Skip to main content

Would I get paid for being discouraged?

Kalau kalian sudah melakukan suatu pekerjaan yang berat, yang membuat keringat mencucur berliter-liter, membuat jam tidur terpangkas habis (either karena kesibukan atau karena stress memikirkan pekerjaan), dan membuat Anda kurus kering kurang makan (either karena ga ada waktu, stress ngga bisa makan, atau karena ngga ada duit :P); kira-kira apa yang kalian harapkan?

Oma sudah melakukan survey kecil. Beberapa menjawab “Naik Gaji!” Itu kalau Anda bekerja di perusahaan. Pasti itu yang muncul di benak Anda. Ada lagi yang menjawab “Pujian!” Benar sekali, Oma pun setuju dengan ini. Ada lagi yang bilang “Pengakuan!” Lagi-lagu benar. Ada juga yang simply say “cuti panjang atau liburan, kalau bisa dibayarin (of course). Pokoknya pengen tidur lebih lama, istirahat dan makan lebih banyak.” Yap, setuju!

Kalo bole Oma simpulkan, yang diinginkan adalah reward atau penghargaan. Apapun bentuknya. Bisa berupa lembaran rupiah (atau poundsterling), bisa berupa peningkatan fasilitas (dapat mobil, liburan, etc.), atau bisa simply sebuah pujian, encouragement words atau support.

Apa jadinya kalau Anda, atau karyawan Anda, tidak mendapatkan itu?

Pertama, pasti Anda menuai protes. Anda pasti diprotes oleh anak buah. Bisa jadi protes langsung atau tidak langsung (alias gosip-gosip). Kedua, bisa diprediksi kinerja Anda atau anak buah menurun. Jadi males-malesan, jadi cepet be-te, jadi suka sensi (baca: sensitif). Pokoknya, tidak sebrilian sebelumnya. Finally, pasti ada aksi walk out! Apabila reward tidak diberikan, dan itu terjadi berulang-ulang, maka pasti Anda atau anak buah akan merencanakan/melakukan aksi walk out.

Buat Oma, pujian itu yang paling penting. Bukannya Oma munafik lho ya! Tapi, misalkan pun tidak ada reward berupa uang atau barang, ucapan terima kasih, pujian “good job!” atau tepukan di pundak sambil berkata “keren deh!” atau “wow, it was great!” itu sudah means a world to me. Memang, kalau ada tambahan uang atau barang, itu bakal bikin lebih sumringah. Tapi kalo ndak, beneran ga papa.

Gimana kalau actually apa yang kita lakukan tidak sesuai dengan yang diharapkan? Apa kita masih layak menerima tepukan di pundak dan pujian?

Kritik, saran dan masukan untuk perkembangan di kemudian hari is great! Oma sangat butuh itu. Namun, sedikit support atau encouraging words ngga ada salahnya kan?

So, Oma mengajak Anda semua untuk lebih gemar memberikan pujian atau support untuk teman-teman, keluarga, bahkan rekan kerja. Siapa tahu sebuah pujian, yang mungkin sebenarnya awalnya hanya sebuah basa-basi, bisa membuat rekan kerja Anda terbang ke awang-awang dan membuatnya lebih semangat kerja lagi.

Kenapa Oma mengajak Anda untuk melakukan ini? Fewh,.. karena sebenarnya Oma just had a very bad day, dimana yang Oma dengar hanya complaint, so-called FYI dan discouragement words. Padahal, berbulan-bulan ini Oma lalui dengan air mata, lelah, jatuh bangun karena sakit, dan berat badan yang bertambah karena stress. Kemarin Oma sakit maag parah. Sebelumnya Oma sakit flu berat. Dan, what I get is only complaint and blame! Thank you very much, then (it doesn't even pay off my medicine bills!)

Maybe I don’t yet deserve a standing ovation, nor I deserve a increased salary. Bukan itu yang Oma harapkan!! Sebuah pujian, support atau kalo nggak, bantuan. So that I know, that I am not alone, nor I have done a terrible thing to this company. Cukup bilang “Nia, thanks ya sudah melakukan event ini,” atau “eventho it is not yet perfect, but good job. Salut kamu bisa maintain semua ini.”

Anda bole panggil saya narsis, tapi memang itulah yang Oma butuhkan sekarang. Biar Oma semangat lagi.

Bukan sebuah complaint harga kemahalan. Hal yang seharusnya sudah berbulan-bulan-bulan lalu dibahas dan diselesaikan. Sayang, some people didn’t notice that I even existed.


Inhale,... Exhale,...Inhale,...Exhale,...

