Skip to main content

Counting Down - 8 days

I was actually planning on posting this last week. Ketika Oma menemukan secarik quote ini. Tapi, ternyata kok niat itu belum 100% muncul. Akhirnya, posting ini tersimpan di draft, hampir 2 minggu. Untunglah malam ini, di tengah menunggu bau obat nyamuk menghilang dari kamar, Oma tiba-tiba mood untuk nulis.

Beginnings are Scary, Endings are Usually Sad, but It's the middle that counts the most. Try to remember that (Memorable quote from Hope Floats)

Entah bagaimana Oma bisa menemukan quote ini (sudah lupa, tuh!), tapi yang pasti begitu membaca quote ini, hati Oma berdebar.
Dug dug,.. dug dug,...

*kok jadi kayak bedug?*


Aniwe, to be honest with you, kepergian Oma ke Belanda kali kedua ini sangat menakutkan. Bukan hanya menegangkan ya, karena kadang menegangkan can be a postive feeling: excitement. Tapi kali ini benar-benar fear, hesitation, worry. Pokoknya semua perasaan negatif tuh berkumpul menjadi satu.

Bukannya malah lebih enak, Oma? Oma kan uda pernah ke sana. Uda tau keadaan di sana. Ada temen-temen. Pokoknya nothing to be afraid of!

Mungkin begitu response kalian abis baca keluh kesah Oma di atas.

Actually, Oma bener-bener takut. Yes, Oma has been there. Not one month. Not one year. Not two years. but FOUR YEARS. And Oma has been in various situations: from a little broke until TOTALLY BROKE. Pernah tuh yang ngalamin uang di bank minus sampai beberapa puluh Euro.

Dan kali ini, Oma harus pergi, meskipun cuma 1 tahun, tanpa beasiswa. Walaupun uang kuliah sudah terbayar, tapi Oma hidup pake apa???

Itulah yang Oma takutkan.

Without any purpose to scare you, nor to nag, but Oma pengen cerita tentang sebuah situasi ketika Oma totally broke and the currency was totally not friendly, at all! Yeah, peristiwa ini terjadi ketika Oma berada di England. Poundsterling was realllyyy killing (and is still killing now!). I didn't have a job and my parents were unhappy about my situation.

So, Oma yang berhati mulia, tidak ingin menyusahkan orang tua (wow, it rhymes!); so Oma decided to not shop; thus not eat proper food. Jadi, daily, Oma cuma makan tea biscuit, kalo orang Inggris bilang, jadi tea biscuits tuh modelnya kayak kue marie. En sometimes, kalo Oma lagi bener-bener laper, Oma akan beli roti tawar yg paling murah dan kentang. And coffee, of course, was a must!

Sampai Oma dapet kerjaan di sebuah Pub & resto, I basically only ate these few items. Kecuali kalo, thank God, diundang ama orang gereja atau pas makan malam sesuah Bible Study, atau kalo ada temen yang birthday. So, kurang lebih 2 -3 bulan Oma hidup dengan 'lifestyle' seperti ini.

Jujur, Oma sangat takut harus go through this rough time again.

Fewh,... tough, huh?

Yap, Oma sangat takut. As it is written above, beginnings are scary. Yep, indeed scary! Dengan tidak ada kepastian bahwa Oma bakal dapet proper part-time job, or proper internship, or whether my parents can continually and constanly send enough money. Oma sangat takut.

Untunglah, ada seseorang yang bisa kasih Oma kepastian. Yang bikin Oma ndak ragu, walaupun kadang-kadang syndrome takutisme masih menyerang, meskipun banyak hal yang ndak pasti.

Ya, Oma ingat dan akan selalu ingat bahwa Oma punya Tuhan. Tuhan Oma sudah membawa Oma sampai this far. Awalnya ndak jadi berangkat, eh tiba-tiba ada (alm) Oma yang bersedia menjadi sponsor tunggal uang kuliah. Semua urusan visa dan passport diperlancar. Urusan kantor diperlancar sehingga Oma pun resigned dengan tenang. Dan semua urusan Bang Tepy pun juga beres. Yap, dan ini, next week, Oma akan berangkat.

So,.. if I am already this far, Oma yakin, Tuhan pasti akan terus dan terus menuntun Oma.

Jadi ingat ayat yang bilang bahwa Ravens (terjemahan bhs Indo = burung pipit. tapi sebenarnya Ravens adalah burung yang paling rendah 'kasta'nya. Jadi paling hina dina deh!) aja dipelihara, dikasih makan. Bunga bakung juga dikasih 'pakaian' paling indah, dirawat dan dikasih makan juga. Mosok Oma, manusia cantik (eh, kata Bang Tepy manis, ding!), smart, pinter, berbakat, keren,.... lho kok jadi narsis? Back to the point, mosok Oma yang manusia gini, tidak dipelihara ama Tuhan.

Ya khan?

