Skip to main content

What I learned from 7:14

In my previous post, I shared that I joined this movement called prayer 7:14. Well, actualy it ended a couple of weeks ago, but my works got the better of me.

Let me share briefly what Mr. S and I have learned during the 8-days of praying and (social media and watch-soccer) fasting.

Mr. S and I have never been a serious prayer. We prayed regularly - before our meals, before going to bed, and in the morning. But if you know what I mean, the prayer time is very regular. It is something we do - rituals - so we never had the longing or calling to pray.

This 7:14 movement has actually challenged us, or me personally, to really want to pray; and to learn to pray unselfishly.

I often prayed only for family, myself, my spouse, my work, my day, my health, and ask forgivenes for my sins. It's all about me.

This time, we prayed for a lot of things, not only for ourselves.

When we kicked off on Sunday, we felt like 14 minutes were very long. How could we pray in 14 minutes? So the first day, we prayed I think for 10 minutes, then realized that we still had 4 minutes, and we continued. On this first day, we were searching and thinking of subjects or topics we should pray for.

Starting from the second day, it got easier. We were more comfortable to pray out loud, topics seem to come easily. We finished praying after 13 minutes.

But strating from the third day, we no longer had trouble praying. Topics kept coming. We kept praying. And I think, we prayed almost 30 minutes once or twice.

We prayed for our friends, we called them by name, we said each issues they had and asked for God's help. We mentioned every concern we had in our heart, our dream. We prayed for our countries - the upcoming elections, the open corruption cases, the politicians, other political agenda, North Korea, and many more.

At church, we heard some stories about the result of this movement: some people got better, some relationships were mended, some situations appeared to be brighter. For a split second, I had questioned "what were the result for us, God? because I didn't see any miracels happening after 8 days."

But I was reminded that after this movement, prayer has become the most essential part of our relationship. Believe it or not, my relationship with Mr. S got even closer. And most importantly, after our social media and watch-soccer fasting, we learned to let go things that are less important in our lives.

So no 'blind man can see' miracles happened to us, but we definitely benefit from this movement.

Comments

Popular posts from this blog

Cerita lucu tentang Bra!

Bra or orang-orang Indonesia lebih akrab dengan sebutan be-ha.

Kayaknya lucu deh ngobrolin tentang bra! Asal ngobrolinnya masih dalam batasan norma-norma dan tidak mengandung dirty joking a la American Pie or eXtra Large (American Pie versi Indonesia).

Punya ngga sih pengalaman lucu seputar bra?
Nie ada!
Waktu masih duduk di bangku SMP, Nie punya temen sekelas yang rese abis! Ngga tau dia dikasih makan apa ama bonyoknya tapi dia usiiiil banget! Kejadian yang paling Nie inget adalah si cowok ini, anggap aja namanya Budi, melakukan hal saru (porno) menurut pandangan anak SMP.

Hari itu hujan rintik-rintik (yaiks, kayak apa aja!). Heheheh,.. ralat! Hari itu Budi duduk tepat di belakang Nie. Budi lagi bangga akan penggaris panjangnya yang didapat dari ayah dan bunda (walah,.. opo seh!). Trus, di kala guru sedang menerangkan dengan seriusnya, tiba-tiba! Ctaaarrr!!!

Si Budi menggunakan penggaris panjangnya untuk menarik tali BH (waktu itu masih pake mini set) Nie dari belakang! Itu adalah kejad…

Korban Gagal Move On

Sudah lebih dari 1 bulan semenjak saya mengunggah tulisan saya lagi di Facebook dan blog, atas dukungan Ega. Dan sudah lebih dari 1 bulan juga saya absen nulis. Well, janji tinggallah janji.

Tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, right? Daripada kita off topic, mendingan saya ceritakan alasan saya tiba-tiba menghilang dr dunia socmed. Well, bukan menghilang, tp lay low. Tp ada temen yang sampek nyangka saya deactivate account gara-gara jarang eksis.

Sejak sebelum lebaran, saya diminta boss untuk bantuin mengecek budget marketing untuk tahun depan. Well, how hard can it be? Boss bilang saya disuruh ngecek semua angka match up dan itung2annya bener. Ok sip!

Ternyata job description 'membantu' itu sangat ambigu, sodara-sodara. Yang ada, saya ikut mengerjakan budget itu dan semua teori akuntansi yang pernah saya pelajari dalam hidup, harus dikeluarkan.

Sayangnya, saya hampir tidak pernah belajar akuntansi. Waktu SMA, saya selalu bolos atau bahasa kerennya dulu &…

New Chapter: Different Focus

Tahun 2017 adalah sebuah halaman baru dari perjalanan hidup saya. Saya menikah di tahun 2012, memiliki anak pertama di tahun 2014. Bukan, saya tidak sedang mengumumkan hadirnya anak ke-2 (apalagi suami kedua 😜) seperti yang dipikirkan banyak orang. Saya ingin menceritakan keputusan besar yang saya ambil akhir tahun lalu.
Tahun lalu, tepatnya di bulan Desember, saya memutuskan untuk resign dari jabatan saya sebagai Head of Marketing di sebuah perusahaan retail terkemuka di Indonesia dan mengalihkan fokus saya untuk lebih menjadi seorang Mama untuk anak saya. Keputusan ini memang cukup mengejutkan, bahkan bagi saya sendiri, tetapi langkah ini adalah suatu keputusan yang sudah lama harusnya saya ambil.
Saya adalah seorang wanita karir, heart and soul. Bekerja adalah bagian hidup saya yang sudah ditanamkan dari muda. Waktu saya masih duduk di sekolah dasar, di saat liburan sekolah, dimana banyak teman yang berlibur, saya sering 'berlibur' di perpustakaan atau kantor di tempat Mama …