguk, tapi nampaknya itu jarang sekali terjadi. Biasanya aku paling sedikit meminum secangkir kopi tubruk atau kalau pagi itu aku cukup rajin, aku akan menyalakan coffee machine dan membiarkan Brazilian coffee mengisi dua atau tiga mug kebanggaanku, mug putih, tinggi bertuliskan ‘BIG’. Seperti pagi itu, aku terlamat bangun dan semangkuk oatmeal yang biasa kucampur dengan susu terpaksa kutangguhkan, dan kuganti dengan setermos kopi pahit panas yang kubawa dalam tasku. Akhirnya pagi itu kupaksa perutku menerima kopi pahit sebagai pengganti sarapan.

Galih. Belum bosan aku menyebut dia dalam setiap doaku. Kembali ke masalah kopi. Puasa yang kulakukan, dalam mengiringi doa-doaku yang kupanjatkan kepada Allah, dengan nama Galih terucap di setiap baitnya, membuat aku meneguk kopi demi kopi. Bukan untuk pelarian, ataupun pelipur lara, tapi memang pada saat itu aku bodoh. Sering memang kubuat kopi sebagai pelarian akan rasa laparku. Malam-malam, ketika aku harus mengetik makalah yang harus dikumpulkan jam sembilan tepat keesokan harinya di ruangan dosen, membuat aku menyalakan coffee machine dan menuangkan lima sampai enam sendok ukuran, kopi espresso ke dalamnya. Pada saat aku berpuasa, untuk Galih, aku memilih untuk tidak makan, tapi tetap minum kopi, dan air putih tentunya.

Bodohnya aku.
Saat aku mencengkram dadaku dan keringat mulai membasahi peluh dan telapak tanganku, aku mulai menyesal. Aroma cappuccino yang baru saja kuseduh membuatku mual dan berjanji, “Ya Allah, aku akan berhenti minum kopi. Jangan sekarang, ya Allah.” Allah memang Maha pengasih dan Ia mendengar semua jeritan umatNya. Aku masih hidup.

Selamat tinggal, kopi.

***

“Lg apa? R u okay?
SMS singkat itu kubaca berulang-ulang. Aku tidak mengerti apakah memang aku yang bodoh atau akan datang bulan. SMS ini membuat aku tidak tidur semalaman. Aku merasa si pengirim sedang menaruh hati padaku, atau mungkin belum menaruh hati, tapi hanya tertarik padaku. Ah, apakah aku GR? Belum kukenal pria ini.

Cepat-cepat kubuka buku Agenda 2006 yang ada di dalam tasku. Di saat teman-temanku sudah mulai memiliki PDA, atau paling tidak menggunakan fitur Agenda di handphone mereka, aku tetap setia pada buku agenda kuno yang bentuknya selalu sama. Dan selalu warna hitam.

6 September. Belum sebulan yang lalu aku bertemu dengan Viko. Pertemuan kami pun sangat simple dan tidak terduga. Percakapan kami hanya berkisar sepuluh sampai lima belas menit, itupun masih plus interupsi dari teman-teman, dan Galih. Tidak pernah aku berpikir akan mendapat SMS darinya. Mendapat satu kiriman SMS darinya pun tak pernah aku bermimpi, apalagi puluhan SMS demi SMS yang akhir-akhir ini menggantikan waktu baca bukuku.

“Oh, kamu toh yang namanya Wil! Saya kira cowok.“ Itulah kata-kata yang paling kuingat dari seorang Viko. Viko pun tahu pasti status Galih sebagai pacarku. “Cowokku juga suka sepak bola. Kalian mungkin bisa tanding gitu deh!” Aku pun berusaha mempromosikan Galih sebagai cowokku.

Aku tidak mengerti. Aku bodoh.

Km marah? Lagi ngapain?

Satu SMS lagi. Kalau tidak salah, hari ini aku sudah menerima sepuluh SMS, dan semuanya dari Viko.

