Skip to main content

Third Culture Student: Identity Crisis

This year is my 8th year being abroad, and finally I suffer from this identity crisis. This is something that I have kinda expected to happen.

Third Culture kid actually refers to those who, as children, have spent some of their growing up years in a foreign country, and who don't have a sense of belonging to the passport country. But, I feel that I can relate to this term, too.

From my (almost) 26 years living in this earth, I have spent 8 years in a foreign country: Holland. To make things more complicated, I am Chinese by ethnic; but my passport says I am Indonesian. I speak Bahasa Indonesia, English and Dutch (in fluency order), and understand a tiny bit of Chinese.

These facts make me a Third-Cultur Student (just because my initial purpose of stay abroad was to study).

I realised that I suffer from identity crisis two days ago, just when Holland lost the world cup game against Spain.

When the world cup started, I initially didn't have particular team that I liked. I just went with the flow. My housemate thought that Spain would win (no, my housemate is not called Paul; and he doesn't happend to be an octopus). My boyfriend was in favour of England, Spain, Brazil, and a bit of Germany. Ah, actually he was for the best team. So, there I was, clueless about which team would win the world cup 2010.

Then, when Holland was in the final, I was really enthusiastic about it. I bought some orange stuffs. I watched the match in the midst of so many orange fans in North Sea Jazz - squeezed in the midst of giant Dutch people. And I enjoyed it!

When Holland lost, I was so disappointed. I wasn't crying, like some other people in North Sea Jazz, or like some of my colleagues; but I was upset.



I found myself feeling sorry for the Oranje's lost, feeling upset with the referee, with Spain. I got irritated when I read news about Holland losing. To conclude, I felt as sad as other (normal) Dutch people felt.

I was surprised with these facts, and asked myself "what are you, Nia?"

Here I am, questioning about my true identity. However, the fact that I might be (hopefully, partly) naturalised, I still want to go home to Indonesia. There lies my dream and future. But when is that? Only God knows.

Comments

Popular posts from this blog

Cerita lucu tentang Bra!

Bra or orang-orang Indonesia lebih akrab dengan sebutan be-ha.

Kayaknya lucu deh ngobrolin tentang bra! Asal ngobrolinnya masih dalam batasan norma-norma dan tidak mengandung dirty joking a la American Pie or eXtra Large (American Pie versi Indonesia).

Punya ngga sih pengalaman lucu seputar bra?
Nie ada!
Waktu masih duduk di bangku SMP, Nie punya temen sekelas yang rese abis! Ngga tau dia dikasih makan apa ama bonyoknya tapi dia usiiiil banget! Kejadian yang paling Nie inget adalah si cowok ini, anggap aja namanya Budi, melakukan hal saru (porno) menurut pandangan anak SMP.

Hari itu hujan rintik-rintik (yaiks, kayak apa aja!). Heheheh,.. ralat! Hari itu Budi duduk tepat di belakang Nie. Budi lagi bangga akan penggaris panjangnya yang didapat dari ayah dan bunda (walah,.. opo seh!). Trus, di kala guru sedang menerangkan dengan seriusnya, tiba-tiba! Ctaaarrr!!!

Si Budi menggunakan penggaris panjangnya untuk menarik tali BH (waktu itu masih pake mini set) Nie dari belakang! Itu adalah kejad…

Korban Gagal Move On

Sudah lebih dari 1 bulan semenjak saya mengunggah tulisan saya lagi di Facebook dan blog, atas dukungan Ega. Dan sudah lebih dari 1 bulan juga saya absen nulis. Well, janji tinggallah janji.

Tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, right? Daripada kita off topic, mendingan saya ceritakan alasan saya tiba-tiba menghilang dr dunia socmed. Well, bukan menghilang, tp lay low. Tp ada temen yang sampek nyangka saya deactivate account gara-gara jarang eksis.

Sejak sebelum lebaran, saya diminta boss untuk bantuin mengecek budget marketing untuk tahun depan. Well, how hard can it be? Boss bilang saya disuruh ngecek semua angka match up dan itung2annya bener. Ok sip!

Ternyata job description 'membantu' itu sangat ambigu, sodara-sodara. Yang ada, saya ikut mengerjakan budget itu dan semua teori akuntansi yang pernah saya pelajari dalam hidup, harus dikeluarkan.

Sayangnya, saya hampir tidak pernah belajar akuntansi. Waktu SMA, saya selalu bolos atau bahasa kerennya dulu &…

New Chapter: Different Focus

Tahun 2017 adalah sebuah halaman baru dari perjalanan hidup saya. Saya menikah di tahun 2012, memiliki anak pertama di tahun 2014. Bukan, saya tidak sedang mengumumkan hadirnya anak ke-2 (apalagi suami kedua 😜) seperti yang dipikirkan banyak orang. Saya ingin menceritakan keputusan besar yang saya ambil akhir tahun lalu.
Tahun lalu, tepatnya di bulan Desember, saya memutuskan untuk resign dari jabatan saya sebagai Head of Marketing di sebuah perusahaan retail terkemuka di Indonesia dan mengalihkan fokus saya untuk lebih menjadi seorang Mama untuk anak saya. Keputusan ini memang cukup mengejutkan, bahkan bagi saya sendiri, tetapi langkah ini adalah suatu keputusan yang sudah lama harusnya saya ambil.
Saya adalah seorang wanita karir, heart and soul. Bekerja adalah bagian hidup saya yang sudah ditanamkan dari muda. Waktu saya masih duduk di sekolah dasar, di saat liburan sekolah, dimana banyak teman yang berlibur, saya sering 'berlibur' di perpustakaan atau kantor di tempat Mama …