Skip to main content

#nulisrandom2015 Day 2: Enough is never enough.

Perlu diakui kita ini sering tidak mudah puas. Baik dalam mencapai prestasi ataupun memiliki barang idaman.

Tidak cepat puas sebenarnya adalah hal yang baik. Jika kita mudah puas, maka kita dengan mudahnya berhenti berusaha dan dengan gampangnya berhenti.

Pada saat kuliah, ada 1 dosen yang sangat tough. Amanda Coady namanya. Dapat nilai 7 untuk mata kuliah dia, itu sudah syukur alhamdulilah. Tapi saya ngga rela cuma dapat 7 (thanks to my Asian blood!). Saya mencoba untuk dapat nilai 8 bahkan kalau bisa 9. Well, akhirnya mentok cuma dapat 8.5 di mata kuliah marketing communications.

Rasa tidak cepat puas ini saya bawa sampai sekarang. Apalagi my ex boss adalah seorang perfectionist. Kalau saya melakukan kesalahan dalam pekerjaan, bisa saya pikirkan siang malam.

Tapi tanpa sadar, rasa tidak cepat puas ini saya bawa dalam aspek kehidupan saya yang lain. Yaitu dalam penampilan dan barang-barang yang saya miliki.

Sudah punya 1 baju merek tertentu, eh ngerasa kenapa kok ngga 2? Window shopping di Instagram dan melihat ada 'new release! Limited stock', langsung stand by dan jadi pertama yang beli koleksi terbaru.

Alhasil gaji berapapun ngga akan sanggup mencukupi "kebutuhan". Gaji 5 juta, beli 1 baju bermerek dan 1 sepatu, akhir bulan cuma bisa makan indomie. Gaji 10 juta, harusnya ngga perlu ada acara makan indomie di akhir bulan. Eh, tapi jadi kepengen beli 2 baju, 2 sepatu dan gadget baru, dengan alasan sekarang lebih mampu. Tapi akhir bulan makan indomie lagi.

Jadi harus gimana? Lebih baik mudah atau tidak mudah berpuas diri?

Berambisi boleh. Selalu belajar dan berusaha untuk jadi lebih baik malah lebih boleh. Tapi di saat yang sama, kita harus bisa mencukupkan diri dengan apa yang kita punya. Jangan sampai menginginkan apa yang tidak kita punya itu membuat kita jadi bersikap negatif.

Comments

Popular posts from this blog

FENOMENA ACEH 07

Daster Batik Pagi itu Nie datang ke kantor disambut oleh kumpulan ibu-ibu yang tidak jelas dari mana dan mau apa. “Assalamualaikum” sapa Nie. “Waalaikumsalam” jawab kumpulan ibu-ibu itu serempak. Nie menyunggingkan senyum, berusaha menampilkan senyum yang termanis untuk mereka. Semakin aku masuk ke dalam kantorku, semakin banyak ibu-ibu yang duduk lesehan di depan kantorku. Nie bergegas masuk ke ruangan admin, ada Hetty dan Wardah di sana. “Dah, kenapa ada ibu-ibu itu di situ?” Nie bertanya ke Wardah asal muasal ibu-ibu itu. “Oh, Pak Welly menugaskan karyawan kita yang di lapangan untuk mencari ibu-ibu yang membutuhkan sumbangan baju daster. Ibu-ibu korban tsunami. Ya itulah, bu, ibu-ibu yang akan diberikan sumbangan baju daster.” Nie mencermati kumpulan ibu-ibu itu. Ada yang masih muda belia, ada yang sudah tua, entah apa rambutnya sudah putih semua karena uban, atau disemir hitam mengkilap. Aku tak tahu, karena semua ibu-ibu menutupi auratnya, dari kepala sampai ujung kaki. Jadi k...

What would you do if you could live another life

What would you do if you could live another life just for one day? This line is quoted from "Last Chance Harvey" . I have watched this film twice and still feel so touched everytime I watch it. Kate Walker, the main character in this film, uttered this question to Harvey Shine. In this story, both of them lived a life that is not very happy-chappy. Kate lived in a pathetic, boring life; Harvey in a screwed one. When Kate asked this question, both of them seem to ponder: what if I could live a different life, just for one day, just to try out. This question makes me ponder, too: what would I do if I was given a chance to live any kind of life I want, just for one day? Where would I be? What would I do? Who would I be? Lately I have been thinking about the life I am living right now. Everything is so well-planned. I graduated from high school, went abroad to study, came back home to work, went abroad again to do my master, working in a reasonably good organisation, and going ho...

Probable Answer

Phien, I came across this article, forwarded by a good friend of mine (thx Nat!) . It might be the answer for our BIG question yesterday. I hope it will answer some of your puzzle, at least it has answered some of my concerns today :) - thank God --- Did I Marry The Right Person? Cerita di bawah ini sangat bagus, bagi yang masih single maupun yang sudah menikah. Bagi mereka yang masih single bisa mengambil pelajaran dari cerita ini, dan bagi yang sudah menikah cerita ini bisa jadi guideline untuk meningkatkan ikatan pernikahan yang udah dijalani. 'Apakah saya menikah dengan orang yang tepat?' Dalam sebuah seminar rumah tangga, seseorang audience tiba-tiba melontarkan pertanyaan yang sangat lumrah, ' Bagaimana saya tahu kalo saya menikah dengan orang yang tepat? ' Saya melihat ada seorang lelaki bertubuh besar duduk di sebelahnya jadi saya menjawab 'Ya.. tergantung. Apakah pria disebelah anda itu suami anda?' Dengan sangat serius dia balik bertanya 'Bagaiman...