Aku tidak mau membalas SMS Viko lagi, cukup sudah, Wil! Hatiku masih bergejolak. Telapak tanganku pun masih basah karena dari tadi aku meremat-remat handphone-ku. Tidak, Wil, kamu tidak seharusnya berhubungan seperti ini dengan Viko.

“Wil, ngopi! Gue pesenin nih yang Big Size en kali ini gue inget, just black! Bener gak?!” Mas Bagus, manager logistic yang wong jowo asli, nampaknya lupa mengetuk pintu kamar kerjaku. Dia langsung nyelonong dan menyodorkan segelas besar kopi. Mas Bagus hobi minum kopi, seperti aku dulu. Dia bekerja di lantai 8, dan aku di lantai 3. Kadang, kalau kebetulan Mas Bagus pas lewat, dia akan membawakan atau sekedar menawarkan secangkir kopi. Namun, Mas Bagus sudah bertobat. Mas Bagus ini sudah terhasut oleh tulisan di majalah kesehatan mengenai efek kopi. Di majalah itu, yang menurutku lebih mirip catalog iklan, ditulis kalau pria yang mengkonsumsi caffeine secara berlebihan, kemungkinan infertility-nya lebih tinggi. So, nggak beda jauh sama merokok. “Awas merokok mengakibatkan impotensi.” Jadi, Mas Bagus sudah bertobat dari kebiasaan mengopi lima waktu, sekarang paling cuma dua kali.

Mas, saya sudah ngga minum kopi. Sudah jalan dua minggu.” Mas Bagus terdiam. Sepertinya dia tidak percaya. “Wil, kamu sakit?” Benar dugaanku, Mas Bagus bingung. “Ndak, mas, saya cuma mau berhenti saja. Takut mandul, mas!” Aku mencoba bercanda. Mas Bagus malah menarik kursi dan duduk, “Dik, kamu ada masalah ya?”

Kutatap kepulan asap dari gelas Styrofoam berisi kopi yang dibawa Mas Bagus. Pandanganku tak berkutik. Aku menghirup dalam-dalam aroma kopi yang dibeli Mas Bagus di Filosofi Kopi yang jaraknya tidak jauh dari kantorku. Ben’s Perfecto. Harum biji kopi yang memberikan aroma pahit mulai memenuhi rongga hidungku. Aku memejamkan mataku. Menarik nafas lebih dalam lagi. “Mas, apakah kopi ini masih boleh aku minum?“

Aku kalah. Perjuanganku selama tiga minggu sia-sia sudah.

Aku meneguk Ben’s perfecto dalam-dalam, dan beberapa detik kemudian handphone-ku bersuara. Another SMS.

***

“Aku ingin bertemu dia. Aku tidak mengenal dia.“
“Aku tidak ingin menciptakan Viko jadi-jadian, yang hanya exist di dunia fantasiku. Aku ingin mengenalnya lebih jauh, jadi ketika aku memutuskan untuk membuang namanya jauh-jauh dari hidupku, aku melakukan itu karena aku mau bukan karena aku harus.“

Lida terpaksa harus mendengar segala keluh kesahku. Aku sudah tidak tahan lagi. Aku serba salah. Ketika aku menjauhi Viko, hatiku berontak. Hatiku seakan berkata, “jangan bohongi aku. Kau menikmati SMS Viko, kan?” Tapi ketika aku membalas SMS Viko, bahkan kadang aku menerima telponnya, aku pun menangis, “Ya Allah, apakah aku selingkuh?” Aku merasa bersalah pada Galih.

