Skip to main content

2 Jenis Student - kamu yang mana?


Menjadi student lagi di Belanda, Oma melihat beberapa realita; ada realita baru, ada realita lama yang terulang kembali. Tapi semuanya menarik, semuanya worth thinking over


Di kalangan Master students dari Indonesia, seperti Oma, ada dua jenis student: scholarship and self-financed. This year, students yang ada di the Hague kebanyakan adalah mereka yang beruntung mendapat beasiswa. Kayaknya cuma ada 4 students aja yang self-financed, termasuk Oma.

Some days ago, ada seorang teman yang mengatakan "Oma di sini self-financed atau beasiswa?"

Oma: self-financed, mas. Unfortunately. Susah dapetin beasiswa.
Mas Tono (bukan nama sebenarnya): Ah, tapi lebih baik self-financed, Oma. Kita jadi lebih bisa menghargai uang, so, ndak seenaknya aja menghamburkan uang.

Ada benarnya, kali ya? Oma baru saja melihat realita ini, mungkin karena dulu pas kuliah S1 ndak ada yang dapet full scholarship. Sekarang, melihat teman-teman yang actually lucky enough to get the scholarship, malah menghambur-hamburkan kesempatan yang mereka dapat. They are silly enough to waste the chance.

Benar juga kata Mas Tono, mungkin kalo self-financed seperti Oma, every cent is worthy. Makan aja mikir cari yang murah muraaah.

Eits, tapi ndak semua anak scholarship seperti itu lho, ada yang benar-benar menghargai every cent they receive dan make the most of it. Good for you!

And then we move to Bachelor students dari Indonesia. Lagi-lagi ada dua jenis student, I will call the first one is student yang jalannya lurus dan, the second is student yang jalannya berkelok-kelok.

Kenapa Oma mengidentifikasi dua jenis student ini dengan bentuk/pola jalan? karena jalan, gimanapun bentuknya, akan menuntun mereka ke sebuah tujuan yang sama (hopefully).

Student yang berjalan lurus, adalah mereka yang datang ke negeri kincir angin ini purely untuk belajar dan mencari pengalaman. Mereka siap ditempa, dibentuk untuk menjadi pribadi yang lebih baik - dengan apapun caranya. Mereka inilah yang rela cari kerja part-time, membabu-buta di malam hari; belajar dengan giat, hardly miss the deadlines, dan pecinta diskon! Heheheh,.. jadi ingat-ingat masa kuliah Bachelor dulu (ya ga, ulm?).

Yang kedua, jenis yang berkelok-kelok. Mereka datang dengan sebuah motivasi, yang pastinya BUKAN untuk belajar. Mencari pengalaman, memang iya, tapi pengalaman apa? only God knows! Mereka study not hard, but party verryy hard. Cewek-ceweknya ikutan merokok, BUT dengan gaya please-look-at-me-I-am-smoking, yang jelas-jelas membuat mereka terlihat bukan seperti natural or social smoker, tapi look more like a show-off smoker. They smoke supaya terlihat cooool!! Gaya mereka lebih Belanda dari pada orang Belanda asli. As they party hard, they shop hard juga. Kebiasaan di Indo dibawa sampai sini. Belanja barang-barang merek, menenteng-nenteng tas yang harganya puluhan juta rupiah, dan beli baju and accessories yang unnecessary tiap kali kalo diundang party. Again, semua ini dilakukan untuk show-off. Finally, ini adalah sebuah fakta yang baru Oma dengar tadi siang, students jenis ini sangat suka menyebutkan asal-usul keluarganya: bapak gue sapa, nyokap gue sapa, gue keponakan bapak menteri sapa, kakek gue dulu kepala apa di mana, en so on, en so on.

Bahkan, ada sebuah sumber yang mengatakan bahwa kalo lagi party (baca: dugem), persiiss seperti yang kita lihat di TV. Ada cewek-cewek yang bertengkar memperebutkan seorang cowok, sampek siram-siraman minuman dan bentak-bentakan. Ada yang langsung one night stand. Ada yang langsung kissing and making out ama cowok bule yang baru dikenal. Ada yang malamnya tiba-tiba pulang ama cowok tak dikenal. Weleh,... kalo tau gini ngga usa nonton Gossip girl atau One Tree Hill ya? hehehheeh :P

Student jenis berkelok-kelok ini adalah sebuah fenomena baru. Dulu, segila-gilanya temen-temen Oma, ndak sampek segininya. We did party some times. Some of us did smoke. Some of us liked shopping and dressing up. Tapi, at least, they were not going mad. We still loved our study, rite?

Hm,.. anyway, busway, at least these two kinds of Bachelor students have similar goal: to graduate as a Bachelor student. Ya kan?

