Skip to main content

#nulisrandom2015 Day 5: 1 Menit

Tadi pagi saya agak terlambat berangkat ke kantor. Biasa, Axl sudah bisa mulai manja. Jadi kadang dia bisa merengek-rengek di saat mamanya akan berangkat ke kantor.

Jadi begitu saya tancap gas, saya berkonsentrasi penuh untuk menyetir mobil, mengambil sela atau mencoba untuk tidak sampai ketinggalan lampu hijau. Sebel ngga sih kalau traffic lightnya berubah jadi warna merah pas saat kita akan melewatinya!

Di tengah jalan, ada mobil yang menyalip tiba-tiba. Sehingga saya berhenti. Dan ketika saya melanjutkan perjalanan, tak lama kemudian jalan saya distop oleh palang kereta api, pas saya hampir melewati jalan itu.

Sebel banget! Saya berpikir, saya ini pasti kehilangan waktu! Pasti saya akan terlambat. Itu pasti gara-gara mobil yang menyalip. Coba kalau saya tidak disalip, pasti tidak akan kena stop kereta api. Lalu saya melihat jam di smartphone: 8.12.

Tak lama kemudian, palang kereta api terbuka. Dan karena smartphone masih di tangan, saya lirik lagi jam di layarnya: pukul 8.13.

Hanya 1 menit?! Kenapa ya 1 menit bisa terasa begitu lama? Kenapa kehilangan 1 menit itu begitu penting, sampai-sampai saya mengkambing-hitamkan 1 menit ini menjadi penyebab saya terlambat?

Kadang kita disalip oleh mobil lain, atau jalan kita terhenti karena ada sepeda motor atau pejalan kaki yang menyebrang pelahan-lahan, atau ada becak di depan yang membuat laju mobil menjadi lambat. Dan kita bilang, kita kehilangan waktu karenanya.

Saya tersadarkan oleh 1 menit tadi. Sesungguhnya bukan waktu yang hilang. Tetapi ego kita yang hilang. Ego kita hilang karena sudah ada mobil lain yang mendahului kita. Kita sudah dikalahkan oleh mobil lain. Atau jalan kita sudah diambil tanpa permisi. Atau kita tidak rela jalan mobil kita dihambat oleh becak.

Apakah kita lebih memilih menyelamatkan ego daripada memikirkan keselamatan kita dan sesama?

Semoga lain kali ketika kita terlambat, kita diingatkan untuk tidak takut kehilangan ego. Saya jadi ingat sebuah iklan lalu lintas yang kurang lebih berkata demikian: utamakan keselamatan, ada keluarga yang menunggu Anda di rumah.

Comments

Popular posts from this blog

Cerita lucu tentang Bra!

Bra or orang-orang Indonesia lebih akrab dengan sebutan be-ha.

Kayaknya lucu deh ngobrolin tentang bra! Asal ngobrolinnya masih dalam batasan norma-norma dan tidak mengandung dirty joking a la American Pie or eXtra Large (American Pie versi Indonesia).

Punya ngga sih pengalaman lucu seputar bra?
Nie ada!
Waktu masih duduk di bangku SMP, Nie punya temen sekelas yang rese abis! Ngga tau dia dikasih makan apa ama bonyoknya tapi dia usiiiil banget! Kejadian yang paling Nie inget adalah si cowok ini, anggap aja namanya Budi, melakukan hal saru (porno) menurut pandangan anak SMP.

Hari itu hujan rintik-rintik (yaiks, kayak apa aja!). Heheheh,.. ralat! Hari itu Budi duduk tepat di belakang Nie. Budi lagi bangga akan penggaris panjangnya yang didapat dari ayah dan bunda (walah,.. opo seh!). Trus, di kala guru sedang menerangkan dengan seriusnya, tiba-tiba! Ctaaarrr!!!

Si Budi menggunakan penggaris panjangnya untuk menarik tali BH (waktu itu masih pake mini set) Nie dari belakang! Itu adalah kejad…

Korban Gagal Move On

Sudah lebih dari 1 bulan semenjak saya mengunggah tulisan saya lagi di Facebook dan blog, atas dukungan Ega. Dan sudah lebih dari 1 bulan juga saya absen nulis. Well, janji tinggallah janji.

Tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, right? Daripada kita off topic, mendingan saya ceritakan alasan saya tiba-tiba menghilang dr dunia socmed. Well, bukan menghilang, tp lay low. Tp ada temen yang sampek nyangka saya deactivate account gara-gara jarang eksis.

Sejak sebelum lebaran, saya diminta boss untuk bantuin mengecek budget marketing untuk tahun depan. Well, how hard can it be? Boss bilang saya disuruh ngecek semua angka match up dan itung2annya bener. Ok sip!

Ternyata job description 'membantu' itu sangat ambigu, sodara-sodara. Yang ada, saya ikut mengerjakan budget itu dan semua teori akuntansi yang pernah saya pelajari dalam hidup, harus dikeluarkan.

Sayangnya, saya hampir tidak pernah belajar akuntansi. Waktu SMA, saya selalu bolos atau bahasa kerennya dulu &…

New Chapter: Different Focus

Tahun 2017 adalah sebuah halaman baru dari perjalanan hidup saya. Saya menikah di tahun 2012, memiliki anak pertama di tahun 2014. Bukan, saya tidak sedang mengumumkan hadirnya anak ke-2 (apalagi suami kedua 😜) seperti yang dipikirkan banyak orang. Saya ingin menceritakan keputusan besar yang saya ambil akhir tahun lalu.
Tahun lalu, tepatnya di bulan Desember, saya memutuskan untuk resign dari jabatan saya sebagai Head of Marketing di sebuah perusahaan retail terkemuka di Indonesia dan mengalihkan fokus saya untuk lebih menjadi seorang Mama untuk anak saya. Keputusan ini memang cukup mengejutkan, bahkan bagi saya sendiri, tetapi langkah ini adalah suatu keputusan yang sudah lama harusnya saya ambil.
Saya adalah seorang wanita karir, heart and soul. Bekerja adalah bagian hidup saya yang sudah ditanamkan dari muda. Waktu saya masih duduk di sekolah dasar, di saat liburan sekolah, dimana banyak teman yang berlibur, saya sering 'berlibur' di perpustakaan atau kantor di tempat Mama …