Aku menuangkan decaffeinated coffee instant ke dalam mug putihku. Aku berusaha ‘menebus dosa’ dengan hanya meminum decaf coffee, yang instant pula! As if it helps. Sebenarnya decaf or non-decaf tidak ada bedanya, hanya kandungan caffeine di decaf coffee lebih kecil. Decaf coffee adalah sebuah kepalsuan. Menurutku, decaf coffee adalah secangkir minuman berwarna hitam dengan rasa kopi yang tidak jelas, atau aku biasa bilang, rasa palsu. Minum decaf coffee sama halnya dengan minum jus durian yang harganya cuma Rp. 5.000,- Ke dalam jus durian itu, dicampurkan, minimal, setengah gelas sirup durian, air, dan es batu.

Dan sebenarnya aku menentang keberadaan kopi instant. Kopi instant itu kebohongan. Tidak ada namanya kopi instant. Pembuatan kopi itu membutuhkan proses yang lama untuk menghasilkan kebohongan: rasa pahit jadi-jadian dan wangi kopi buatan. Kopi instant itu pemaksaan; memaksa sesuatu yang tidak ada menjadi ada. Akhirnya rasanya pun terkesan seadaanya, atau maksa! Tapi, yah, apa boleh buat, aku sebenarnya sempat berikrar untuk tidak minum kopi lagi. Kali ini aku benar-benar butuh kopi. Sebenarnya, ada sih, keuntungan mengkonsumsi kopi instan, yaitu kita dapat mengatur tingkat “kekerasan” kopi yang kita mau. Selain itu, kopi instant membantuku untuk tidak kembali kecanduan kopi dan aku pun tidak perlu mengeluarkan coffee machine-ku dari gudang.

Wil, kamu jangan naïf. Ketika kamu bertemu dengan Viko, lagi, aku yakin kamu akan menikmati pertemuan itu. Dan kamu akan memintanya lagi, lagi dan lagi. Kamu akan kecanduan. Galih, dia pria baik-baik. Walaupun dia tidak tahu menahu mengenai hubunganmu dengan Viko, aku yakin Galih merasakannya. Apakah kamu tidak sadar, bahwa masalah yang kamu alami dengan Galih saat ini adalah bukti bahwa Galih pun merasakan pahitnya hubungan kalian. Bukan hanya kamu, Wil! Galih juga merasakan kebimbangan itu.

Lida benar. Ketika Galih mengatakan bahwa dia merasa tidak yakin akan hubungan kami dan ingin introspeksi diri, pada saat itu pula aku mulai menikmati cinta Viko. Galih lah yang biasanya menanyakan keadaanku, menemani ku dengan suaranya, atau paling tidak SMS-SMS romantisnya, sebelum aku tidur. Namun, sudah beberapa minggu ini Viko yang hampir tidak pernah absen mengirimkan SMS. Walaupun aku sudah memarahi dia untuk tidak mengirimkan SMS cinta padaku lagi, dia nekad; dan aku pun luluh.

Wil, kamu sudah bukan remaja belasan lagi. Masa depanmu itu bukan hari esok, tapi hari ini, detik ini yang kamu jalani. Inilah hari esokmu. Sekarang kamu coba berpikir, bisakah kamu melihat hari esok dengan berjalan bersama Viko? Atau malah dengan Galih? Bisakah kamu melihat Viko sebagai pria yang kamu lihat setiap hari saat kamu membuka mata? Bisakah mau melihat Viko sebagai ayah bagi anak-anakmu? Bisakah kamu melihat Viko menyayangi kamu? Ataukah gambaran itu kamu lihat pada sosok Galih?

***

Lida, ya? Masuk,...masuk!
Aku mengintip dari jendela depan. Lida memang tidak berencana mampir ke rumah hari ini. Namun, Lida kebetulan belanja di Mal Cempaka Mas, jadi sekalian dia mampir.

Sorry, bos, di rumah lagi kacau. Aku nggak tau kalau kamu mau datang. Mau minum?“ Lida langsung berjalan menuju ke dapur. Lida memang tahu rumah ini dengan sangat baik. Biasanya dia memang selalu self-service.

Wil, kamu sehat, kan?

