Skip to main content

Korban Gagal Move On

Sudah lebih dari 1 bulan semenjak saya mengunggah tulisan saya lagi di Facebook dan blog, atas dukungan Ega. Dan sudah lebih dari 1 bulan juga saya absen nulis. Well, janji tinggallah janji.

Tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, right? Daripada kita off topic, mendingan saya ceritakan alasan saya tiba-tiba menghilang dr dunia socmed. Well, bukan menghilang, tp lay low. Tp ada temen yang sampek nyangka saya deactivate account gara-gara jarang eksis.

Sejak sebelum lebaran, saya diminta boss untuk bantuin mengecek budget marketing untuk tahun depan. Well, how hard can it be? Boss bilang saya disuruh ngecek semua angka match up dan itung2annya bener. Ok sip!

Ternyata job description 'membantu' itu sangat ambigu, sodara-sodara. Yang ada, saya ikut mengerjakan budget itu dan semua teori akuntansi yang pernah saya pelajari dalam hidup, harus dikeluarkan.

Sayangnya, saya hampir tidak pernah belajar akuntansi. Waktu SMA, saya selalu bolos atau bahasa kerennya dulu 'escape' pas kelas akuntansi! Entah alasan sakit, latihan paduan suara, meeting OSIS, atau apapun! Kalau ulangan, well saya hanya mengandalkan teman sebangku :p yes, guilty!

Waktu kuliah, saya sudah yakin benar bahwa di jurusan pilihan saya tidak ada pelajaran akuntansi. Yeah right, memang ngga ada akuntansi, tapi ada Business Economics, yang sama aja isinya. Tapi pas kuliah ada teman yang sangat baik yang ngebantuin saya ngerjain tugas Business Economics menganalisa 3 annual reports. I passed dengan nilai pas-pasan.

Lega. Dan saya berjanji tidak akan bertemu akuntansi lagi. Sampai bulan lalu. Seperti mantan yang gagal move on, akuntansi ini muncul lagi dalam hidupku. Sudah 1 bulan ini saya tidak tidur nyenyak, makan juga tak enak, dan kadang bisa stress. Gejalanya kayak orang jatuh cinta, but trust me, I am not falling in love with Accounting just yet.

So, what did I learn from this lesson?
1. Bila diminta untuk membantu, minta penjelasan detail apa job des Anda sebagai seorang 'pembantu'.
2. Buat yg masih kuliah/sekolah, bolos itu sangat tidak terpuji, apalagi kalo bolosnya ngga cuma sekali. Make sure kalo bolos jangan bareng-bareng 10 temen sekelas yang duduknya berdekatan (this will be discussed in another story)
3. Mencontek dan menyuruh orang lain mengerjakan tugas itu juga tidak terpuji, apalagi memanfaatkan cowok yg lagi PDKT untuk membantu mengerjakan tugas. Yeah I know, guilty!

The morale of this story adalah masalah sulit janganlah dihindari, tapi dihadapi. Jangan move on dari masalah sulit. Move on-nya dari mantan aja yah!

Comments

aisyah said…
harus bisa move on, semangat untuk move on

Popular posts from this blog

Cerita lucu tentang Bra!

Bra or orang-orang Indonesia lebih akrab dengan sebutan be-ha.

Kayaknya lucu deh ngobrolin tentang bra! Asal ngobrolinnya masih dalam batasan norma-norma dan tidak mengandung dirty joking a la American Pie or eXtra Large (American Pie versi Indonesia).

Punya ngga sih pengalaman lucu seputar bra?
Nie ada!
Waktu masih duduk di bangku SMP, Nie punya temen sekelas yang rese abis! Ngga tau dia dikasih makan apa ama bonyoknya tapi dia usiiiil banget! Kejadian yang paling Nie inget adalah si cowok ini, anggap aja namanya Budi, melakukan hal saru (porno) menurut pandangan anak SMP.

Hari itu hujan rintik-rintik (yaiks, kayak apa aja!). Heheheh,.. ralat! Hari itu Budi duduk tepat di belakang Nie. Budi lagi bangga akan penggaris panjangnya yang didapat dari ayah dan bunda (walah,.. opo seh!). Trus, di kala guru sedang menerangkan dengan seriusnya, tiba-tiba! Ctaaarrr!!!

Si Budi menggunakan penggaris panjangnya untuk menarik tali BH (waktu itu masih pake mini set) Nie dari belakang! Itu adalah kejad…

Gadget: Friend or Enemy?

Sebelum ke tema yang lebih 'enteng' lainnya, marilah kita memasuki tema yang sedikit lebih berbobot dan sering diperdebatkan semua emak-emak di seantero dunia. Bukan hanya di Indonesia saja, tapi sedunia pasti punya pandangan berbeda-beda tentang hal ini: GADGET! 

Gadget di Indonesia sering dikonotasikan dengan smartphone dan tablet. Buat orang tua, gadget sering dilihat sebagai teman baik atau musuh terbesar anak. Alhasil, orang tua kadang mengambil langkah yang ekstrim: melarang atau menyerah pada keinginan anak untuk main gadget.

Saya memiliki beberapa teman atau kenalan dari dua 'kubu' ini. Ada orang tua yang sama sekali tidak mengijinkan anaknya bermain atau memiliki gadget. Mereka takut akan efek negatif dari gadget: kecanduan, merusak mata, keterlambatan fungsi motorik dan masih banyak lagi. Pernah saya baca artikel yang mengatakan bahwa gadget itu seperti drugs untuk anak-anak. Ngeri ya!

Ada juga teman-teman saya yang sangat terbuka dengan adanya gadget, bahka…