Skip to main content

The Power of Digital Media Vs The Power of the Powerful

People say everybody now is the media
people have more power over companies and organisations compare to 10 - 20 years ago.
But, apparently it is yet not true in Indonesia.
The powerful still wins.


Before I head to bed, I checked my Google reader, and found out that Ndoro, famous Indonesian blogger has just updated his blog. Thus, I thought, why not read his light, interesting post.

It was not light at all. The article he wrote has made me shocked to death: a house-wife complained and was sent to jail.

The story started when this woman, named Prita Mulyasari got very ill and went to Omni International Hospital in Tangerang, Indonesia. Yet, she was mistreated. She didn't get the treatment she supposed to get and she was treated badly by both the staff and the doctors. It happened last year, in 2008. Because she had felt very disappointed about the service of this hospital, she shared her experience through e-mail and also sent her complaint to one of digital media in Indonesia, detik.com. In result, her complaint appeared on some blogs and forums in Indonesia. Then, Omni hospital discovered.

Prita was accused to allegedly circulate online defamatory statements against Omni. This case was brought to the court because Prita was accused to break the Act of Information Technology section 27 number 11 year 2008 about spreading false information using digital media. She lost. Since 13 May 2009, she had to leave her two little children, Khairan Ananta Nugroho and Ranarya Puandida Nugroho, and her husband, and stay in jail until the court finalise the case and decide her sentence.

It is such a tragedy, also a shame to the street journalists, media, and other digital citizens ini Indonesia, because Prita Mulyasari is not a terrorist; neither is she a corruptor or a criminal. She was just not satisfied with the service she received from the hospital; hence she sent e-mails to warn some of her friends and other people, which then ended up in some forums and blogs. I would have done the same if I were here, just because it is about your health. If it were food or quality of clothese that we are talking about, it would be so much different. Health is everything. If a doctor mistreats a patient, it is a matter of life and death.

As an Indonesian, I am really ashamed. It should not happen. It must not happen again. And we have to speak up to save Prita from being sentenced to suffer in ugly, Indonesian jail.

Please retweet, forward, or share this information to your friends, followers, or whoever. You can join this Facebook cause, too.

Here are some articles from Indonesian media:

Koran Tempo

Kompas
The Jakarta Post

Comments

Popular posts from this blog

Cerita lucu tentang Bra!

Bra or orang-orang Indonesia lebih akrab dengan sebutan be-ha.

Kayaknya lucu deh ngobrolin tentang bra! Asal ngobrolinnya masih dalam batasan norma-norma dan tidak mengandung dirty joking a la American Pie or eXtra Large (American Pie versi Indonesia).

Punya ngga sih pengalaman lucu seputar bra?
Nie ada!
Waktu masih duduk di bangku SMP, Nie punya temen sekelas yang rese abis! Ngga tau dia dikasih makan apa ama bonyoknya tapi dia usiiiil banget! Kejadian yang paling Nie inget adalah si cowok ini, anggap aja namanya Budi, melakukan hal saru (porno) menurut pandangan anak SMP.

Hari itu hujan rintik-rintik (yaiks, kayak apa aja!). Heheheh,.. ralat! Hari itu Budi duduk tepat di belakang Nie. Budi lagi bangga akan penggaris panjangnya yang didapat dari ayah dan bunda (walah,.. opo seh!). Trus, di kala guru sedang menerangkan dengan seriusnya, tiba-tiba! Ctaaarrr!!!

Si Budi menggunakan penggaris panjangnya untuk menarik tali BH (waktu itu masih pake mini set) Nie dari belakang! Itu adalah kejad…

Korban Gagal Move On

Sudah lebih dari 1 bulan semenjak saya mengunggah tulisan saya lagi di Facebook dan blog, atas dukungan Ega. Dan sudah lebih dari 1 bulan juga saya absen nulis. Well, janji tinggallah janji.

Tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, right? Daripada kita off topic, mendingan saya ceritakan alasan saya tiba-tiba menghilang dr dunia socmed. Well, bukan menghilang, tp lay low. Tp ada temen yang sampek nyangka saya deactivate account gara-gara jarang eksis.

Sejak sebelum lebaran, saya diminta boss untuk bantuin mengecek budget marketing untuk tahun depan. Well, how hard can it be? Boss bilang saya disuruh ngecek semua angka match up dan itung2annya bener. Ok sip!

Ternyata job description 'membantu' itu sangat ambigu, sodara-sodara. Yang ada, saya ikut mengerjakan budget itu dan semua teori akuntansi yang pernah saya pelajari dalam hidup, harus dikeluarkan.

Sayangnya, saya hampir tidak pernah belajar akuntansi. Waktu SMA, saya selalu bolos atau bahasa kerennya dulu &…

New Chapter: Different Focus

Tahun 2017 adalah sebuah halaman baru dari perjalanan hidup saya. Saya menikah di tahun 2012, memiliki anak pertama di tahun 2014. Bukan, saya tidak sedang mengumumkan hadirnya anak ke-2 (apalagi suami kedua 😜) seperti yang dipikirkan banyak orang. Saya ingin menceritakan keputusan besar yang saya ambil akhir tahun lalu.
Tahun lalu, tepatnya di bulan Desember, saya memutuskan untuk resign dari jabatan saya sebagai Head of Marketing di sebuah perusahaan retail terkemuka di Indonesia dan mengalihkan fokus saya untuk lebih menjadi seorang Mama untuk anak saya. Keputusan ini memang cukup mengejutkan, bahkan bagi saya sendiri, tetapi langkah ini adalah suatu keputusan yang sudah lama harusnya saya ambil.
Saya adalah seorang wanita karir, heart and soul. Bekerja adalah bagian hidup saya yang sudah ditanamkan dari muda. Waktu saya masih duduk di sekolah dasar, di saat liburan sekolah, dimana banyak teman yang berlibur, saya sering 'berlibur' di perpustakaan atau kantor di tempat Mama …