Lida terdiam menatap dos-dos kopi yang masih baru, mulai Brazilian coffee, Kopi tubruk, Douwe & Egbert Kopi dari Belanda, Kopi Sumatera, dan Kopi Tiwus-nya Filosofi Kopi. Plastik-plastik belanja masih berserakan di lantai. Hal yang membuat Lida lebih terkejut adalah munculnya coffee machine yang baru di dapur Wilhemina. Warna hitam.
Aku tersenyum dan memeluk Lida. Thanks, Lida!


p.s. Big thanks to Filosofi Kopi – nya mbak Dee yang menginspirasi saya untuk menuntaskan cerita ini. Trus buat teman-teman yang berpartisipasi dalam memberikan saya saran, doa, pujian dan hinaan. Thanks, I am over it now.

6 November 2006

Besok,..


Nia lagi sedih, sekaligus releaved.
Sedih, karena Nia besok bakal pergi ke Meulaboh lagi.
Tapi releaved, karena finally Nia sudah bikin decision, yang probably good for one side and not for another side.
Kali ini benar-benar short-term trip, karena Nia cuma +/- 1 bulan di Meulaboh. Nia akan finish up everything I have started dan mencoba untuk pulang ke Surabaya on December.

Doain ya,..
Be home for birthday, Christmas, Stefy's examination, Stefy's birthday and old & New is very meaningful to me.

Farewell, Nia!

4 November 2006

Kata mereka

Kata Golda:
"ni..ni...aku pengen ngomong k kmu satu ni..klo kmu uda ada komitmen ma stefy..ntah sekecil apapun komitmen itu..dijalanin yang serius ya...aku ga blg kmu kudu stick ma stepy.nope...aku cmn pengen blg tentang komitmen nya...supaya kmu jalanin aja..soalnya aku ngerefleksiinnya jadi sama seperti hub kita ma DIA kan..sekecil apapun komitment kita..pasti DIA juga ga mau dikecewakan.."

Kata Nietz:
aku uda baca blogmu
puji Tuhan nie klo uda gpp
klo bukan krjaan'Nya...sapa lagi coba... ;)
hehehe...
sbnrnya kmrn aku sempet bngung pas kmu nanya gmn enaknya ma stefy
cm aku pikir dlm sgala hal lebih baek jujur
walopun awalnya susah...tp endingnya pasti baek...

Setelah apa yang terjadi, Nia jadi merefleksi diri. Sudah seberapa siapkah saya melangkah ke jenjang selanjutnya? Apakah Nia masih suka lirik sana sini, berharap there could be another boy next door that could be my actual soulmate? Atau Nia sudah yakin kalau Stefy ini, so far, 'the one' yang Tuhan kasih ke Nia?

Setelah Nia diam, lamaaa banget.
Nia jadi yakin.
Setelah Nia ingat Stefy.
Nia jadi lebih yakin.

Bukan cowok pinter bikin website yang Nia cari.
Bukan cowok yang pinter maen drum yang Nia suka
Bukan cowok yang gila olah raga dan berdandan a la J.T. yang Nia pengen
Bukan cowok yang punya jiwa sosial yang tinggi, yang ingin hidup di pedalaman yang Nia impikan.
Dan jelas bukan cowok yang berkantong tebal, mempunyai imbuhan MM atau MBA di belakang namanya, dan membawa kotak kecil berisi sebuah lingkaran seberat 24 karat yang Nia dambakan saat ini.

Nia suka cowok yang mengimpikan punya DVD player di mobil X-trail-nya tapi sadar kalau materi yang dia miliki bukan milik pribadinya.
Nia suka cowok yang tahu bahwa tamat Sarjana plus punya usaha belum tentu bisa memberi makanan istri dan ketiga anaknya di kemudian hari.
Nia suka cowok yang menempatkan pacarnya di tempat kedua setelah Tuhannya dan tahu bahwa tanpa Tuhan, dia bahkan tidak exist.
Nia suka cowok yang gila olah raga tapi masih ingat kalau minggu depan dia ada bimbingan skripsi, jadi harus stay at home, menyelesaikan skripsi.
Nia suka cowok yang mengirim SMS "sorry ngga bisa ikut!" pas diajak main billiard hari Sabtu malam, karena dia tugas singer di acara persekutuan doa.
Dan Nia suka cowok yang bisa Nia ajak melipat tangan bersama-sama, menekuk lutut bersama-sama, memejamkan mata bersama-sama, dan mengucapkan doa bersama.

