Skip to main content

Friendship forever

Friendship [frend-ship]: the state of being a friend [dictionary]

This word might seem meaningless for us 5 – 10 years ago. It was merely nice word that we put in the end of our e-mail or in our classmate’s memory book: Friendship forever. Yet, what does this word mean to us right now? How much time do we invest in building our friendship? Or how much time do we have to even think of friendship?

Last week at church, we were taught about having healthy relationship with friends. And I realised that I haven’t done anything to my friendships with any of my friends.

Based on the sermon, there are four sorts of friends: acquaintances, casual friends, close friends, and intimate friends.

And I notice that most of my friendship (levels) I have been downgraded: from intimate to close, from intimate to casual, and even worse, from intimate to acquaintances. These happened because first, distance (because I have moved from one place to another), and of course, quarrels or problems.

I feel embarrassed about this, also sad at the same time. The prior reason is quite acceptable (although with the technology that we nowadays have, it is no longer a good excuse), yet if the latter reason downgrades the level of my friendship, I guess there is something wrong about it.

And it is most likely my mistake.

I often runaway from problems. Also, if I have any quarrels with my friends, I will most likely put the biggest smile on my face, and “let it go” (which, in my dictionary, means bottle it up). These actions have big impact in my relationship: I lost my intimate friends because of this.

The sermon last week has made me realise that I should make peace with myself and try to settle this friendship issue, which includes: make peace with friends I have had problems with, reconnect with old classmates or friends (chatting, sending e-mail, or calling), and let go (as the real letting go action) tiny issues that had come between me and my friends and befriend with them again.

This resolution will be taken into my New Year resolution. Speaking of New Year, it is like 7-8 weeks before the new year begins. WOW!

Comments

Popular posts from this blog

Cerita lucu tentang Bra!

Bra or orang-orang Indonesia lebih akrab dengan sebutan be-ha.

Kayaknya lucu deh ngobrolin tentang bra! Asal ngobrolinnya masih dalam batasan norma-norma dan tidak mengandung dirty joking a la American Pie or eXtra Large (American Pie versi Indonesia).

Punya ngga sih pengalaman lucu seputar bra?
Nie ada!
Waktu masih duduk di bangku SMP, Nie punya temen sekelas yang rese abis! Ngga tau dia dikasih makan apa ama bonyoknya tapi dia usiiiil banget! Kejadian yang paling Nie inget adalah si cowok ini, anggap aja namanya Budi, melakukan hal saru (porno) menurut pandangan anak SMP.

Hari itu hujan rintik-rintik (yaiks, kayak apa aja!). Heheheh,.. ralat! Hari itu Budi duduk tepat di belakang Nie. Budi lagi bangga akan penggaris panjangnya yang didapat dari ayah dan bunda (walah,.. opo seh!). Trus, di kala guru sedang menerangkan dengan seriusnya, tiba-tiba! Ctaaarrr!!!

Si Budi menggunakan penggaris panjangnya untuk menarik tali BH (waktu itu masih pake mini set) Nie dari belakang! Itu adalah kejad…

Korban Gagal Move On

Sudah lebih dari 1 bulan semenjak saya mengunggah tulisan saya lagi di Facebook dan blog, atas dukungan Ega. Dan sudah lebih dari 1 bulan juga saya absen nulis. Well, janji tinggallah janji.

Tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, right? Daripada kita off topic, mendingan saya ceritakan alasan saya tiba-tiba menghilang dr dunia socmed. Well, bukan menghilang, tp lay low. Tp ada temen yang sampek nyangka saya deactivate account gara-gara jarang eksis.

Sejak sebelum lebaran, saya diminta boss untuk bantuin mengecek budget marketing untuk tahun depan. Well, how hard can it be? Boss bilang saya disuruh ngecek semua angka match up dan itung2annya bener. Ok sip!

Ternyata job description 'membantu' itu sangat ambigu, sodara-sodara. Yang ada, saya ikut mengerjakan budget itu dan semua teori akuntansi yang pernah saya pelajari dalam hidup, harus dikeluarkan.

Sayangnya, saya hampir tidak pernah belajar akuntansi. Waktu SMA, saya selalu bolos atau bahasa kerennya dulu &…

New Chapter: Different Focus

Tahun 2017 adalah sebuah halaman baru dari perjalanan hidup saya. Saya menikah di tahun 2012, memiliki anak pertama di tahun 2014. Bukan, saya tidak sedang mengumumkan hadirnya anak ke-2 (apalagi suami kedua 😜) seperti yang dipikirkan banyak orang. Saya ingin menceritakan keputusan besar yang saya ambil akhir tahun lalu.
Tahun lalu, tepatnya di bulan Desember, saya memutuskan untuk resign dari jabatan saya sebagai Head of Marketing di sebuah perusahaan retail terkemuka di Indonesia dan mengalihkan fokus saya untuk lebih menjadi seorang Mama untuk anak saya. Keputusan ini memang cukup mengejutkan, bahkan bagi saya sendiri, tetapi langkah ini adalah suatu keputusan yang sudah lama harusnya saya ambil.
Saya adalah seorang wanita karir, heart and soul. Bekerja adalah bagian hidup saya yang sudah ditanamkan dari muda. Waktu saya masih duduk di sekolah dasar, di saat liburan sekolah, dimana banyak teman yang berlibur, saya sering 'berlibur' di perpustakaan atau kantor di tempat Mama …