Comments

Koko said…
Good jobs on this blog...i love it..
elvin said…
hmm..your employer should have a course on motivational speech XD

cmon nie, its like working in those indonesian resto in here, the best compliment you could get is no complains.

ahahahahha *sigh*

congratz for the show, btw ;)
mo nraktir dim sum?
Brillie said…
tidur is the best!!!
Jiewa said…
Huhu.. I know how it feel. A simple "good job" statement feels like an oasis :D

Sayang, kenyataannya hal spt itu sulit didapat. Setuju banget dgn Elvin diatas, alih2 dipuji, tidak ada komplain saja sudah bagus :)
bulan said…
i feel that, same problem here :)
77island said…
hmm..
di comp gue actually bukan dapet pujian sey..
tapi dapet banyak outing2..
seringnya ke sukabumi..

hihihi.. mayan refreshing, dahh..
Oma Nia said…
@elvin & jie: thats very true. no complain = compliment :P

@77island: kalo kami, paling2 ke trawas, yang kalo tiap kali outing ke sana, jadi bikin bosen :(

@bulan: hai bulan,... pa kabaaar?

@brillie: TIDUR! is a must. tapi kalo ada waktu. hehehehh :P jadi kangen masa liburan sekolah yang 1 bulanan itu.

@koko: thx

Popular posts from this blog

Cerita lucu tentang Bra!

Bra or orang-orang Indonesia lebih akrab dengan sebutan be-ha.

Kayaknya lucu deh ngobrolin tentang bra! Asal ngobrolinnya masih dalam batasan norma-norma dan tidak mengandung dirty joking a la American Pie or eXtra Large (American Pie versi Indonesia).

Punya ngga sih pengalaman lucu seputar bra?
Nie ada!
Waktu masih duduk di bangku SMP, Nie punya temen sekelas yang rese abis! Ngga tau dia dikasih makan apa ama bonyoknya tapi dia usiiiil banget! Kejadian yang paling Nie inget adalah si cowok ini, anggap aja namanya Budi, melakukan hal saru (porno) menurut pandangan anak SMP.

Hari itu hujan rintik-rintik (yaiks, kayak apa aja!). Heheheh,.. ralat! Hari itu Budi duduk tepat di belakang Nie. Budi lagi bangga akan penggaris panjangnya yang didapat dari ayah dan bunda (walah,.. opo seh!). Trus, di kala guru sedang menerangkan dengan seriusnya, tiba-tiba! Ctaaarrr!!!

Si Budi menggunakan penggaris panjangnya untuk menarik tali BH (waktu itu masih pake mini set) Nie dari belakang! Itu adalah kejad…

Korban Gagal Move On

Sudah lebih dari 1 bulan semenjak saya mengunggah tulisan saya lagi di Facebook dan blog, atas dukungan Ega. Dan sudah lebih dari 1 bulan juga saya absen nulis. Well, janji tinggallah janji.

Tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, right? Daripada kita off topic, mendingan saya ceritakan alasan saya tiba-tiba menghilang dr dunia socmed. Well, bukan menghilang, tp lay low. Tp ada temen yang sampek nyangka saya deactivate account gara-gara jarang eksis.

Sejak sebelum lebaran, saya diminta boss untuk bantuin mengecek budget marketing untuk tahun depan. Well, how hard can it be? Boss bilang saya disuruh ngecek semua angka match up dan itung2annya bener. Ok sip!

Ternyata job description 'membantu' itu sangat ambigu, sodara-sodara. Yang ada, saya ikut mengerjakan budget itu dan semua teori akuntansi yang pernah saya pelajari dalam hidup, harus dikeluarkan.

Sayangnya, saya hampir tidak pernah belajar akuntansi. Waktu SMA, saya selalu bolos atau bahasa kerennya dulu &…

New Chapter: Different Focus

Tahun 2017 adalah sebuah halaman baru dari perjalanan hidup saya. Saya menikah di tahun 2012, memiliki anak pertama di tahun 2014. Bukan, saya tidak sedang mengumumkan hadirnya anak ke-2 (apalagi suami kedua 😜) seperti yang dipikirkan banyak orang. Saya ingin menceritakan keputusan besar yang saya ambil akhir tahun lalu.
Tahun lalu, tepatnya di bulan Desember, saya memutuskan untuk resign dari jabatan saya sebagai Head of Marketing di sebuah perusahaan retail terkemuka di Indonesia dan mengalihkan fokus saya untuk lebih menjadi seorang Mama untuk anak saya. Keputusan ini memang cukup mengejutkan, bahkan bagi saya sendiri, tetapi langkah ini adalah suatu keputusan yang sudah lama harusnya saya ambil.
Saya adalah seorang wanita karir, heart and soul. Bekerja adalah bagian hidup saya yang sudah ditanamkan dari muda. Waktu saya masih duduk di sekolah dasar, di saat liburan sekolah, dimana banyak teman yang berlibur, saya sering 'berlibur' di perpustakaan atau kantor di tempat Mama …