Dan kayaknya rumah cowok itu cuma berjarak 15 menit dari rumah Nia.

3 November 2006

Lebih enak yang mana?

"Lebih enak dicintai, daripada mencintai."

Aku dulu tertawa ngakak mendengar ungkapan ini dari mulut teman baikku, yang sekarang aku anggap seperti kakakku sendiri. Bagaimana mungkin dicintai itu lebih enak?

Aku jadi mengingat kisah klasik Siti Nurbaya. Mbak Siti yang lemah. Mbak Siti yang wanita. Mbak Siti yang manut kata orang tua. Apa enak cuman dicintai Datuk Maringgi? Apa iya dicintai Datuk Maringgi bikin happy?

Trus saya jadi teringat pepatah wong jawa kuno. “Tresna jalaran saka kulino.” Apa iya cinta yang datang begitu saja, yang merupakan hasil dari perasaan cinta yang diberikan ke kita, membuat hari kita lebih indah? Apa iya jika kita dicintai tanpa kita mencintai orang itu bisa bikin hubungan kita bahagia? Live happily ever after?

Tapi dalam kasus kehidupanku, tepatnya yang terjadi 2 hari yang lalu, perasaan dicintai ini ternyata memberikan doping tersendiri buatku. Seminggu kemarin, kembali terulang peristiwa tidak bisa tidur. Ketika mata ini terpejam, tiap detik yang terlintas hanyalah rasa bersalah. Scene-scene film horor indonesia bahkan tidak bisa mengalahkan kengerianku di tengah malam.

Aku memang bersalah.
Kesalahan yang terus didaur ulang, yang hanya berubah wujud, namun asal muasalnya tetap sama: sampah. Aku hidup dan menghirup kesalahan itu. Aku berkubang dalam dosa yang tidak berbeda dari kemarin.

Suatu malam, aku seakan tersadar, terbangun dari mimpi-mimpi yang layaknya film horor Indonesia. Aku tahu, aku harus jujur. Apapun resikonya. Walaupun itu adalah kehilangan kesempatan menjadi bahagia.

“Aku butuh ngomong.”
Kalimat ini lebih dari cukup untuk melengkapi semua firasat buruknya selama berminggu-minggu ini. Dan terungkaplah semua busuk. Terciumlah bangkai yang dari kemarin kuberi pita, glitter dan kusemprot Channel No.5. Terlihatlah noda-noda dan kuman yang kemarin-kemarin ini kumanipulasi dengan efek blur dan texturize di Photoshop.

Tidak ada lagi menangis tersedu-sedu. Aku pasrah.
Hanya sekali-kali kata maaf terucap. Karena kali ini tidak akan kujual kata maafku untuk membeli cintanya.
Tidak lagi aku membela diri. Aku menunggu dicaci maki. Aku menunggu dihujani umpatan dan mendengar luapan emosi.
Tapi diam.

“Kamu marah?”
Aku tidak melihat logika dari alur cerita kehidupanku. Kali ini aku tidak bisa mencerna. Hening, benar-benar hening. Aku bahkan tidak tahu apa kata-kata apa yang harus kuucap selanjutnya.

“Nggak. Kalau sudah terjadi ya mau diapain.”
What? Hanya itu??
“Aku hanya butuh waktu untuk menenangkan diri.”
Aku membiarkan diriku digerogoti oleh rasa bersalah. Lebih dalam, lebih dalam, dan dalam. Aku membayangkan yang buruk-buruk. Aku membayangkan dia akan bangun pagi-pagi dan menyadari bahwa dia telah membuat kesalahan yang besar. Aku takut. Gelisah, namanya.