So, if you are a student, which one are you? Semoga Anda berada di posisi yang benar.

Selamat belajar, students.


Anyway, ini ada foto Oma bersama teman-teman abis pulang kelas. Background: Kampus the Hague University


Dan yang ini foto Bang Tepy bersama teman-temannya di Breda


Comments

the mouse said…
*merasa terpanggil*
"iya niaaaaa.." =D

euhm trus yg biasanya anak master beasiswa trs ngirit, tu krn punya "tujuan lain" -> menabung untuk masa depan, or krn udh punya anak istri, uang beasiswa dihemat2 biar bisa dikirim k indo...
Bos HRD :) said…
Halo Niaaa....kasi komen bole yaaa... (Abis lunch kok jadi tiba2 pengen buka blog Nia.) Yg jelas Nia termasuk student yg very blessed...meskipun self-financed bisa sekolah di LN. Hahaha...soalnya sirik ini liat poto Nia dgn background campus disono. Miss you...

Popular posts from this blog

Cerita lucu tentang Bra!

Bra or orang-orang Indonesia lebih akrab dengan sebutan be-ha.

Kayaknya lucu deh ngobrolin tentang bra! Asal ngobrolinnya masih dalam batasan norma-norma dan tidak mengandung dirty joking a la American Pie or eXtra Large (American Pie versi Indonesia).

Punya ngga sih pengalaman lucu seputar bra?
Nie ada!
Waktu masih duduk di bangku SMP, Nie punya temen sekelas yang rese abis! Ngga tau dia dikasih makan apa ama bonyoknya tapi dia usiiiil banget! Kejadian yang paling Nie inget adalah si cowok ini, anggap aja namanya Budi, melakukan hal saru (porno) menurut pandangan anak SMP.

Hari itu hujan rintik-rintik (yaiks, kayak apa aja!). Heheheh,.. ralat! Hari itu Budi duduk tepat di belakang Nie. Budi lagi bangga akan penggaris panjangnya yang didapat dari ayah dan bunda (walah,.. opo seh!). Trus, di kala guru sedang menerangkan dengan seriusnya, tiba-tiba! Ctaaarrr!!!

Si Budi menggunakan penggaris panjangnya untuk menarik tali BH (waktu itu masih pake mini set) Nie dari belakang! Itu adalah kejad…

Korban Gagal Move On

Sudah lebih dari 1 bulan semenjak saya mengunggah tulisan saya lagi di Facebook dan blog, atas dukungan Ega. Dan sudah lebih dari 1 bulan juga saya absen nulis. Well, janji tinggallah janji.

Tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, right? Daripada kita off topic, mendingan saya ceritakan alasan saya tiba-tiba menghilang dr dunia socmed. Well, bukan menghilang, tp lay low. Tp ada temen yang sampek nyangka saya deactivate account gara-gara jarang eksis.

Sejak sebelum lebaran, saya diminta boss untuk bantuin mengecek budget marketing untuk tahun depan. Well, how hard can it be? Boss bilang saya disuruh ngecek semua angka match up dan itung2annya bener. Ok sip!

Ternyata job description 'membantu' itu sangat ambigu, sodara-sodara. Yang ada, saya ikut mengerjakan budget itu dan semua teori akuntansi yang pernah saya pelajari dalam hidup, harus dikeluarkan.

Sayangnya, saya hampir tidak pernah belajar akuntansi. Waktu SMA, saya selalu bolos atau bahasa kerennya dulu &…

New Chapter: Different Focus

Tahun 2017 adalah sebuah halaman baru dari perjalanan hidup saya. Saya menikah di tahun 2012, memiliki anak pertama di tahun 2014. Bukan, saya tidak sedang mengumumkan hadirnya anak ke-2 (apalagi suami kedua 😜) seperti yang dipikirkan banyak orang. Saya ingin menceritakan keputusan besar yang saya ambil akhir tahun lalu.
Tahun lalu, tepatnya di bulan Desember, saya memutuskan untuk resign dari jabatan saya sebagai Head of Marketing di sebuah perusahaan retail terkemuka di Indonesia dan mengalihkan fokus saya untuk lebih menjadi seorang Mama untuk anak saya. Keputusan ini memang cukup mengejutkan, bahkan bagi saya sendiri, tetapi langkah ini adalah suatu keputusan yang sudah lama harusnya saya ambil.
Saya adalah seorang wanita karir, heart and soul. Bekerja adalah bagian hidup saya yang sudah ditanamkan dari muda. Waktu saya masih duduk di sekolah dasar, di saat liburan sekolah, dimana banyak teman yang berlibur, saya sering 'berlibur' di perpustakaan atau kantor di tempat Mama …