I think I will make my own quote. Beginnings are scary, Endings are uncertain, yet it's my God that counts the most. Remember that!

Ayo, semua katakan bersama-sama buat Oma "Good luck, Oma!"

Thank you :)

OOT, di film Hope Floats ini ada satu lagi memorable quote:

You know, I always thought I was gonna be, I don't know, special. But I'm not. I'm just... I'm just an ordinary person. And that's OK. Because... you make me special. Don't you know that? Don't you know that you're everything in this world to me? And we're gonna make it through this because we are a team... So don't you ever think about leaving me again... because I need you. I love you.

Comments

nonadita said…
Salam kenal ya, Oma!

Wah kisah hidupmu menarik sekali. Sampai sekarang saya masih memimpikan bisa tinggal (dan bersekolah atau bekerja) di luar negeri. Namun bahkan singgah sebentar pun belum. Saya ngiri lhoo! Hehe..

Semoga di sana sehat2 ya, pengalaman yang tidak membunuhmu hanya akan membuatmu semakin kuat. Yes, you'll be better tomorrow :D
nez said…
ngomongin makanan disaat kere, jangan lupain RIJSTWAFFEL nie.. hihihihi

Popular posts from this blog

Cerita lucu tentang Bra!

Bra or orang-orang Indonesia lebih akrab dengan sebutan be-ha.

Kayaknya lucu deh ngobrolin tentang bra! Asal ngobrolinnya masih dalam batasan norma-norma dan tidak mengandung dirty joking a la American Pie or eXtra Large (American Pie versi Indonesia).

Punya ngga sih pengalaman lucu seputar bra?
Nie ada!
Waktu masih duduk di bangku SMP, Nie punya temen sekelas yang rese abis! Ngga tau dia dikasih makan apa ama bonyoknya tapi dia usiiiil banget! Kejadian yang paling Nie inget adalah si cowok ini, anggap aja namanya Budi, melakukan hal saru (porno) menurut pandangan anak SMP.

Hari itu hujan rintik-rintik (yaiks, kayak apa aja!). Heheheh,.. ralat! Hari itu Budi duduk tepat di belakang Nie. Budi lagi bangga akan penggaris panjangnya yang didapat dari ayah dan bunda (walah,.. opo seh!). Trus, di kala guru sedang menerangkan dengan seriusnya, tiba-tiba! Ctaaarrr!!!

Si Budi menggunakan penggaris panjangnya untuk menarik tali BH (waktu itu masih pake mini set) Nie dari belakang! Itu adalah kejad…

Korban Gagal Move On

Sudah lebih dari 1 bulan semenjak saya mengunggah tulisan saya lagi di Facebook dan blog, atas dukungan Ega. Dan sudah lebih dari 1 bulan juga saya absen nulis. Well, janji tinggallah janji.

Tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, right? Daripada kita off topic, mendingan saya ceritakan alasan saya tiba-tiba menghilang dr dunia socmed. Well, bukan menghilang, tp lay low. Tp ada temen yang sampek nyangka saya deactivate account gara-gara jarang eksis.

Sejak sebelum lebaran, saya diminta boss untuk bantuin mengecek budget marketing untuk tahun depan. Well, how hard can it be? Boss bilang saya disuruh ngecek semua angka match up dan itung2annya bener. Ok sip!

Ternyata job description 'membantu' itu sangat ambigu, sodara-sodara. Yang ada, saya ikut mengerjakan budget itu dan semua teori akuntansi yang pernah saya pelajari dalam hidup, harus dikeluarkan.

Sayangnya, saya hampir tidak pernah belajar akuntansi. Waktu SMA, saya selalu bolos atau bahasa kerennya dulu &…

New Chapter: Different Focus

Tahun 2017 adalah sebuah halaman baru dari perjalanan hidup saya. Saya menikah di tahun 2012, memiliki anak pertama di tahun 2014. Bukan, saya tidak sedang mengumumkan hadirnya anak ke-2 (apalagi suami kedua 😜) seperti yang dipikirkan banyak orang. Saya ingin menceritakan keputusan besar yang saya ambil akhir tahun lalu.
Tahun lalu, tepatnya di bulan Desember, saya memutuskan untuk resign dari jabatan saya sebagai Head of Marketing di sebuah perusahaan retail terkemuka di Indonesia dan mengalihkan fokus saya untuk lebih menjadi seorang Mama untuk anak saya. Keputusan ini memang cukup mengejutkan, bahkan bagi saya sendiri, tetapi langkah ini adalah suatu keputusan yang sudah lama harusnya saya ambil.
Saya adalah seorang wanita karir, heart and soul. Bekerja adalah bagian hidup saya yang sudah ditanamkan dari muda. Waktu saya masih duduk di sekolah dasar, di saat liburan sekolah, dimana banyak teman yang berlibur, saya sering 'berlibur' di perpustakaan atau kantor di tempat Mama …