Skip to main content

Macaroni Schotel

Some Indonesian peeps are quite familiar with this dish: macaroni schotel. Some people said its kinda Dutch/European food that is popular in Indonesia.

To tell you the truth, Dutch people are not familiar with Macaronie Schotel. Neither are the Italians (my friend Tina, from Italy, will kill me if she found out that I made macaroni into somekind of pie or savoury cake or what we call 'schotel'). Schotel is a Dutch word for dish or platter. Thus it is not food. I reckon the name of this food is created because it is a mix of macaroni, milk, cheese, and ham, and put in a 'schotel'.

Apart from the name, the taste of this dish is excellent, delicious, mammamiaaa!

So, last weekend, I had my Sunday off (honestly, I skipped church, too, because I was so exhausted). Thus, I decided to ask my mom how to make a macaroni schotel. Why my mom?

My mom's family is known as the great chef. My grandma could cook very well; my uncle, too. My grandma, my uncle and my mom even had (and for my uncle's case, has) a little catering business. The recipe of macaroni schotel was actully from my grandma. My mom got it from her, and she's been making macaroni schotel ever since she got the recipe. Everyone loves my mom's macaroni schotel! Including me!

And because I wanted to inherit that magic recipe, too, I asked my mom to email the recipe to me. So, after encrypting the recipe (so now you will not able to trace or find the recipe :P), I made it.

And here it is!
It was verryyyy tasty! There was a slight taste missing, which was the taste of the ham. My mom normally used pork ham, but we wanted to go halal (I never cook pork stuff at home, hardly eat it, and also because the nearest store that sold ham on Sunday that was open, was an islamic store :) ). But, it was suppeeee tasty! And makannya teteeep pake sambal ABC

Comments

Anonymous said…
The dish macaronischotel can be found in old Dutch cookbooks used in Indonesia under colonial rule.

My own theory is this: macaronischotel was a Dutch dish popular around the beginning of the 20th century. It traveled to Indonesia by migrants from Holland and became a popular dish among colonial Dutch, eurasians and others who were influenced by Dutch culture.

The dish is now forgotten in Holland, or rather almost, because it is still popular by Eurasians there (Belanda Indo).
Oma Nia said…
Agree, I confirm that with my Dutch friends, they have never even seen it in their lives :)

Popular posts from this blog

Cerita lucu tentang Bra!

Bra or orang-orang Indonesia lebih akrab dengan sebutan be-ha.

Kayaknya lucu deh ngobrolin tentang bra! Asal ngobrolinnya masih dalam batasan norma-norma dan tidak mengandung dirty joking a la American Pie or eXtra Large (American Pie versi Indonesia).

Punya ngga sih pengalaman lucu seputar bra?
Nie ada!
Waktu masih duduk di bangku SMP, Nie punya temen sekelas yang rese abis! Ngga tau dia dikasih makan apa ama bonyoknya tapi dia usiiiil banget! Kejadian yang paling Nie inget adalah si cowok ini, anggap aja namanya Budi, melakukan hal saru (porno) menurut pandangan anak SMP.

Hari itu hujan rintik-rintik (yaiks, kayak apa aja!). Heheheh,.. ralat! Hari itu Budi duduk tepat di belakang Nie. Budi lagi bangga akan penggaris panjangnya yang didapat dari ayah dan bunda (walah,.. opo seh!). Trus, di kala guru sedang menerangkan dengan seriusnya, tiba-tiba! Ctaaarrr!!!

Si Budi menggunakan penggaris panjangnya untuk menarik tali BH (waktu itu masih pake mini set) Nie dari belakang! Itu adalah kejad…

Korban Gagal Move On

Sudah lebih dari 1 bulan semenjak saya mengunggah tulisan saya lagi di Facebook dan blog, atas dukungan Ega. Dan sudah lebih dari 1 bulan juga saya absen nulis. Well, janji tinggallah janji.

Tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, right? Daripada kita off topic, mendingan saya ceritakan alasan saya tiba-tiba menghilang dr dunia socmed. Well, bukan menghilang, tp lay low. Tp ada temen yang sampek nyangka saya deactivate account gara-gara jarang eksis.

Sejak sebelum lebaran, saya diminta boss untuk bantuin mengecek budget marketing untuk tahun depan. Well, how hard can it be? Boss bilang saya disuruh ngecek semua angka match up dan itung2annya bener. Ok sip!

Ternyata job description 'membantu' itu sangat ambigu, sodara-sodara. Yang ada, saya ikut mengerjakan budget itu dan semua teori akuntansi yang pernah saya pelajari dalam hidup, harus dikeluarkan.

Sayangnya, saya hampir tidak pernah belajar akuntansi. Waktu SMA, saya selalu bolos atau bahasa kerennya dulu &…

New Chapter: Different Focus

Tahun 2017 adalah sebuah halaman baru dari perjalanan hidup saya. Saya menikah di tahun 2012, memiliki anak pertama di tahun 2014. Bukan, saya tidak sedang mengumumkan hadirnya anak ke-2 (apalagi suami kedua 😜) seperti yang dipikirkan banyak orang. Saya ingin menceritakan keputusan besar yang saya ambil akhir tahun lalu.
Tahun lalu, tepatnya di bulan Desember, saya memutuskan untuk resign dari jabatan saya sebagai Head of Marketing di sebuah perusahaan retail terkemuka di Indonesia dan mengalihkan fokus saya untuk lebih menjadi seorang Mama untuk anak saya. Keputusan ini memang cukup mengejutkan, bahkan bagi saya sendiri, tetapi langkah ini adalah suatu keputusan yang sudah lama harusnya saya ambil.
Saya adalah seorang wanita karir, heart and soul. Bekerja adalah bagian hidup saya yang sudah ditanamkan dari muda. Waktu saya masih duduk di sekolah dasar, di saat liburan sekolah, dimana banyak teman yang berlibur, saya sering 'berlibur' di perpustakaan atau kantor di tempat Mama …