“Kesusahan sehari biarlah untuk sehari.”
Aku ingat tawaku saat dia mengutip ayat Alkitab ini, enam tahun lalu tepatnya. Sok! Kupikir waktu itu. Tapi prinsip itu ternyata masih dia terapkan sampai saat ini, seperti dalam kasus kemarin contohnya.

“Makanya, lain kali kalo diomongin orang tu ya mbok nurut.”
Dan dia mencium rambutku dan memegang pundakku dari belakang. THE END.

Ternyata memang benar, dicintai itu indah. Tapi aku masih yakin, saling mencintai itu lebih indah. Seperti kali ini, aku memang bahagia ketika aku masih dicintai, meskipun aku telah benar-benar salah. Tapi aku lebih bahagia, ketika aku tahu bahwa aku mencintai orang yang benar.

2 November 2006

Nonton Glenn

Seru abieZ! Heheh,.. bukan glennya. Beberapa pembaca setia 'sisi lain' mungkin pernah dengan kalau Nia kurang suka Glenn. Tapi kenapa hayoo nonton Glenn?? Berubah alirankah??

Bukan. Kemarin ini, rencananya ngasih tiket surprise buat Si Stefy (From now on, he didn't want me to call him Bang, kesannya kayak orang2 desa, katanya!). Tapi karena malam sebelumnya kami bertengkar (stupid me!), akhirnya surprise itu lebih terkesan seperti seremoni hukuman mati. Aku ngasih amplop berisi tiket dengan hati yang deg-degan. Semalaman aku ga bisa tidur, mikirin, "Mati,.. gimana ya? dia masih mau nonton konsernya ga ya?" Dan pas si Stefy uda menerima amplop berisi tiket nonton GLENN FREDLY (gitu lhoo!!), dia diam dan tersenyum sinis.

Jrep! Jrep!
Hatiku hancur.
Kata-kata selanjutnya adalah,..
"Buat apa ini? Sayang-sayang uang!"

Dengan nada yang membuat saya ingin mengambil rencong dan menghunuskannya pada hati saya.
Tes! Air mata menetes.

Long story short, pergilah kami bersama-sama, bergandeng tangan, dan dengan langkah yang menyeret karena pengen bermanja-manja, menonton konser Glenn Fredly di Van Java Cafe. Kami sudah baikan. Despite acara gondok-gondokkan yang berlangsung hari Selasa malam dari jam 9-12 malam dan berlanjut sampai ke hari rabu pagi sampai siang. Dan juga despite 'surprise'-nya Nia yang guaring dan ternyata, usut-punya usut, si Stefy mengalami keanehan, tidak suka disuprise-i dan dibohongi untuk diberi surprise (ngga seru, loe, yang!). Despite semua itu, kami senyum-senyum nonton Glenn.

Saya duduk. mendengarkan. menatap ke arah Stefy. Dia tersenyum. Dia bernyanyi-nyanyi kecil mengikuti si Glenn yang lincah di atas panggung. Dia tersenyum lagi.

Jujur, it was the most precious moment. Saya senang karena Stefy senang. Saya senang karena saya bisa bikin Stefy senang. Saya pun senang karena kesalahan yang saya buat sudah dianggap sampah yang tidak bisa didaur ulang. Benar-benar sudah masuk ke keranjang sampah dan tidak diharapkan untuk keluar lagi dalam wujud apapun.

Kami pun pulang, tapi kali ini dengan langkah terseok-seok karena kebanyakan berdiri.

Lagu Glenn menggema di telinga saya,..
"dan, dengarkan sayangku.
Aku mohon kau menikah denganku.

Yang, hiduplah denganku.

Berbagi kisah hidup berdua.
"

Kapan ya ditanyain gini? :P